Kamis, 31 Oktober 2024

Koki butuh matematika

 Tentang cita-cita, semua orang pasti pernah mendamba 1 masa depan yang indah yang didalamnya dia nyaman dan hidup. Apalagi jika kita menanyakan perihal itu kepada anak-anak, tentu mereka juga mereka impiannya dimasa depan dengan segala pemikiran polos khas anak-anaknya.

Kali ini aku ingin bercerita tentang kisahku dengan 1 anak muridku, si MW. Sependek yang telah kuamati sejauh ini, MWmemang agak terlambat dari teman-temannya, baik dalam bahasa maupun kemampuan numerasasinya.

Namun siang itu, di jam istrahat dia meminta waktuku untuk menjawab keresahan hatinya. Kebetulan kami baru selesai belajar soal matematika yang didalamnya secara tersirat ada +,-,: dan ×. "Ibu guru, ajar sa, sa bingung"." Dibagian mana kamu bingung?"Tanyaku. "Ibu, semua". Aku sedikit kecewa mendengar pengakuan itu, tetapi ku coba menjelajahi pikirannya. "Ibu, soal panjang sampe, aa bingung kenapa buat soal panjang-panjang" Setelah kalimat pengakuan itu aku seperti mendapat ide.

"Oke, MW, Ibu guru mau tanya, kamu punya cita-cita? Kalau su besar, kamu mau jadi apa?" Dengan semangat dan mengacungkan telunjuk ke atas dia menjawab "Jadi koki" "Oh, jadi koki, baik su. Koki kerjanya buat apa?""Ibu, memasak toh". "Betul, koki memasak, tapi bukan sembarang memasak anakku. Koki harus bisa mengatur berapa banyak rica, bawang, minyak dll saat membuat satu masakan. Dan kamu tahu, koki koki itu mengggunakan matematika." "Masak tinggal masak toh Ibu, tra pakai matematika" jawabnya menimpali. "Kamu dengar Ibu ya, saat koki memasak dia harus bisa hitung akan memasak apa, berapa banyak, kapan, dan untuk berapa orang. Jadi kalau seorang koki tidak belajar matematika,apa yang terjadi?""Ibu, tidak karuan". "Nah, itu kamu tau. Sesederhana menambah garam, menghitung jumlah potongan daging, berapa lama memasak dan akan diberi untuk berapa orang, itu semua dengan bantuan matematika." "OHHHHH..., Ibu bantu sa, sa mau jadi koki" Lalu dia menyodorkan catatannya. Dia memintaku menjelaskan kembali materi soal cerita. Tentu aku senang, karena anak muridku baru saja belajar hal baru dari apa yang dipikirkannya. 

Semoga suatu hari nanti kamu berhasil ya Nak. 

Ingin makan PIZZA

Waktu istrahat bukan hanya kesenangan buat anak didik, tetapi untuk guru juga. Setidaknya ada waktu untuk menghela napas panjang dari sepersekian hari yang sangat menguras energi.

Saat aku sedang menikmati waktu nan singkat itu, tiba-tiba salah satu anak didikku berlari masuk ke kelas entah dari mana. "Ibu saya pu makanan kesukaan tu Pizza"

"Kamu sudah pernah makan?"

"Belum Ibu"

"Lalu, bagaimana kamu tau kamu suka Pizza?"

"Sa lihat gambar ibu, macam enak sa. Suatu hari saya akan makan itu barang Ibu"

Berseteru seperti anak kecil

Ceritaku kali ini tentang dua orang anak didikku, kelas 1 SD, sebut saja R dan V. Kedua anak ini sering berbeda pendapat entah untuk hal sederhanapun, ya namanya juga anak kecil. Tetapi kuakui, sependek pemahamanku dengan dunia mereka yang tidak akan jauh dari kata bermain, mereka adalah dua anak yang cukup kritis, sering bertanya pun serius.
Pada satu waktu mereka kembali bersitegang entah karena apa, akupun tidak begitu yakin. Yang pasti si R menangis, pun si V. Menurut pengakuan mereka Kakak si V membela adiknya (V) lantas membuat tangis si R pecah, sepertinya memang ada sedikit sentuhan fisik. Aku berusaha menenangkan kedua muridku tersebut, tetapi bukannya mereda malah tangis mereka berdua semakin kencang bersahutan. Akupun sebagai guru tentunya butuh waktu untuk berpikir. Ku tinggalkan mereka dengan sisa rengekannya. 
Aku kembali ke kelas, kebetulan barang bawaanku lumayan banyak. Saat keluar dari pintu, mereka menatapku sekilas, sempat beradu pandang lalu dengan sigap menolongku membawakan barang-barang. Aku kaget pastinya walaupun sudah biasa akan pertongan anak-anak didikku.
Ku biarkan mereka menentukan aksinya. Aku berada dibelakang mereka,kesempatan besar untuk mengamati.
Satu hal yang membuatku terharu dan tertegun, saat kedua anakku tersebut saling tolong saat akan menaiki tangga dapur, bahkan dengan tulus memberi dan menerima pertongan yang mengharuskan mereka saling berjabat. 
Derap langkahku ku pelankan saat mendekati anak tangga. Ku dengar kalimat ajaib itu "terimakasih-sama-sama"dengan malu malu mereka bersalaman saling bermaafan. Saat mereka melihatku, lumayan kaku karna merasa ketahuan hahahha. Setelah itu aku menggoda mereka. "Oh sudah baikan? Baik su" kataku sambil tersenyum. Meteka membalas dengan tawa dan baku rangkul. 
Aku senang melihat pemandangan itu. Terimakasih anak-anakku. Pelajaran berharga untuk Ibu. BERSETERU SEPERTI ANAK KECIL. Ya, luapkan emosimu, setelah itu berdamai dan kembali berteman. 


Kamis, 17 Oktober 2024

Tuyul adalah jenis pekerjaan penghasil barang

 Hari itu saya mengajarkan anak-anak didik saya mengenai profesi arau pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa.

Setelah pemberian beberapa contoh dan penjelasan, saya meresa anak-anak sudah mengerti karena wajah mereka sangat antusias dan bersemangat menyebutkan profesi-profesi pujaannya di masa depan. 

Namun, tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba anak didikku, Yapet Urbon nyeletuk "Ibu, tuyul itu pekerjaan yang menghasilkan barang kan? Seketika kelas riuh oleh tawa teman-temannya. Aku sebagai guru berusaha tampak netral walau menahan geli dan gelak yang terkungkung di perut. Aku hanya membalasnya dengan senyum, lagi seketika Yapet menyambar lagi "Ibu, iyo, tuyulkan menghasilkan uang dan harta" Aku melihat raut kepolosan di wajah anakku ini, terlihat temannya yang lain juga seakan menunggu responku . Aku memberi pengertian untuk mereka bahwa tuyu bukannlah pekerjaan, itu hanya penyalagunaan orang-orang yang memilih jalan pintas dengan cara tidak baik dan menduakan Tuhan.

Sempat debat alot, beruntungnya aku bisa meyakinkan mereka. Haduhhh, memang anak didikku ini tidak bisa ditebak, bisa-bisanya dia berpikir sampai sejauh itu, bahkan aku saja tidak terpikir hal kekeh itu wkwkkwkw...

Sepenuhnya percaya