Setiap hari, kelas selalu diawali dan diakhiri dengan doa. Wajib!
Akan ada petugas yang memimpin, mengangkat lagu juga memimpin doa masuk kelas, doa makan feeding juga doa pulang sekolah. Itu sudah rutinitas, dan tidak ada masalah.
Kali ini berbeda. Anak-anak tidak berdoa berjamaah seperti biasanya. Di jam rawan tersebut, mereka harus menyelesaikan beberapa latihan soal. Dan aturannya siapa yang sudah selesai boleh pulang duluan.
9 dari 11 anak dengan cekatannya melahap semua soal-soal itu. Entah karena lapar atau malah terlalu semangat, mereka bahkan mengerjakan dengan cepat meninggal 3 orang terakhir, yaitu Yunus dan Hofni.
Hari itu Hari rabu, ketepatan mereka berdua adalah petugas piket. Aku sempat berpikir bahwa mereka sesantai itu karena memang aturannya petugas piket kelas harus datang paling awal dan pulang paling akhir setelah memastikan kelas bersih dan aman.
Suasana kelas yang sudah sepi membuat Yunus dan Hofni baku tatap. "Hofni, koi cepat. Kitong piket cepat-cepat sa" Ucap Yunus yang seakan memberi isyarat kepada Hofni agar menyelesaikan latihan soal mereka lebih buru. "Sadiki lai su selesai".
Setelah memastikan semua soal terjawab, mereka setengah berlari menaruh buku latihannya di meja guru. Aku hanya tersenyum melihat tingkah kedua muridku ini.
Mereka segera meraih sapu dan bergegas menunaikan tugas. Terbilang cepat, ketebak mereka sudah lapar.
"Ibu, selamat siang" Kedua anak ini meraih tanganku dan menyalin dengan tergesa-gesa. "Eh, salim bae-bae boleh toh" Ucapku karena merasa tidak nyaman.
Mereka berlalu tanpa menoleh lagi setelahnya.
Namun di saat aku mulai membereslan barang-barang, mereka berdua kembali.
Awalnya aku berpikir mungkin ada barang yang ketinggalan.
"Lho, kalian kembali? Ada yang ketinggalan kah? " Kemudian Hofni mendekat dan memohon izin meraih kembali tangan kananku "Ibu, selamat siang. Pegang tangan tadi tara jadi ibu, batal, tidak sah" Eh???
Yunus pun demikian "minta maaf ibu. Ini su dah toh? Selamat siang ibu guru" timpal Yunus yang berjejer di belakang Hofni.
"Selamat siang anak". Ehh, ada-ada saja anak-anak ini. Memang aku sempat mengatakan bahwa pegang tangan tadi tidak sah karena terburu-buru. Tapi tidak menyangka bahwa mereka kembali setelah beberapa menit meninggalkan ruang kelas.
Mereka berdua juga membantuku merapikan meja guru dan menawarkan bantuan untuk membawa tripod dan tumbler kesayanganku. Walaupun sebenarnya aku bisa meng-handle itu, tapi aku memberikan kesempatan merwka berbuat baik. Terimakasih anak-anak Ibu. Kalian memberi pelajaran berharga di hari ini.
Sesederhana salim dan kata ajaib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar