Kamis, 27 November 2025
Natal = baju baru?
Rabu, 26 November 2025
Untukmu guruku
Puisi ini kutulis di tanggal 3 Oktober, di atas perahu merah kesayangan kami para guru UTP di Nabire. Aku meresa sukacita saat korwil memintaku menuliskan puisi yang akan menjadi naskah lomba menyambut HGN ke 80 di bulan November nantinya.
Aku pun merasa terhormat, saat anak-anak itu membacakan puisi sederhana ini di depan puluhan pasang mata yang melihat mereka. Di hadapan juri serta guru-guru mereka.
Bak ungkapan hati yang sampai ke hati karena dibaca dengan hati, bukan lagi mulut.
Untumu guruku
By: Vera Simbolon
Di depan kelas, di hadapan anak didikmu
Kau bagikan sebongkah ilmu, setiap hari, setiap waktu
Menuliskan setiap larik pelajaran
Melukiskan setiap baris pengalaman
Di papan sepetak yang kadang harus dibagi jadi tiga
Entah sudah sekering apa dahaga
Saat kau temui ilmu yang kau beri, sukar dimengerti
Entah sudah berapa banyak keluh, saat kau dapati kami tak kunjung mendapat poin sepuluh
Guruku...
Maaf pabila kesal datang merusak harimu
Maaf pabila lelah, keras menekan bahumu
Maaf pabila kami merubah air wajahmu
Untukmu guruku...
Ini terimakasihku, ungkapan cinta dari hati
Biar sinar kehidupan yang kau beri terus menerangi perjalanan citaku
Sampai aku menjemputnya teriring doa dan restumu.
Terimakasih anak-anak hebat dari Goni, Napan Yaur dan Yeretuar yang sudah menggemakan puisi ini di bumi Yeretuar.
Puisi ini untuk semua guru-guru hebat di Indonesia.
Guru hebat, Indonesia Kuat
Selamat Hari Guru.
Senin, 24 November 2025
Tra bisa tipu
Pagi ini aku memang berencana membagikan kisi-kisi ujian semester ganjil. Pikiran nya agar anak-anak juga persiapan dan belajar di rumah. Kisi-kisi yg kumaksudkan adalah garis besar atau topik pembelajaran, dan semuanya sudah dipelajari..
Dimulai dari dari mata pelajaran IPA. Ada satu topik yang menurutku sudah sangat jelas karena materi ini kesinambungan dari semester sebelumnya, yaitu adaptasi makhluk hidup.
Salah satu contoh dari perilaku unik mahkluk hidup yang beradaptasi terhadap lingkungan maupun serangan musuh yaitu cecak. Yap, sudah tidak asing lagi, cerita si cecak ini dari zaman Soeharto juga seperti sudah dicekoki dalam buku teks pelajaran.
Tetapi ternyata, teori yang dibaca dalam buku tidak selalu harus diterima bulat-bulat. Ya, namanya juga sains, perlu dibuktikan walaupun tidak semua orang sekurangkerjaan itu.
Kali ini, cerita unik muncul dari salah satu anak didikku, Yunus. Barangkali dia mampu dengan percaya dirinya menyatakan suatu kesaksian karena sudah membuktikan. Saat anak-anak lainnya hanya menyalin dan mengiyakan satu teori, Yunus malah lebih tertantang membuktikan teori itu.
Satu kali aku membuat soal, sangat sadar bahwa ranah yang disentuh oleh soal itu barulah mengingat. Sekadar memori.
Bagaimana cara cecak melindungi diri dari musuh?
99% akan menjawab 'dengan memutuskan ekornya (autotomi). Tidak salah, malah poin 100.
Tiba-tiba disenyapnya kelas, Yunus mengangkat tangan. "Ibu, cecak kas putus dia pu ekor tapi kami sudah tau dia pu tipu-tipu. Tetap kami kejar dia". Entah apa yang di pikirkan anak ini, tapi aku tahu dia sedang memberi kesaksian.
Pun dia menambahi " Tetap kalau Cecak dorang ada, sa panah dia sampeeeee.... step. Sa kejar kas tinggal dia pu ekor giyang-goyang"
Aeee, kalimat yang terkesan psikopat.
Tapi itulah Yunus. Dia mengatakan apa yang dikerjakannya. Rasa rada ngeri sebenarnya, tapi saya senang saat dia mau melakukan eksperimen walaupun terkesan menyiksa. Barangkali dunia sains memaklumi itu.
Jumat, 21 November 2025
Tidak sah = batal
Kamis, 13 November 2025
Sampai di sini saja
Harus ku akui kalau anak didikku yang sekarang lebih suka pelajaran Matematika. Bahkan bisa dalam seminggu tuh mereka minta agar Ibu guru bawa pelajaran Matematika saja. Bukan apa-apa sebenarnya, tapi jujur kadang soak juga Matematika terus. So, biasanya aku variasi, bukan hanya tentang ilmu hitung dan ukur, tapi juga logika dan analisa seperti dalam contoh soal cerita.
Kali ini memang kami akan mengulas Matematika Gasing yakni perkalian dan pembagian bersusun. Yang beginian anak-anak terlalu suka. Meski mereka belum sepenuhnya hapal perkalian, tetapi mereka selalu menemukan cara yang nyaman untuk belajar.
Entah itu menggunakan metode jarimatika, hitung manual (aku menyebutnya cara dodong) atau malah menuliskan tabel perkalian di kertas lalu menempel di atas meja (cara cerdik). Kalau tidak sabaran, biasa mereka akan berteriak "Ibu, 8 x 7 berapa e? " Seringnya mereka menguji fokus ibu guru, atau malah memang sengaja membuat Ibu guru kembali berpikir.
Semua anak sibuk dengan latihan soalnya. Sengaja di sesi pertama aku membuat soal yang sama untuk setiap anak. Rencananya setelah koreksi aku akan evaluasi sampai dimana kebolehan anak-anak.
Di tengah keseriusan mereka dalam mengerjakan latihan, tiba-tiba Asaria yang sedari tadi senyap tiba-tiba membuyarkan fokus. Dia ssmpat bertekak dengan Beny karena jawabannya dengan Beny tidak sama. Sebenarnya hanya beda sedikit saja, seperti biasa hanya karna angka dibelakang koma.
Baik Beny maupun Asa mempertahankan jawabannyalah yang paling benar.
Mungkin Asa sudah merasa jenuh kalau harus berdebat dengan Beni. Dia membawa bukunya ke meja guru lalu memberi pembelaan
"Karna su tidak bisa dibagi lagi, yasudah sampai di sini sa toh Ibu"tawarnya.
Ku pandangi tulisannya yang membuat pupil membesar walau cuaca terang. Tulisan model " Cakar ayam" yang selalu berhasil membuat Ibu guru sakit kepala.
Kembali dia mengulang pembelaannya. "Ibu, ini su tra bisa dibagi lai. Sampai sini sa e Ibu".
Beruntung semua jawabannya benar. Kalau dipikir-pikir benarlah perkataannya tadi.
Kalau sudah tidak bisa diganggu lagi, yasudah selesai.
Rabu, 12 November 2025
Mata tajam Ibu guru
Aku tidak tahu apakah setiap guru mengalami atau menyadarinya. Bisa dikatakan indra keenam karena tidak semua orang bisa.
Mata. Mata adalah salah satu alat indra yang paling vital. Mata bisa menyisir sudut pandang, menjangkau ruangan dan batas.
Flasback ke masa sekolah, dulu aku ingat temanku sering menyontek saat ujian. Berbagai macam strategi mereka buat. Entah itu membuat catatan di kertas yang hanya bisa dibaca olehnya saja, menulisi meja, memincingkan mata ke lembar jawaban teman sampai yang paling berani, membuka buku pelajaran dari laci meja. Picik teramat picik. Kadang aku merasa mengapa mereka seberani itu.
Pernah suatu ketika ada yang melapor secara terang-terangan. "Ibu, si A mengopek (menyontek). Bisa dibayangkan bagaimana suasana kelas yang hening tiba-tiba pecah karena kaget. Guru kaget, siswa yang ujian juga kaget, tetapi oknum pelaku jauh lebih kaget. Sudah dipastikan dia menyiapkan pembelaan dan dalih untuk melindungi diri. Aku yang saat itu memang sudah mengamati gerak -geriknya namunbungkam mendadak melongo tudak percaya. Wah, panjang nih urusannya.
Berbicara mengenai guru pengawas ujian, semua datang dengan karakter yang berbeda dan biasanya akan dihubungkan dengan mapel yang diampu guru tersebut.
Guru sains dan matematika biasanya tidak bisa kompromi dengan hal-hal begituan. Jika ketahuan, mereka tidak segan merobek lembar jawaban, lalu menuliskan klarifikasi di sana. "Ketahuan menyontek saat ujian". Wah, berapa malunya saat kalimat maut itu terpampang nyata di lembar ujian.
Kalau guru bahasa biasanya lebih kompromi, apalagi guru penjaskes. Sepertinya ini sudah valid. Guru penjas tuh selalu punya prinsip " Tidak apa-apa, asal jangan berisik". Kalimat itu penenang tapi juga membuat gusar. Guru lho, guru. Namanya juga guru olahraga, barangkali menyontek dengan tenang juga bagian dari olahraga. Just jokes.
Kembali ke Mata, eakkk.
Menurutmu, apakah guru pengawas tidak menyadari aktivitas menyontek itu di ruang ujian? Apakah duduk mereka kamu pikir tidak bisa menjangkau sudut laci kelas? Oh, itulah kekeliruan banyak orang, khususnya para pelaku. Di meja guru semua terpampang nyata, bak transparan. Guru yang duduk sambil mengisi formulir dan presensi dengan serius sekkaipun bisa mengetahui apa yang terjadi fi ruangan ujian saat itu. Kadang mereka hanya diam, Diam-diam dan akhirnya bergerak pelan. Ini jauh lebih mengerikan.
Aku kembali ingat dengan kejadian sore itu. Anak-anak dengan semangatnya bermain bola. Mungkin karna kehausan, mereka membeli es cekek (istilah di Medan untuk minuman yang diseduh dengan sedikit es batu dan dan serbuk rasa dalam plastik). Aku sempat khawatir anak-anak akan membuang sampah sembarangan, jadi dari awal memang kuingatkan agar jangan buang sampah sembarangan.
Satu kali mataku tertuju pada Ruben yang dengan gragas menyeruput minumannya rasa stroberi. Dia memang tidak meminum tepat di depan mataku. Tapi ekor mataku merekam semua gerak-geriknya.
Mungkin saja dia tidak sadar bahwa aku mengawasi semua anak-anak yang bermain saat itu, tidak terkecuali dirinya sehingga dia benar-benar lengah dan membuang sampah minumannya di got lapangan.
"Eh, Ruben. Ambil sampahnya sekarang! " Aku menegurnya dengan Mata masih memandangi permainan bola di lapangan.. Dari ekor mataku, kulihat dia seperti bingung tidak percaya bercampur kaget. Mungkin dia berpikirIbu guru tidak mungkin melihat upaya curangnya. Akhirnya dia mundur ke belakang dan menjatuhkan sampah minuman tadi di rentetan bunga kertas di samping sekolah.
Jujur aku kesal, kenapa dia tidak mengindahkan teguranmu yang pertama malah kembali mengulang. "Ruben, ambil sampahnya ya. Buang di tempat sampah! " Kali ini nada suara lebih keras. Karena merasa diamati, Ruben menyahut "Ibu lihat? " Dengan sigap aku menatapnya "iyo toh. Ibu lihat kamu. Ayo, buang di tempat sampah e, di sana tuh" Ucapku sambil menunjuk tong sampah di sudut sekolah.
Tiba-tiba dia nyeletuk kesal "Ibu pu mata tajam sampe".
Itulah indra keenam guru. Sepasang mata ini mampu menjangkau lakukan, jadi Berhati-hatilah.
Rumah untuk Ibu Guru
Sabtu, 08 November 2025
Matematika, Yuhuuuu
Saat itu, pembelajaran matematika mengenai operasi hitung campuran. Matematika yang katanya adalah ilmu Pasti akan selalu mengandung keputusan benar atau salah. Tetapi ada satu hal yang membuat seseorang bangga dengan matematika, saat dia mampu menaklukannya.
"Yes,,, yuhuuu" Dua kata itu nyaring terdengar di sudut kelas. Saking kencangnya, seisi kelas sontak melihat ke arahnya. Hofni Natalson, bocah bertubuh jangkung dengan kulit putih dan rambut talingkarnya mampu mencuri fokus kelas. Tidak sampai disitu, dia bahkan menari-nari kegirangan seakan tidak sadar bahwa bukan hanya dia penghuni kelas.
"Eh Hofni, kamu kenapa? Senang sampee" tanya ibu guru yang juga adalah anak anak-anak lainnya. "Dia mengantarkan buku latihannya ke depan dengan cara jalan yang lumayan tengil dan penuh percaya diri. " Ibu, a su bisa, a su bisa ibu. Ibu cek, lalu kasih a 10 soal lagi" walahhh, kena angin apa anak ini.
Aku meraih buku itu lalu mulai mengoreksi. Dan benar saja, Hofni mendapat poin nyaris sempurna. Sepeuluh soal yang dibuat sebagai latihan di babat habis olehnya dengan proses persis dengan yang kujelaskan di papan tulis.
Matanya semakin berbinar setelah melihat angka 100 disematkan di sudut bukunya. "Yesss, a dapat 100, a dapat 100. Ibu kasih a tugas 15 soal lagi. " pintanya tidak sabaran.
"Eh, tadi kata tambah 10. Kenapa sekarang minta 15? " tanyaku memastikan. "Tidak apa-ibu. Ibu buat saja. Sa su bisa, 10 soal tanggung ibu." ku lihat raut wajah semangatnya dan matanya tidak berhenti mengatakan bahwa Hofni sangat tertantang. Croat-cepat ku buat latihan khusus untuknya, lebih tepat dikatakan pengayaan sih.
"Ini kamu pu buku. Kerjakan baik-baik ya." Aku menyodorkan buku latihannya, sepertinya Hofni juga sudah tidak sabaran. Jarak dari meja guru ke meja belajarnya hanya ±4 meter. Tetapi jarak itu cukup bangunya itu bersenandung ruang. "Matemati yuhuuuu a bisa, a bisa".
Suasana seperti ini selalu mampu membuatku terharu. Terimakasih Hofni untuk asupan semangat yang kamu tularkan untuk Ibu.
Tidak berniat mengabaikan lho, anakku
Membangun hubungan yang erat antara guru dan murid tidaklah instan. Setiap harinya berbagai jenis pendekatan dilakukan bahkan memahami karakter setiap anak adalah bagian yang tersulit. Ada anak yang dengan lugas bisa mengungkapkan perasaannya, ada pula yang malu-malu bahkan memendam.
Jam istrahat kali itu berbeda. Biasanya Valen adalah satu-satunya anak yang memilih tidak keluar kelas demi menuntaskan tanya dan ingin tahunya, kali ini Sokrates juga ada. Ya, kedua anak ini lumayan bergumul dengan pelajaran matematika hari ini. Mungkin itulah yang membuat mereka tidak setenang itu meninggalkan kelas untuk makan atau bermain di jam istrahat.
"Ibu, ibu bantu sa" dengan suaranya yang khas, Sokrates membawa buku dan alat tulisnya ke mejaku. "Mari nak, di bagian mana kamu kurang paham? " Dia menunjuk ke soal no 3 dengan tatapan penuh harap.
"Oke, ibu jelasin lagi ya". Kulihat Sokrates yang sudah merasa lebih paham untuk mengulang soal berikutnya. Tetapi dia tidak kembali ke meja belajaranya. Barangkali ada kenyamanan tersendiri saat belajar di meja guru dan didampingi langsung.
Tidak lama kemudian, Valen pun memboyong bukunya. "Ibu, ibu bantu sa no 2, ibu sa kurang mengerti". Hal yang sama ku berikan pada Valen. Tapi karena nampaknya Valen kurang fokus mengerjakan di buku latihannya, aku memintanya mengerjakan langsung di papan tulis. Puji Tuhan, dengan beberapa arahan, Valen akhirnya bisa. Bahkan dia juga mengerjakan 2 soal berikutnya sendiri.
Saat aku berbalik ke kursi, aku tidak lagi melihat Sokrates. Ke mana anak itu pergi?
"Valen, Sokrates di? " Valen geleng-geleng kepala. "Ibu, sa tra tau". Ku sisir setiap sudut ruangan, tapi nihil. Sampai tiba-tiba, Eci, adik dari Sokrates datang melapor.
" Ibu, Kakak Soki (nama panggilan Sokrates) ada sedih. Dia duduk di samping sekolah ibu" Aku jelas kaget. Aku merasa tidak memarahi atau membuat dia sakit hati. "Valen, kamu kerjain dulu ya, Ibu mau cek Soki.
Kulihat Soki duduk dengan perasaan sedih sembari mencoret di kertas buramnya. Aku mendekati dan duduk di sampingnya hingga dia dengan cepat menyeka air mata yang bergulir menuruni pipi tirusnya. " Soki, kamu kenapa? Ibu minta maaf kalau ibu buat kamu sedih". Dengan ragu dan terbata dia menjawab "Tidak Ibu, sa pikir ibu tra mau bantu sa. Ibu bicara deng Valen, baru sa panggil ibu tra menjawab". Aiiihh. Aku kaget mendengar pengakuannya. Aku bahkan tidak mendengar kalau Soki memanggilku di kelas tadi. " Benaran, ibu tidak dengar anak. Minta maaf e. Ibu bukan tidak peduli, mungkin tadi ibu fokus deng Valen jadi kamu merasa ibu kas tinggal." Ku belai kepala Soki dan ku seka air matanya.
Menyadari kejadian barusan, aku hampir tidak menyadari kalau sebutir bening lolos dari pelupuk mataku. Selemah inikah perasaanku? Aku bahkan sangat mudah tersentuh saat melihat anak didikku menitikkan air mata. Tapi, apakah menagis adalah lambang lemah? Atau malah tanda bahwa kita kuat?
Soki dengan kelembutan perasaanya mampu meluluhkan hatiku. Aku memang tidak selalu bisa memegang tangan anak didikku setiap saat. Tetapi aku sadar, saat aku memberi diri mereka proses dan kesulitan mereka, aku sedang menulis memori di hatinya. Soki anak hebat. Ibu guru sayang Soki.
Gara-gara menara Babel
Jam istrahat adalah salah satu momen yang dinantikan gutu. Bukan karna menyukainya, namun mereka butuh itu untuk merecharge energi setelah ± bertempur dengan bocil-bocil random yang ada saja kelakuannya.
Ada satu peraturan kelas yang wajib dipatuhi, yaitu tidak diperkenankan berasa di ruang kelas ketika jam istrahat kecuali karena membaca. Alasan membaca cukup kuat karena kegiatan ini butuh fokus dan suasana tenang. Yang yang tinggal di dalam kelas hari ini adalah Valentina, si anak kutu buku yang jadi berstie baca ibu guru .
Dia melanjutkan bacaan buku ensiklopedia "1001 fakta Alkitab". Buku yang lumayan berat untuk anak seusianya, tapi Valen menyukainya. Selalu ada alasan memulai pembicaraan tentang isi buku, dan kali ini dia melakukannya lagi.
Setelah suasana hening, ku lihat bibirnya yang masih komat kamit membaca rentetan tulisan di buku bersampul tebal itu, Tiba-tiba hening terpecah karena dia sontak berteriak dan mengangkat tangan. Yap, dia ingin bertanya. Seperti biasa, aku yang adalah gurunya akan mejelma menjadi manusia serba tahu bahkan dari buku yang belum pernah ku baca.
"Ibu-ibu. Betulkah ibu kitong beda-beda bahasa karena kejadian di Babel?" Dia bahkan menyebut kata 'Babel' seakan sudah biasa dengan nama tempat itu, sangat santai.
Aku mengerjitkan dahi mencoba mencerta kata-kata itu. "Eh, maksud?" Aku mau Valen mengelaborasi bacaannya. "Ibu bisa bahasa Batak, sa bisa bahasa Papua, Bule dorang pake bahasa Inggris itu karna Tuhan kas kacau menara Bebel. Sa baca di sini Ibu" dibawanya buku itu ke hadapannku sambil jari telunjuknya menunjuk rujukan bacaan.
"Jadi dulu kitong pu bahasa sama Ibu. Tapi karna orang-orang mau bangun menara besar e, dong songong dan tidak ingat Tuhan jadi Tuhan kas hancur itu barang" Tuturnya dengan antusias. "Betul anak,. Sekarang sudah banyak bahasa, mungkin semua bermula dari kejadian menara Babel. Tapi nilai yang bisa kita ambil adalah, walaupun kita berbeda bahasa, Tuhan sudah menyediakan alat agar kita bisa komunikasi toh. Ibu ngerti Valen bicara apa, Valen juga paham Ibu bicara apa. Kan Ibu tidak akan pakai bahasa Batak juga, nanti kami tidak paham." Kelasku pelan-pelan. Ku harap dia mengerti, karena raut wajahnya seperti masih ingin berdiskusi lebih. Setelah terdiam beberapa detik, Valen membalas "Ibu, sa su bisa bahasa Batak. Ibu dengar e. Sada, dua, toku, opat, lima" Valen menyebutkan angka 1-5 dalam bahasa Batak sampai membuatku terkekeh.
Valen adalah bibit anak-anak kritis. Aku berharap dia bisa terus menggali ilmu dari bacaan apapun. Mungkin saja saat dia bertanya hal random, aku tidak selalu bisa memuaskan hatinya dengan jawaban yang pas. Tapi saat itu aku sadar, bahwa dia membuatku belajar dan bertumbuh. Memang seharusnya begitu.
Perang pake otak
Pelajaran sejarah menurutku adalah pelajaran yang membosankan. Ya, karena mengulik masa lalu nih. Hahahah
Eits, intermezo ya guys, walaupun nyatanya begitu.
Sejarah akan mengembalikan kita pada ingatan perang dan penjajahan. Yap, masa kelam.
Dahulu kita berperang dengan senjata seadanya, entah bambu runcing ataupun senjata berbahan logam lainnya. Yang bertahan yang akan menang. Yang kompak yang akan mampu menghalau musuh.
Dahulu kita berperang dengan senjata fisik, lalu sekarang masih adalah perang.
Oh, jelas. Perang masih ada dan terus ada. Tapi ada yang berbeda. Perang kini tidak lagi arah mengarahkan senjata dan melukai fisik musuh. Lalu bagaimana?
Perang di zaman sekarang itu, perang yang menggunakan otak.
Ibu guru memotong kalimat sampai disitu untuk memancing analisa dan kkkritisan anak-anak.
Tiba-tiba, Sokrates mengangkat tangan ragu-ragu. "Ibu, kitong perang lempar-lempar otakkah? "
Aduh, bukan begitu konsepnya anakku.
Perang kan tidak setakat lempar melempar.
Ku jelaskan pelan-pelan sesederhana mungkin bahwa perang pakai otak itu bukan berarti lempar-lempar otak. Tapi menggunakan intelektual dan hikmat. Apalah arti otak tanpa keduanya itu.
Jika otak adalah alat perang, seperti halnya panah, tombak dsb, pun otak harus diasah. Bukan dengan gerinda atau scaf, tapi mengisinya dengan ilmu dan adab.
Rantai makanan, makan dan dimakan
Pelajaran kali ini yaitu tentang rantai makanan. Yap, rantai makanan atau biasa disebut peristiwa makan, memakan dan dimakan. Di dalam ada seleksi alam juga persaingan organisme. Yang kuat akan bertahan, sebaliknya yang lemah akan kalah.
Karena persaingan untuk makan tersebut, akan ada konsekuensi atau akibat. Sebagai contoh dalam ekosistem sawah.
Padu -> tikus -> ular->elang->pengurai
Padi yang berperan sebagai produsen, oleh sebab itu predatornya pastilah hewan pemakan tumbuhan (herbivora) atau pemakan segala (omnivora). Dalam contoh yg sudah ada, tikus sebagai konsumen 1, dan masuk ke jenis hewan omnivora.
Nah, setelah mendemontrasikan alat peraga yang sudah kusiapkan dari rumah, aku ingin menguji pemahaman anak muridku.
"Anak-anak, coba dengar Ibu. Jika tanaman padi hanya ada satu pokok, maka apa yg akan terjadi dengan tikus jika jumlah tikus ada banyak?
Semua anak tidak sabaran memberikan pandangannya sampai Kelas benar-benar riuh. Aku berusaha mengkondusifkan kembali keadaan kelas dengan meminta pendapat satu persatu secara bergilir.
Adapun tanggapan mereka, yaitu;
Yafet: Ibu tanam padi lain toh, biar tikus lain dapat.
Yunus: Tikus lain makan dari dong 2 Ibu, baku bagi jadi cukup
Soki: Tikus lain cari makanan lain kah Ibu. Sagu ada banyak e.
Wah, imajinasi anak-anak ya. Mereka seperti menemukan solusi praktis dari permasalahan alami. Itulah belajar kontekstual bukan berlaku pada teori.
Burung terbang, angkat kaki
Mengambar adalah satu dari sekian banyak aktivitas yang disenangi anak-anak diluar kegiatan bermain. Menggambar menjadi cara mereka menumpahkan emosi dan perasaan. Kali ini, kami akan mengambar burung. Hewan yang sudah sangat dekat dengan kehidupan, apalagi di daerah yang dikelilingi Hutan seperti kampung Kapan Yaur. Aku idak membatasi kreativitas anak-anak didikku. Mereka bebas menggambar burung jenis apa, apakah cendrawasih, cuit (pipit), nuri dsb.
Seperti biasa aku akan berkeliling memperhatikan pekerjaan anak-anak didikku. Aku tertentu di meja Gabi. Ku pandangi gambarannya, nampak tidak ada yang perlu dikomentarin. Semua aman sampai sesaat, Listra ikutan melihat gambaran Gabi.
"Gabi, ko pu burung tra ada kaki" Protesnya. Aku jelas kaget, karna sedari tadi aku mereasa gambaran Gabi aman-aman saja. Ternyata Listra sedetail itu, dia tahu bahwa ada yang tidak beres dari Gabi pu gambaran.
"Sa gambar buru yang terbang" jawab Gabi seperti acuh tak acuh. "Baru, mana dia pu kaki? Burung tra ada kaki? ".
" Listra, burung kalau terbang, tra ada kaki. Eh, kaki tra ketara." balas Gabi tidak mau kalah. Koi tidak percaya, neh lihat burung itu kaki tra nampak." Gabi menarik tangan listra sambil menunjuk ke arah burung camar yang kebetulan melintas dari langit Napan. Listra pun mengalah.
Bukan tentang ada tidaknya kaki burung, ternyata anak-anak ini mengajarkan kita tentang sudut pandang. Gabi melihat burung saat terbang tidak ada kaki, dan Listra kekeuh dengan pernyataannya bahwa semua burung punya kaki. Sisi yang kita perhatikan juga keadaan saat kita mengamati tidak akan sama untuk mata yang berbeda. Sangat relate denagan kehidupan kalau tidak semua yang kita lihat, sama keadaannya di mata orang. Ini tentang sudut pandang.
Suka hujan
Mood di pagi hari adalah salah satu indikator yang bisa menggambarkan apakah hari itu menyenangkan atau tidak. Hari yang cerah dinilai bisa membangkitkan semangat, diiringi dengan lagu beat yang menggema di setiap sudut ruangan. Ya, musik selalu datang dengan nuansanya sendiri. Saranku, jika memulai hari putarlah lagu yang membangkitkan semangat, bukan lagu pop galau yang sekarang ini Banyak digandrugi anak-anak muda, khususnya gen Z.
Tapi kali ini matahari malu-malu menampakkan sinarnya. Hanya ada rintik hujan dan suara kodok yang berhahutan seakan membuat raga terlena untuk berlama-lama di kamar tidur. Setelahnya akan dapat dipastikan rasa malas dan kantuk akan datang seperti kejar-kejaran. Belum lagi cuaca dingin yang menusuk tulang membuat perut juga lebih sering bergetar dan lapar. Sungguh cobaan yang berat dalam memulai hari.
Aku pernah melihat salah satu fyp tiktok yang dalam Tubnail nya ada kalimat "mau malas sekolah, tapi aku gurunya". Ternyata bukan sekadar konten, tapi itulah kenyataannya. Guru juga manusia yang bisa merasa malas, lemas dan ingin bersantai tanpa dihujani teriakan anak didik yang memaksanaya setiap hari menarik napas panjang. Tapi keadaan tidak selalu bisa kita manage, kadang hanya perlu Keikhlasan agar air muka tidak berubah menjadi tidak menyenangkan.
Ku langkahkan kakiku gontai ke kelas. Anak-anak sudah menunggu di kelas dengan mengalunkan nada-nada yang menggema sampai di telingaku. Ya, mereka membaca buku cerita bak beradu kata tidak mau mengalah.
"Selamat pagi semuanya" sapaku ramah. "Pagi Ibu guru" jawab anak-anak kompak. Aku duduk lagu menginas-ngibaskan pakaianku yang sedikit basah menggunakan buku tulis kecil yang selalu jadi kertas buramku.
"Ibu, kitong belajar apa?" suara melengking Valentina seperti biasa terasa memekakakan telinga. Aku mengambil langkah apersepsi dengan meminta anak-anak memperhatikan cuaca di luar. "Ibu hari ini hujan, dingin sampe"ucap Yafet yang mengencangkan Hoodienya. "Hari ini kita mau belajar tentang HUJAN". Aku sengaja memenggal kalimat itu untuk menarik perhatian anak-anak.
" Coba kalian perhatikan, apa yang berbeda dari penampakan jalanan, pepohonan dari hari kemarin?" pancingku dengan pertanyaan. Kelas kembali riuh dengan berbagai jawaban. Anak-anak seperti tidak mau kalah.
"Semua jawaban kalian benar. Cuaca panas dengan hujan akan sangat berbeda. Nah, sekarang kamu pakai jaket, baju tebal. Coba kalau panas, pasti gerah toh? ujuarku. " Iyo Ibu. A tra tau pakai pakian ini kalau panas. Tra bae sampe"omel Yunus.
Aku tiba-tiba teringat sesuatu, seperti ini cerita.
"Ibu suka hujan lho anak-anak. Senang aja gitu kalau hujan. Tenang, teduh dan nyaman". Mungkin aku merasa seperti bestie, jadi cerita rasa curhat. Hhaha
Suasana lagi tenang, tiba-tiba Gabi mengangkat tangan tanda protes. " Ibu tra suka hujan. Nanti Ibu guru bilang 'aduh, hujan lagi. Ibu pu pakian basah sampe. Ibu tipu". Gabi menirukan gaya bicaraku sampai semua temannya tertawa.
"Aduh Gabi, itu beda cerita toh" kataku seperti membela diri. Tapi dari dahinya yang mengerjit, ku tahu dia bertekak dengan isi pikirannya.
Gaya gesek
Hari ini aku akan membawakan pelajaran ttg gaya gesek. Satu dari lima jenis gaya yang sudah kukenalkan pada mereka dia Hari lalu. Yang pasti bukan gaya-gayaan seperti peace atau buncis.
Nah, untuk mengelaborasi pikiran anak-anak,aku memberikan percotohan yaitu perbandingan dua sendal: sendal Yunus dan Adunias.
Deskripsinya begini:
Kedua sendal memiliki alas yg berbeda. Manakah yg lebih duluan jatuh seandainya mereka berdua berjalan di atas lantai yg licin?
Anak-anak mulai mengkonstruksi pikirannya. Ada yang membuka catatan, ada yang sengaja menggesekkan sepatunya bak demonstasi, ada pula yang menatap ke langit-langit berharap pencerahan datang.
Kuulangi pertanyaannya. "Kira-kira Yunus atau Adunias ya yang duluan terjatuh?"
Ada yg menjawab Yunus, ada yg menjawab Adunias. Wah, suasana kelas langsung seperti pasar ikan. Anak-anak memang selalu begitu, mungkin mereka berpikir bahwa dengan nada suara yang besar akan mengklaim jawaban yang benar.
Di tengah keriuhan itu, tiba-tiba Sokrates menjawab "Ibu, tergantung toh. Tong blom tau kalau belum lihat. Adunias kah, Yunus kah, kas dorang jalan di lantai licin dolo"
Pernyataan itu terdengar seperti sebuah tantangan. Aku tidak marah, malah sangat mengapresiasi jiwa sains Soki. Kan memang seharusnya sains adalah praktik yang diteorikan, bukan teori yang dipraktekkan.
Untuk menjawab keresahan hati Sokrates aku berniat melakukan demontrasi oleh anak-anak. Ya, merekalah subjek dan objek yang utama dalam belajar. Sehingga, apa yang ditemukan melalui demi nanti, tidak selalu sama tetapi tidak juga salah. Semua akan mengamati dengan mata yang berbeda. Itulah sains.
Cara tikus makan roti
Sore itu halaman depan pastori dipadati masyarakat. Tidak lain ini semua karnaacara syukuran pelayanan gereja. Mulai dari babtis, sidi, pengukuhan majelis sampai nikah kudus.
Bisa dibayangkan bagaimana jamuan yang tersedia. Banyak sampai banyak. Karena setiap oknum pelayanan berusaha memberikan yang terbaik atas berkat Tuhan.
Aku juga ikut membantu menyiapkan hidangan fellowship sore itu. Entah kenapa, menu makanan berat membuatku enggan untuk menyentuhnya, padahal meni cukup menarik dan menggugah selerah.
Ku putuskan untuk mengambil sepotong donat dari dalam stoples. Yap, donat dengan topping messe seres kesukaanku.
Saat tengah menikmati, aku sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengamatiku. Siapa dia? Dia adalah Sadrakh, muridku kelas IV.
"Ibu makan seperti tikus" tukasnya singkat. "Eh, maksud?" Tanyaku memastikan. Aku seperi tidak mengerti kenapa harus dibandingkan dengan tikus.
"Ibu, ibu pu cara makan cuil-cuil macam tikus pu cara makan sampe. Ibu tra bisa gigit satu kali jadi". Dia menjelaskan opininya dengan nada tidak sabaran.
Jelas aku tidak setuju dibandingkan dengan seekor tikus. Tapi, aku mau memperjelas, jangan sampe aku yang misunderstanding.
"Memangnya kamu pernah lihat tikus pu cara makan bagaimana" tanyaku tidak terima.
"Iyo toh Ibu. Dong tarin-tarik roti Kecil-kevil baru makan pelan. Seperti Ibu pu cara makan nih". "Hah, beneran? Kamu lihat dimana anak? " Di kami pu rumah Ibu, a tara tipu" Ucapnya sambil menegangkan dua jari pertanda dia yakin.
Eh, kalau dipikir-pikir bisa jadi sih. Kek Jerry makan roti di Serial Tom and Jerry. Tapikan ini nyata dan Sadrakh nmbandingin tikus ke Ibu guru lho. Yang benarlah.
Cara makan tidak penting sebenarnya. Yang penting bagaimana makan itu dicerna.
Aduh Sadrakh, membuat Ibu overthinking sa
Capung merah pengantar suratku
Pagi yang cerah dibumbui senyum semangat anak-anak. Aku seperti mendapat dopamin hanya dengan menyaksikan anak-anak didikku antusias belajar.
Disambut mentari hangat dan riuhnya teriakan burung Yakop di hutan belakang sekolah, hari ini aku mau membagikan sesuatu untuk anak didikku.
Dengan langkah gontai, aku menenteng totebag cokelat keyanganku, tidak lupa tumbler kebanggaan yang akan menahan dahaga kalau harus kehabisan energi di sela jam mengajar.
"Ibu hari kitong belajar apa?" sambut Valen saat aku baru menapak satu langkah dari bibir pintu.
"Selamat pagi semua" Sapaku menggema di seluruh sudut kelas. "Selamat pagi Ibu" balas anak-anak dengan kompak.
Sengaja aku tidak menjawab pertanyaan Valen.
Ku pikir dia akan melupakan pertanyaan itu, nyatanya dia kembali bertanya hal yang sama.
"Ibu, hari ini kitong mau belajar apa? "
Melihat antusiasnya, aku pun tidak sabar.
"Oke, anak-anak. Hari ini kita akan belajar mengenai surat". Ku lihat ekspresi mereka yang semakin tidak sabaran. " Surat, goeee". Seketika kelas riuh.
"Ibu, kitong mau kirim surat kah?. A mau kirim surat untuk Presiden" ucap Yance dengan sadarnya. "A mau kirim surat untuk Bupati." timpal Yafet tidak mau kalah.
"Ibu, baru kitong mau kirim surat pake apa?" tanya Gabi memecah riuh kelas.
"Capung merah kah apa e" Jawab Ibu guru ngasal setengah bercanda.
Sialnya anak-anak anggap gurauan itu serius.
"Oke, siap Ibu" balas mereka cepat.
Nampaknya antusiasme anak-anak sedang pada puncaknya. Ibu guru meminta anak-anak menulis surat di origami warna-warni dengan amplopnya. Ya, persis seperti surat pada umumnya, namun ini sedikit lebih menggemaskan.
Bel jam istrahat berdering, anak-anak mengumpulkan surat mereka dengan penuh semangat.
Aku pikir jam istrahat kali itu membuat bisa menarik napas agak dalam mengingat kelas yang lumayan riuh. Di saat yang tidak disangka, Yafet dan Gabi lari ke arahku sembari membawa satu hewan kecil di tangannya.
"Yafet, itu barang apa?" Tanyaku tidak sabaran.
"Ibu, ini capung merah pengantar surat toh"timpalnya percaya diri.
" Antar surat?" aku geleng-geleng tidak percaya. "Iyo toh Ibu. Ibu yang bilang baru. A kami tangkap satu kali biar antar kitong pu surat-surat Ibu"Lagi-lagi dengan raut wajah yang polos dan ceria.
Astaga. Kok malah begini?
" Kalian seriusan ini? "
Aku terpaku memandangi air wajah mereka. Anak-anak ini memang tidak bisa diajak bercanda.
Pengandaian: Ibu guru rabun jauh
Hari itu kami belajar tentang alat indra. Yap, biasa disebut panca indra karna jumlahnya ada lima. Anak-anak sangat senang menyanyi, oleh sebab itu aku selalu mendemonstrasikan pelajaran dalam bentuk nyanyian untuk membantu mereka mengingat juga menaikkan mood.
Aku pernah menonton salah satu reels yang juga menggunakan metode lagu dalam proses KBM. Bisa dibilang ini salah satu strategi ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Dan aku mengakui sebagai seorang guru, ini sangat membantu.
Lagu mengenai panca indra ini serupa nadanya dengan lagu anak-anak berjudul "becak". Nah, mengapa menggunakan nada lagu anak? Sudah pasti anak-anak akan familiar dengan nadanya, jadi tidak perlu menciptakan nada baru lagi.
Adapun lirik lagu panca indra dalam nada lagu " Becak" sebagai berikut:
Aku punya panca indra
Semua berjumlah lima
Amat banyak manfaatnya
Akan selalu kujaga
Mata melihat
Telinga mendengar
Hidung tuk mencium
Kulit untuk meraba
Lidah merasa
Itulah fungsinya.
Dari lagu saja sudah jelas bahwa indra yang pertama akan dibahas adalah mata, si indra penglihatan.
Pelajaran sains tidaklah cukup jika hanya ceramah saja. Minimal demontrasi atau praktikum.
Untuk pengenalan bagian-bagian mata, aku membuat media dari styrofoam membentuk mata bagian luar dan dalam. So, gambar dia dimensi di buku pegangan, menjelma jadi alat demi tiga dimensi. Ya walaupun jauh dari kata sempurna, aku sungguh menyadari aku tidak terlalu berbakat seni rupa.
Sempat pula aku meminta Karsina dan Yemima maju ke depan untuk mengamati secara kasat mata bagian-bagian mata. Aku sempat mengekeh, karna mereka lumayan lucu dan polos. Saat aku tanya ke Yemima, apa yang kamu perhatikan dari mata Karsina, dia menjawab "Ibu, ada sa". Tidak salah sebenarnya, hanya saja aku mengekspektasi jawaban berbeda. Aku beepikit, dia akan fokus ke pupil, bukan malah ke bayangan temannya.
Tapi tidak apa, namanya juga belajar dan tidak seharusnya aku berharap jawaban seperti isi kepalaku untuk anak-anak polos itu.
Nah, tiba saatnya untuk demo mengenai penyakit atau kelainan pada mata. Yang paling banyak dijumpai tentulah miopi atau rabun jauh, biasa orang bilang mata minus. Kali itu aku meminta muridku Yunus maju ke depan membantuku.
"Yunus, perhatikan Ibu ya. Nah, Ibu bisa lihat nih tulisannya dengan jelas karna posisi Ibu ke tulisan tidak jauh. Nah, sekarang Ibu mundur pelan-pelan nih. Eh, tiba-tiba tulisannya buram. Kira-kira kenapa ya? "
Yunus yang sedari tadi fokus ke kertas yang dipegangnya, spontan seperti kaget
"Yeskon, Ibu guru rabun kah? Ibu tra bisa lihat?" Kemudian dia memposisikan dua jari lambang peace "Ibu, ini berapa? "
"Dua toh." Jawabku enteng.
"Ibu, tra rabun rabun baru" katanya merasa seperti ditipu.
Aku merasa anak ini sudah salah paham. "Yunus, Ibu guru tadi hanya buat seandainya. Bukan ibu rabun betulan"
"Oh, Ibu bilang toh ini main tipu-tipu"
Astaga, kok bisa mukanya sedatar itu padahal Ibu guru menahan gelak tawa.
Yunus, Yunus. Serius kali hidupmu. Ini namanya pengandaian, bukan tipu-tipu.
Yang biasa-biasa saja
Bulan Desember sudah dekat, tidak terasa sebentar lagi akan Natal. Bahkan lagu dan pernak-pernik nya sudah menjamur di kota.
Di desa bagaimana? Apakah eforia itu tidak ada? Oh, anak desa juga ingin memeriahkan walau tidak seriuh di kota barangkali.
"Anak-anak, Ibu ada rencana mau buat fragmen profesi untuk Natal kita nanti. Jadi ada bermacam-macam profesi."
"Ibu, a mau jadi polisi" teriak Yafet cepat dari sudut kelas. Tidak mau kalah, anak-anak yang lain juga mau menyuarakan keinginan profesi yang akan dipraktekkannya.
Ibu guru berusaha menengahi kelas yang semakin riweh. "Oke, anak. Ibu sudah persiapkan profesi juga pemerannya, dan ini cukup adil dan pas."
Anak-anak yang penasaran mendesak Ibu guru agar membacakan nama-nama pemeran fragmen.
"Ibu bacain ya. Yance: petani, Hofni Besar: nelayan, Kasih: pedagang, Listra: dokter, Valen: guru, Azaria: polisi, Yunus: kepala desa, Sokrates: siswa, Beni: tukang, Hofni Kecil: tentara, Alestio: Orang kaya dan Yafet:pendeta"
"Yesss, a jadi dokter "ucap Listra dengan wajah gembiranya. Begitupun dengan anak-anak yang lain. Mereka cukup puas dengan pembagian peran yang sudah dibuat Ibu guru.
Namun tiba-tiba Alestio angkat tangan. " Ibu, a tra mau jadi orang kaya.A mau jadi orang biasa sa" Ucap Alestio dengan nada yang tidak terima.
"Lho, kenapa Ales? Ini hanya fragmen moh. Semua peran sudah Ibu sesuaikan. Ibu pikir kamu cocok memerankan orang kaya. Untuk dialognya,tenang sa, Ibu yang siapin"balas Ibu guru berusaha meyakinkan Alestio.
" Ibu, a tetap tra mau. Orang kaya itu sombong Ibu. A tra mau jadi orang sombong, nanti Tete manis marah. " tegasnya tidak mau kalah.
"Ales, ini hanya fragmen lho". Ibu guru sudah tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum simpul dengan alasan anak didiknya yang satu ini. Bisa-bisanya kepikiran sampai kesana.
" Ales, ko jadi orang kaya su. Orang kaya tuh tidak semua sombong. Ko jadi orang kaya yang bae. Iyo toh Ibu?" Yafet memberi pendapat.
Alestio mulai berpikir.
"Eh, Ales. A jadi pendeta. Jadi tong baku teman. Ko kasih derma lebih to, orang kaya jadi"
Seisi kelas tertawa mendengar percakapan mereka. Sepolos itu.
"Iyo sudah Ibu. Ibu kasih peran tambah e. Orang kaya yang baik hati. A tra suka jadi orang kaya sombong ibu." Alestio mulai menawar.
"Iya nakku" balas ibu guru seraya menahan gelak.
Kejadian hari ini mengingatkanku dengan firmanNya dalam Matius 19:23
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
-
Ku datang dihadiratMu Membawa segnap hidup Ku ingini dekat denganMu Rasakan ketenangan Kau arahkan pandangMu Menilik jauh ke dalam Lubuk hat...
-
Saat ku ingini pelangi Kau turunkan hujan Saat kuingini melati Kau beriku taman. Lebih dari yang kuingini Kau berikan Lebih dari yang kupik...
-
Tentang cita-cita, semua orang pasti pernah mendamba 1 masa depan yang indah yang didalamnya dia nyaman dan hidup. Apalagi jika kita menany...