Selasa, 28 Oktober 2025

Ku berharga bagiMu

Saat ku merasa tiada lagi kasih

Salibmu buktikan kasih terbesar yang pernah ada

Saat ku merasa tiada lagi cinta

KaryaMu buktikan cinta terdalam yang pernah ada


Darah yang tertumpah di bukit Golgota

Bukti cinta kasih tuk dunia

NyawaMu gantikan hidupku yang dosa

PengorbananMu ada dan nyata


TerimakasihKu takkan cukup

Tuk balas setiap kebaikanMu

Kau tebus lunas hidupku 

melebihi semua yang ada

karna ku berharga bagiMu

Ini aku

Ku datang dihadiratMu

Membawa segnap hidup

Ku ingini dekat denganMu

Rasakan ketenangan


Kau arahkan pandangMu

Menilik jauh ke dalam

Lubuk hatiku ini

Kau selami tiada tersembunyi


Ini aku kau kenal diriku

Melebihi yang aku tahu tentangku

Kau yang memilihku

Sedari dulu


Ini aku datang dengan hati

Menyembah memuji kebesaran namaMu

Ku tahu Engkau takkan berpaling 

Ku tahu Engkau takkan berdalih

Ku tahu Engkau tak biarkan ku sendiri

Aku sayang Ibu

 Satu-satunya aku sayang Ibu. Dua-dua juga sayang Ayah. Tiga-tiga sayang Adik Kakak. Satu, dua, tiga sayang semuanya. 

Lagu anak-anak yang sudah sangat familiar di telinga. 

Pagi itu, Yance menyanyikannya di teras gereja, persis setelah jam MCK Paskah Camp. Dengan tampilan yang sudah bersih dan rapi, dia menyanyi dengan semangatnya. 

Kebetulan aku lewat saat itu. Aku memperhatikan raut wajahnya yang ceria dan bertepuk tangan mengapresiasi caranya menyambut hari. 

Iseng aku bertanya, "Yance sayang Ibu yang mana? "

Tahu apa responnya? 

"Sayang Ibu toh. Ibu guru".

Wajahku tersipu, sedikit merona. 

Pagi-pagi su dapat kata-kata manis dari anak kecil. 

Ku harap bukan sekadar kata-kata manis. Penguatan untuk percaya ucapan anak-anak Banyak jujurnya walaupun Yance terkenal dengan jiwa hamburnya (gombal) 

Hahahha

Cokelat dari Pau

 Sore yang teduh, aku duduk di teras kopel sambil menonton tutorial rajut yang sudah ku download saat di spot jaringan. Yap, saat itu jaringan di centerku lepuh, dan hanya berharap dari starlink desa sebelah. Sekali sebulan saja kesempatan menikmati jaringan, so aku tidak mau menyia-nykakannya. Download apa yang kau di download, dsb. 

Di tengah keseriusan menonton, Paulina datang menghampiri lalu mengambil posisi duduk di sebelahku. Awalnya aku sedikit abai sampai dia menegur dan mulai berbagi cerita. 

"Ibu, tadi a pu Bapa dapat babi, besok mau antar jual ke kota. A izin tidak masuk sekolah e Ibu. Satu hari lahir, boleh Ibu? ". Paulina anak didikku yg masih PAUD meminta izin untuk ikut orangtuanya ke kota, menjual babi hasil jerat. 

" Oh, boleh toh Pau"

Dia tersenyum simpul saat itu lalu kembali buka suara. 

"Nanti A kasih Ibu cokelat, tapi kal su sampe kampung ya Ibu".

Janji anak-anak pikirku. Dia berjanji pun menawari. Yowes tak iyain. 

" Oke Pau".

Kemudian Pau mohon diri untuk menyimpan (beberes pakaian yg akan dibawa ke kota). 


Long short story, besoknya Pau kembali. Seperti janjinya, dia membawa cokelat. Cokelat beneran, maksudku kakao. Disini biasa disebut buah cokelat. 

Dengan langkah gontai dan senyum khasnya, Pau menghampiriku dengan menenteng 2 buah cokelat di dalam kresek putih. Sungguh jelas sekali siluet buah itu. 

Dia menyerahkan sebagai hadiah dan janjinya. 

Aku terharu, Pau menepati janjinya. Mungkin saja ekspektasinyaku yang terlalu jauh, karna ingat bawa cokelat dari kota, minimal permen Cadbury. Silverqueen terlalu mewah. 

Makasih Pau. 

Sore itu sebelum langit mengeluarkan seluruh jingganya, aku dan dan Pau menikmati cokelat berkat. Dia benar-benar jujur, cokelat itu memang dari kota. Entah siapa yang memberi atau menjual, yang pasti anak ini mengajariku sesuatu yang berharga. 


Otakku kenapa?

"Kemarin-kemarin aku selalu ingat. Kenapa pas ujian tidak ingat. Ini otakku kenapa Ibu?"

Kalimat yang jadi celetukan memorable dari seorang Doli, murid kelas VI ku. Yap, saat itu mereka menghadapi USBN. 

Sudah barang tentu setiap soal datang dengan tingkat kerumitannya sendiri. Apalagi jika sudah berhadapan dengan Matematika. Wah, apa nggak menyala otak. 

Pandanganku menyisir setiap sudut ruangan saat mengawas. Pun mata ikut merekam setiap gerakan anak-anak, terlebih raut wajah mereka yang selalu menggambarkan suasana hati. 

Mataku menangkap gerak-gerik Doli, siswaku yang duduk di baris kedua, di sudut kelas. Dia tampak bingung dan gelisah. 

Aku menghampiri nya, menanyakan ada apa. 

Dia menunjuk satu soal pilihan ganda mapel matematika. "Kemarin-kemarin aku selalu ingat. Kenapa pas ujian tidak ingat. Ini otakku kenapa Ibu? "

Mulut seakan mau merespon cepat "Ibu mana tahu nakku." Untungnya lisan itu tertahan. Aku meyakinkan dia untuk pelan-pelan jangan terlalu memaksa. Waktu masih panjang, dan saranku kerjakan soal yg dianggap gampang duluan. Ya, itu starmteginya. Beruntung Doli paham maksudku. 

Saat itu aku mengerti bahwa anak didikku ini benar-benar mengusahakn yang terbaik untuk hasil ujiannya. 


Pulpen terbang

 Pulpen terbang 

Ibu guru marah soft spoken ala Logat Medan

Dengan tatapan tajam

Kamu sudah pernah lihat pulpen terbang walau tdk punya sayap? 

Seketika murid-murid terdiam. Namun tiba-tiba ada satu ada yg menjawab tidak Ibu. 

Seluruh mata tertuju ke dia


Long short story, Imanuel datang ke Ibu guru memperlihatkan pulpen dgn sayap buatannya persis menyerupai pesawat. "Ibu kalau pulpen begini bisa terbang to, su ada sayap"

Ibu guru 🤣🤣

Bingung mau berkata apa. Mau bilang tidak, tapi iya. 

Lebih dari

Saat ku ingini pelangi

Kau turunkan hujan

Saat kuingini melati

Kau beriku taman. 


Lebih dari yang kuingini

Kau berikan

Lebih dari yang kupikirkan

Kau sediakan


Walau kadang ku tak mengerti

Jalan yang Kau sediakan

Ku ingkari ku sangkal hatiku

Namun kau tepati janji Mu


Kau bekerja, selalu bekerja

Di luar batas pikiranku

Kau jadikan indah terlebih indah

Untukku

Perempuan tidak pernah salah

Hari itu adalah hari pertama anak-anak feeding bubur kacang hijau. Sebelumnya, mereka hanya mendapat jatah biskuit, susu dan sereal. Bisa dibilang hari pertama ini adalah spesial. Itu sebabnya, kami akan meminta pendapat anak-anak mengenai menu baru feeding. 

Beberapa anak sudah memberi pendapatnya. So far so good. Tidak ada yang membuat pikiran atau apalah. Sampai kami meminta tanggapan Rehan, anak kelas 2 yang nampaknya sangat menikmati bubur feeding. 

"Rehan, ibu mau tanya pendapat kamu tentang feeding hari ini" Tanya Bu guru seraya mengatur fokus kamera untuk merekam tanggapan. Rehan yang asyik menikmati makanannya sempat menghentikan aktivitas makan lalu menatap kamera yang statusnya on, bak artis yang diminta buka suara. 

"Ibu, menurut sa buburnya sedikit kental. Tapi tra apa-apa, bukan Ibu pu salah. Kacang hijau pu salah Ibu".

Seketika wajahku seperti merah padam, merasa digombalin. Aku tidak yakin untuk mengunggah pendapat rehan kali ini sebagai laporan. 

Apa ini salah satu bukti bahwa perempuan tidak pernah salah?? 

Hahhaa


Rabu, 22 Oktober 2025

Sapi USBN

Ilustrasi memang tidak selalu seperti kenyataan. Entah itu melebih-lebihkan ataupun sebaliknya. 


Pagi itu suasana cukup tenang. Ini adalah USBN hari kedua, jelas tidak sedegdegan hari pertama. 

Aku yang berjalan menyusuri setiap bangku sesuai nomor absen tiba-tiba saja terdistraksi oleh ekspresi salah satu muridku, Levina. 

Lama kuperhatikan, dia seperti bertanya dalam hati. 

Akhirnya kulangkahkan kakiku menuju meja ujiannya

Benar saja, dia sedang mengamati ilustrasi hewan herbivora yang sudah sangat familiar, sapi. 

Tidak ada yang salah ataupun aneh menurutku. Tapi aku memastikan dengan bertanya "ada apa Levina? "

Dan jawaban serius yang harusnya kudapati, malah terkesan sebaliknya.. 

Dia mengarahkan jemarinya menunjuk gambar sapi dengan celetukan khasnya


Bagaimana bisa sapi ini gemuk dan senyum Ibu? Sapi mana bisa senyum. 

Mungkin sapi gemuk, dia bisa terima. Tetapi tentang sapi tersenyum, nampaknya dia tidak bisa menerima itu. 


Aku pandang anak didikku ini sejenak. Lalu, aku berbisik pelan "Nak, ini hanya ilustrasi. Tidak ada masalah dengan ekspresi nya".


Dalam hatiku berisik. " Ada-ada saja"

Sepenuhnya percaya