Sore yang teduh, aku duduk di teras kopel sambil menonton tutorial rajut yang sudah ku download saat di spot jaringan. Yap, saat itu jaringan di centerku lepuh, dan hanya berharap dari starlink desa sebelah. Sekali sebulan saja kesempatan menikmati jaringan, so aku tidak mau menyia-nykakannya. Download apa yang kau di download, dsb.
Di tengah keseriusan menonton, Paulina datang menghampiri lalu mengambil posisi duduk di sebelahku. Awalnya aku sedikit abai sampai dia menegur dan mulai berbagi cerita.
"Ibu, tadi a pu Bapa dapat babi, besok mau antar jual ke kota. A izin tidak masuk sekolah e Ibu. Satu hari lahir, boleh Ibu? ". Paulina anak didikku yg masih PAUD meminta izin untuk ikut orangtuanya ke kota, menjual babi hasil jerat.
" Oh, boleh toh Pau"
Dia tersenyum simpul saat itu lalu kembali buka suara.
"Nanti A kasih Ibu cokelat, tapi kal su sampe kampung ya Ibu".
Janji anak-anak pikirku. Dia berjanji pun menawari. Yowes tak iyain.
" Oke Pau".
Kemudian Pau mohon diri untuk menyimpan (beberes pakaian yg akan dibawa ke kota).
Long short story, besoknya Pau kembali. Seperti janjinya, dia membawa cokelat. Cokelat beneran, maksudku kakao. Disini biasa disebut buah cokelat.
Dengan langkah gontai dan senyum khasnya, Pau menghampiriku dengan menenteng 2 buah cokelat di dalam kresek putih. Sungguh jelas sekali siluet buah itu.
Dia menyerahkan sebagai hadiah dan janjinya.
Aku terharu, Pau menepati janjinya. Mungkin saja ekspektasinyaku yang terlalu jauh, karna ingat bawa cokelat dari kota, minimal permen Cadbury. Silverqueen terlalu mewah.
Makasih Pau.
Sore itu sebelum langit mengeluarkan seluruh jingganya, aku dan dan Pau menikmati cokelat berkat. Dia benar-benar jujur, cokelat itu memang dari kota. Entah siapa yang memberi atau menjual, yang pasti anak ini mengajariku sesuatu yang berharga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar