Selasa, 24 Februari 2026

Tahi ayam beku

Mujizat 1 dan 2 anak kampung Goni

Siang hari di Goni, jam menunjukkan pukul 12.20. Sudah seharusnya pulang, tapi dua muridmu ini membuat semua tertahan. 
Aku gk mau mengorbankan anak-anak yang lain. So, dua anak yang jadi buang kerok kutahan untuk mediasi. 

Yanke dan Hayati. Dua anak polos yang sempat bakumarah hanya karna masalah sepele. Yanke tidak sengaja mendorong meja ke depan agar terlihat rapi tetapi mengenai pundak Hayati. Sempat diam beberapa saat, lalu akhirnya tangis Hayati pecah. Melihat Hayati kesakitan dan menangis, aku berusaha meredakan situasi riuh itu. Eh tiba-tiba Yanke juga menangis. Aku jadi serba salah. 
Apa yang salah dengan kedua anak ini?
Kelas yang riuh oleh tangisan dua perempuan ini menarik perhatian Jokowi, teman mereka. Ternyata Jokowi sedari tadi mengamati dari teras sekolah. Dia mengetuk pintu dan berkomentar 
"Ibu, siang ini ada mujizat"katanya membuat penasaran. 
" Eh, mujizat apa? " responku cepat seolah melupakan tangisan kedua nak tadi
Jokowi dengan nada asbun dan percaya dirinya menjawab "Yanke dan Hayati menagis bersambung Ibu, itu mujizat yang jarang terjadi"

Astagaa, Jokowiii

Sudah melewati laut Nabire

 "Ah payah mereka, lemah"

Itu komentarku saat Kaka Koordinator wilayah memberi alasan tidak melanjutkan perjalanan ke Kwati****. 

Bukan tanpa alasan, hanya saja aku merasa lebih kuat dari mereka yang tidak tahan akan gelombang laut sore Nabire, lebih tepatnya saat melewati tanjung. Konon katanya, tanjung memang memiliki arusnya tersendiri. 

Di penghujung Januari aku ditugaskan menggantikan temanku yg mengajar di Goni selama tiga minggu. Perjalanan ke sana cukup membuatku Banyak berdoa sepanjang jalan. Bagaiaman tidak, bahkan dari awal meletakkan kaki sebelah saja di perahu aku hampir ditempat gelombang pantai yang mengamuk. Syukurnya Kakak yg jadi motorace sesigap itu. Dia membantuku menegakkan posisi duduk untuk mengarungi laut Teluk Umar yg bisa dikatakan kurang bersahabat. 

Tanganku tidak lepas dari tiang penyangga tenda fiber. Bisa kupastikan genggaman erat itu yang membuatku percaya bahwa aku bisa. Topi yang kukenakan bergoyang ke kanan ke kiri mengikuti angin. Mataku tertutup membayangkan amukan gelombang awal tahun. Mulutku memang tidak mengeluarkan lisan, tapi jelas hatiku berisik. Apakah aku khawatir? Tentu saja. Aku tidak bisa berenang dan ini medannya laut lepas. 

Tapi menariknya dari perjalanan yang serius ini aku menarik satu pelajaran bahwa gelombang bisa memukul perahu, tapi keputusan untuk jatuh dan menyerah ada di kita. Yap, seandainya aku bilang stop atau tidak lanjut, motorace akan bertolak kembali dan aku selamat dari uji adrenalin itu. Tapi aku tidak akan merasa berani saat kembali dihadapkan dengan situasi sama, terlebih medan tempat tugasku dibatasi lautan luas. 


Kembali ke kalimat pembuka tadi. Pengalaman menantang diri itu membuatku merasa aku bisa dan tidak takut laut. Sadar tidak bisa bisa berenang, tapi aku berani. 

Laut Nabire tidak sekadar menguji nyali, tapi juga melatih kita untuk tantangan yang mungkin lebih ganas dari gelombang lautnya. 

Untung Ibu jadi guru, bukan dokter

Marah diam dan sayang

Jangan lupa minum

 Tupperware biru kesayanganku tidak pernah ketinggalan. Benda lucu ini selalu ku bawa, terlebih ke sekolah. Jangan tanya kenapa! Mengahadapi anak-anak SD dgn jenjang kelas dan berbagai karakter cukup menguras energi. Istilahnya, pagi baterai penuh, siangnya soak. 


Tahun ajaran baru anak-anak masuk satu minggu lebih dulu dari anak SMP. 

Itu jg alasan kenapa 'Doli' muridku yang sudah tamat SD dan kini duduk di bangku SMP di kota seolah ingin bernostalgia. 

Dia izin ikut masuk kelas dan janji tidak akan ribut ataupun buat onar. Benar saja, dia melakukan nya. 

Sampai di jam istrahat, anak-anak berhambur keluar ruangan untuk sekadar minum air ke rumah ataupun berburu sagu pernah buatan Mama. 

Aku duduk di kursiku, merogoh tas dan mengeluarkan buku kecil untuk kucoreteri dengan cerita random setengah hari ini. 

Dari sudut ruangan, Doli memperhatikanku. Lebih tepatnya dia melihat ke arah botol minum kesayanganku. 

"Ibu Vera tra berubah." Kalimat ini seakan kalimat protes dari seorang Doli. 

"Hah? Tra berubah apa Nang? " tanyaku penasaran. 

Doli menghela napas sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya

"Hahh. Ibu harus diingatkan minum air. Botol penuh sampe penuh. Ibu minum sudah" 

Astaga, dia seingat itu dengan kebiasaan burukku. Aku berani bilang kebiasaan buruk karena jelas minum itu harus. Apalagi menghadapi anak SD yang bisa dibilang memaksa kita berteriak. Bersyukur, Doli ingat hal itu. Aku rasa sedikit canggung dan malu. 

Ku teguk air dari botol sambil kupandangi wajah bahagia Doli, muridku yg tahun lalu masih kelas 6 SD. 

Satu perhatian kecil ini menyentuh hatiku. Doli mengenalku, dia memahamiku, dan aku terenyuh. 

Makasih Doli Ramar. Mantan ketua kelas terbaik di kelas Ibu guru Vera. 


Namamu abadi di soal cerita matematika

 Aku pernah lihat salah satu reels di instagram beberapa hari lalu. 

Kira-kira begini kalimatnya

"Aku bisa menulis, aku hobby menggambar juga jago menyanyi. Sekarang kamu maunya abadi di mana? Tulisan, gambar atau laguku? "

Aku suka kalimat itu. Seperti menanyakan di mana kita akan menyimpan satu nama istimewa. Ku tanya diriku, dimana aku menulis namanya? 


Oke, lagi-lagi dengan latar tempat yaitu sekolah. Saat itu aku membawakan mata pelajaran matematika. Eits, tunggu dulu. Lupakan sejenak tentang angka. Memang matematika tdk akan lepas dari nominal, tapi kali ini bukan itu poinnya. 

Matematika dalam istilah kontekstual adalah bagian dari bidang sosial juga. Yap, soal cerita. Yang namanya cerita pastilah ada tokoh/pelaku. Nah, biasanya aku akan menyebut mereka dalam nama orang yg jd subjek. 

Mulailah ku tuliskan soal cerita itu di papan tulis persegi panjang. Awalnya tidak ada komentar apapun, kelas hening dan serius sampai seorang anak bernama Valentina mengacungkan tangan untuk berbicara. 


"Ibu guru permisi. No 1 nama I****el, no 2 I****el, no 3 juga ada I****el. Ibu guru tidak bisa pakai  nama lain kah? Kitong pu nama tara bae jadi" Valentina protes. 

Suri menimpali lagi "Itu su. Ibu ingat I****el terus. Dia su SMP ibu. Sekarang ibu pu murid kitong ada Banyak lagi"

Ku perhatikan lagi contoh soal yang sudah menuju no 4 itu. Ternyata benar. 

Aku seperti kagok, wajahku jelas tersipu karena nama itu sangat dekat terasa. 

Karena sudah merasa canggung, ku ubah nama di nomor 2 dan 3 menggunakan nama anak didikku yg lain, Yafet dan Alestio". Lanju soal ke empat kugunakan nama Suri dan Valen

Penggantian nama itu seakan mengatakan "Valen, sudah toh? "

Perkara nama saja moh. 


Meminjam makna quotes ig di awal

"Namamu abadi di soal cerita matematikaku"

Lucu ya, begitulah rules hidup ibu guru. Bersyukur su hahhaha

Setidaknya murid-murid ku tahu bahwa nama itu gak memiliki tempat istimewa di hatiku walau mereka mengira dia adalah muridku yg sudah berada di bangku SMP. Tidak apa, bae ju. 


Sepanjang jalan, sesingkat tujuan = Matematika

 Ada kutipan bilang gini "pasti adalah ketidakpastian. Ketidakpastian itu pasti".

Tapi orang eksakta meyakini bahwa Matematika, sains dan teman-temannya adalah ilmu Pasti, tidak neko-neko. 

Ya, ya. Tidak, tidak. 

Hanya dua keputusan itu. 

Lalu apa yang akan terjadi saat anak-anak menanyakan muasal matematika yang rumit itu seakan diringkas? 

Ada format: dik (diketahui), dit (ditanya) dan jb (jawab). Format itu tidak berdiri sendiri, malahan diawali dengan cerita bak wacana panjang yang memainkan logika, nyatanya di akhir hanya menyisakan jawaban berupa digit angka. Kesel gk sih? Tapi itulah kepastian matematika. Salah menaruh angka atau satuan, ya salah. Tidak seperti bahasa yang Banyak permakluman opini. 

Proses yang sama bukan berarti akan menghasilkan jawaban yang sama di akhir. Pun demikian saat proses berbeda, bisa saja berakhir pada jawaban yang sama. 

Aku selalu memberi pengertian kepada muridku bahwa matematika yang dilabeli ilmu pasti bukan berarti menekan kita. 

Karna sejatinya bukan tujuan/jawaban akhir yang terpenting tetapi proses atau jalannya. 

Itu makanya aku tdk selalu berpatokan ke hasil akhir yang mereka temuka, tetapi lebih ke menilik langkah-langkah matematis dan logika mereka. 

Selalu ada penghargaan dari jalan dan cara yang teratur dan terperinci, walau pada akhirnya menemukan hasil yg salah. Tidak masalah. Saat menemukan akhir yang salah, secara tidak langsung itu akan menggerakkan otak untuk kembali mencoba menemukan dengan cara lain. 

Itu poinnya. Semangat anak-anak ibu guru


Anak majelis gereja

 Sore itu aku merasa energi terkuras habis. Anak-anak di Goni 11 12 dengan anak Napan. Mereka talkative walau aku terbilang baru di sana. 

Saat sedang menikmati istrahat sore di sudut ruang depan, tiba-tiba terdengar ketukan di badan pintu sambil berteriak. "Ibu, su sore nih. Kiyong petik selasa air sudah"

Aku terkesiap mengucek mata yang masih bengkak karena jelas jam istrahat masih kurang. Ku intip wajah penuh semangat itu dari celah pintu. Itu pulalah yang menggerakkan kita memotong jam tidur siang. 

"Aee, ibu baru aja istrahat. Kalian cepat sampe" Protesku. "Ibu, su jam 4,kitong jalan sudah. Selada air ada di kebun pantai sana e" Ucap Sandra tidak sabaran. 

Aku yang merasa masih lemas kembali menjawab seadanya. "Banyakkah tidak e? Ibu suka itu sayur juga jadi"

Dengan cepat Yefta membalas "Ibu, selasa air bayak sampe. Ibu petik sampe petik. A tra tipu Ibu, percaya. A pu Bapa majelis jadi"

Kalimat terakhir cukup membuatku mengembangkan senyum simpul. Dalih anak majelis nih modal meyakinkan Ibu guru. Tapi kulihat raut wajah Yefta seyakin itu, aku menangkapnya. 

Benar saja, di kebun pantai selasa air terlalu banyak. Ini adalah pengalaman pertamaku karna setauku tumbuhan ini tumbuh di tanah kering berlumpur. Nyatanya di Goni, tersebar di seluruh rawa-rawa dekat akar bakau. 

Ah, si anak Majelis itu memang tidak tipu. 

Diagnosa ngasal

 Hello readers. 

Aku mau mengingat kembali kisah lucu dari anak-anak Goni. 

Saat itu jam istrahat, aku duduk sendiri di kelas kala anak muridku memilih pulang ke rumah. Biasanya mereka memang memanfaatkan jam istrahat untuk makan di rumah. Bukan sekadar karna lapar, tapi pagi tidak sempat sarapan di rumah. Saat kutanya alasan tdk sarapan, mereka akan menuturkan kalau Mama tidak memasak. Kalau jam 10, ya harap-harap sudah ada makanan di dapur. Setidaknya satu porna ataupun pisang bakar untuk tahan alas (pengganjal perut) 

Di tengah hening, tiba-tiba Rachel dan Yanke menghampiriku seperti terengah-engah. 

Rachel seperti tidak sabar untuk bercerita. 

Mataku menangkap semangat di balik sikap lugu mereka. 

Yanke memulai pembicaraan "Ibu, di sini ada barang apa?" tanya Yanke sembari menunjuk bagian dada bawahnya. Kalau secara anatomi, Yanke seolah memastikan organ dekat rusuk itu. 

"Di sana ada paru-paru, jantung, dan agak bawah sedikit ada hati" tuturku

"Ibu, sa pu paru-paru bergetar" tambahnya

"Ehhh, maksud? " 

"Ibu, sa lari sampe paru-paru dagdigdug" jawabnya ngasal

"Oh, itu bukan paru-paru. Itu jantung yg memompah darah. Nah, pas kamu lari, jantung memompa darah lebih cepat. Makanya kamu rasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Itu tidak apa-apa kok" kelasku pelan. 

Rachel yang sedari tadi berusaha mengatur napas, meminta perhatianku saat akan berbicara. 

"Ibu, sa ingat. Yanke pernah sakit di bagian dada. De bilang itu hati picah"

Kalimat itu terasa menggelikan. Gimana? Hati picah? Diagnosa macam apa itu? 

Aku terkekeh, sangat jelas. 

"Ehh? Hati picah" kuulang untuk memastikan tidak salah dengar

"Iya Ibu. Yanke pu hati picah" tegas Rachel

Aku dan Yanke sempat saling pandang sebelum kembali melepas gelak.

Bisa-bisanya anak ini mendiagnosa diri sendiri. Pung seram lai. 



Domba bukan sembarang domba

Kemarin aku membawakan materi tentang sifat penyusunan dan kegunaan benda. 

Sempat dihubungkan juga dengan sumber daya alam. Nah, hewan dan tumbuhan adalah contoh sumber daya alam yang dapat diperbarui, artinya terus berkembang dan ada. 



Dari jenis sumber daya alam itu, kita menjurus ke kegunaan atau pemanfaatannya. 

Membahas tentang tumbuhan, rasaku sydah clear. Anak-anak antusias mengeluarkan ide mereka tentang tumbuhan/pohon yg sering dimanfaatkan. Aku juga belajar Banyak karena ada beberapa nama spesies yg aku tahu dan temui setelah di sini, dan itu ku dapat dari anak didikku. 



Sampai tibalah saatnya Yemima angkat tangan. "Ibu, domba ini biri-biri toh?"tanyanya antusias. 

" Betul Mima. Dia yg punya bulu putih talingkar tuh." Yemima senyum dan menganggung tanda mengerti. 

"Ibu, a tau no 2 ini"

Semua mata refleks melihat ke arah Yafet

Dengan percaya diri dia melisankan kalimat pelan-pelan. 

"Domba digunakan sebagai korban persembahan kepada Tuhan. Seperti Habel tuh Ibu".

Aku terdiam, kok malah lari ini pembahasan? 

IPA merembes ke agama. 

Belum sempat aku menimpali, Valen seakan tahu isi hatiku

" Eh Yafet. Kitong bahas IPA, Sumber Daya Alam! "

Kelas semakin alot, bak diskusi anak kuliah semester tua. Ku beri waktu buat mereka memberikan respon dan pendapatnya. 

Karsina yang sedari tadi diam tiba-tiba mengacungkan tangan pertanda izin bicara. 

"Teman-teman, domba memang jadi korban persembahan di Alkitab. Tapi kitong belajar IPA. Ibu sa ma jawab. Domba itu yang dimanfaatkan dagingnya, jadi erwe domba, bulu/kulitnya jadi baju toh Ibu? Tanduk ju boleh jadi hiasan dinding."

Seperti deklamasi, jawaban Karsina membuatku merasa puas. 

Ku hadiahih mereka dengan tepukan tangan. Namun jauh di dalam hatiku merasa bangga karena mereka sudah mampu mengeksplorasi pendapatnya. Tidak ada yang salah, mereka hanya perlu diarahkan sedikit.

Di mana bayangan jam berapa?

 Hari ini aku membawakan materi tentang sifat-sifat cahaya. 

Seperti biasa, Anak-anak lebih mudah mengingat hal baru jika digubah bahasanya menjadi nyanyian. 

Sifat cahaya digubah jadi satu lagu yang nadanya sudah familiar, yaitu "abang tukang bakso"


Ada enam macam sifatnya cahaya

Satu merambat lurus

Dua dipantulkan

Tiga bisa tembus benda-benda yang bening

Empat dibiaskan

Lima diuraikan menjadi pelangi

Jika kena benda membentuk bayangan, itu sifat ke-enam. 


Gimana sobat pembaca? Pastinya sudah bisa langsung dinyanyiin dgn nada lagu abang tukang bakso toh? 


Nampaknya sifat cahaya ke-enam menarik perhatian salah satu muridku, namanya Yunus Binur. Hari ini dia piket dan pulang paling terakhir dari teman-temannya karena harus memastikan kelas bersih dan aman. 

Sambil membereskan meja dan memasukkan alat tulis ke tasku, kudengar Yunus memanggil setengah berteriak. 

"Ibu, a tebak ini jam berapa"

Aku menanggapi dengan santai "jam berapa hayo? "

Yunus menimpali "Belum pas jam 12 Ibu, sedikit lagi"

"Kamu tahu dari mana? " tanyaku seakan penasaran. Lalu Yunus melambaikan tangan seolah memanggilku lebih dekat "Ibu lihat e, sa pu bayangan masih ada. Belum diatas sa pu kepala. Artinya belum pas jam 12 Ibu"

Ku lirik jam tanganku, benar saja, ini baru jam 11.50. Jam 12 kurang 10 menit. 

Yunus yang menyadari aku membenarkan ramalannya tersenyum menang. 

"Ibu, betul toh? " Akupun mengangguk tanda mengiyakan. 

"Ibu, a tunggu sedikit lagi e. Kalau bayangan su hilang, a pulang"

Aku terkekeh melihat tingkah anak muridku yang satu ini. Aku tidak mau membatasi rasa ingin tahunya. Ku temani ia di tengah lapangan sambil kami mengamati pergerakan bayangan. 

Wah, aku merasakan proses belajar Yunus yang natural. 

Bukan sekadar membaca teori bayangan, lebih dari itu Yunus mengeluarkan sikap ilmiah yg jd modal awal seorang pecinta sains. 

Aku bersyukur, anak didikku bisa mengelaborasi apa yg dipelajari di sekolah. Memang nampak sederhana, tapi tidak semua orang mau melakukannya. 

Terimakasih untuk bahagia sederhana di hari ini Yunus. Ibu tahu kamu adalah bibit pembelajar. Teruslah bertanya, teruslah membuktikan. 

Siang ini terik, tapi hati Ibu guru terasa sejuk. 

Jika pagi tadi anak-anak dengan ruangnya bercerita jam mencari (melaut) orangtua mereka yang berpatokan pada tinggi rendah matahari, siang hari Yunus mengerti bahwa hari ini dia pulang sekolah sebelum jam 12 tepat. 

10 menit untuk belajar dan mengajari diri sendiri. 

Sepenuhnya percaya