Selasa, 25 Juni 2024
Nak, bisakah bicaramu lebih lambat atau ibu akan memintamu mengulanginya n kali?
Rabu, 12 Juni 2024
Jas untuk Bapak dan Sanggul untuk Mamak
Hai... Saya ingin flashback sedikit dari potongan cerita hidupku. Beberapa tahun lalu Saya pernah merantau di Malaysia, benar sebagai TKI (sekarang menggunakan istilah PMI). Kontrak kerja yang seharusnya 2 tahun, kupotong jadi 1,5 tahun karena cita-cita.
Diakhir masa-masa kerja di Malaysia, kalau tidak salah sekitar 3-4 bulan sebelum kepulangan, Saya bertanya kepada orangtua melalui WA, apa yang mereka inginkan saat aku pulang? Mungkin ekspektasi Saya saat itu saat dangkal teman-teman. Saya berpikir orangtua Saya akan menginginkan barang yang mahal atau yang hanya bisa dicari di Malaysia. Tapi ternyata salah. Saya tidak sedang menggambarkan gajiku yang mampu mengabulkan nominal yang dibutuhkan, tidak. Tetapi Saya hanyalah anak yang ingin melihat orangtua bahagia, apalagi karena Saya akan mengakhiri petualangan di negeri Upin Ipin ini. Kalian tahu mereka menginginkan apa? Bapak ingin Jas dan Mamak ingin sanggul. Sesederhana itu.
Saya jelas heran, kenapa bukan tas dan sepatu bagus atau setidaknya barang bermerklah? Saya tanya dong kenapa Bapak dan Mamak malah meminta Jas dan Sanggul. Jawaban mereka membuatku merelakan bening mengalir dari pelupuk mata malam itu.
Bapak: Boru (sebutan untuk anak perempuan di suku Batak) Bapak cuma pengen Jas, pasti Bapak akan terlihat lebih ganteng setelah memakainya.
Saya berusaha menebak arah perkataan Bapak. Ya secara Jas bukanlah pakaian sehari-hari, hanya momen spesial yang mengharuskan seseorang memakai Jas. Tetapi kemudia timbul dibenakku, mungkin saja Bapak hanya ingin karena tidak memiliki jas sebelumnya. Di momen seperti babtisan kami saja dulu dia meminjam jas tetangga, ini kudapat dari cerita Mamak dulu. Saya tidak banyak tanya, hanya meng-iyakan saja.
Beralih ke Mamak. Diluar dugaan, Mamak ingin sanggul. Jelas bukan sanggul biasa ya guys, karna Saya tahu betul, kalau hanya untuk pesta adat, Mamak punya banyak. Tetapi kenapa harus minta sanggul lagi? Saya sebenarnya agak curiga. Tapi ya Saya tidak mau mendebat atau bertanya terlalu dalam, yang penting Saya tahu keinginan orangtua Saya saat pulang merantau nanti.
Sesuai janji, Saya memberikan sejumlah uang ke Mamak, kebetulan Saya ikut arisan, jadi cukuplah untuk membeli apa yang mereka inginkan, bahkan untuk biaya kuliah 2 semesterku masih bisa. Saya percayakan semua ke Mamak untuk mengelolahnya.
Singkat cerita, Saya telah melewati perkuliahan 4 tahun dengan segala lika-likunya. Saya lulus dan akan diwisuda. Seperti biasa, semua orangtua akan sangat bahagia nenghadiri salah satu momentum penting dalam hidup anaknya, apalagi Saya Sarjana pertama di keluarga. Saya memilih Biru langit sebagai dress code Wisudaku. Untuk kebaya itu dihandle oleh Saya sendiri, namun kemeja Bapak dan adik-adikku diurus oleh Mamak. Saya bersyukur mendapat gelar "CUMLAUDE" bahkan menjadi mahasiswa terbaik di prodiku, tentunya orangtua Saya adalah yang paling bangga. Mereka akan jadi undangan VIP dan duduk di barisan paling depan.
Seminggu sebelum wisuda Saya pulang ke rumah Orangtua di Sergai. Setelah bincang-bincang mengenai persiapanku, tiba-tiba Mamak membuka pembicaraan.
Mamak: Inang, makasih karena kamu sudah membelikan Mamak sanggul hari itu, nanti Mamak pakai sanggul itu di acara wisudamu. Mamak pasti sangat cantik. (Percakapan asli menggunakan bahasa Batak Toba ya guys).
Saya hanya tersenyum sembari memikirkan sesuatu. Setelah itu Bapak nyeletuk
Bapak: Boru, Jas yang pernah kamu belikan ini akan menjadi Jas kesayangan Bapak, karena pertama kali memakainya untuk acara Wisuda Boru Bapak, kamu akan jadi sarjana.
Saya tersentuh, baper malam itu, saya berusaha memudarkan ekspresi haru yang mendalam. Saya kembali mengingat momen dimana kedua orangtua saya menginginkan Jas dan Sanggul. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk dipakai di acara wisuda saya. Setelah 4 tahun benda itu ada, saya baru mengerti artinya. Indah sekali jalannya Tuhan. Hanya sesederhana Jas Bapak dan Sanggul Mamak, tapi saya bangga. Saya bangga pada mereka karena telah mengantarkan saya mencapai gelar Sarjana.
Jas dan Sanggul untuk Mamak adalah salah satu part terbaik dalam cerita anak petani. Terimakasih Bapak, Mamak.
#LVS
Senin, 10 Juni 2024
Dari Sumatera ke Papua
Hai, berkabar lagi dengan kisah perjalananku. Aku selalu percaya kemana Tuhan membawaku bukanlah satu kebetulan semata. Ada rencana baik yang sudah Tuhan siapkan. Ini kisahku, tulisan yang sewaktu-waktu akan ku edit (bertambah) seperti penyertaan Tuhan yang akan selalu dihidupku.
Ada banyak rencana yang sudah kususun dibenakku setelah aku menamatkan perkuliahan. Entah itu printilan kecil ataupun planing besar dengan segala estimasi linimasanya. Ada yang selesai sesuai rencana, namun banyak juga yang gagal. Ya, Tuhan memberantakkan dengan satu maksud, untuk kebaikanku.
Pulau Sumatera yang didalamnya aku sangat betah berlama-lama ternyata menggelisakan hatiku. Merantau lagi? Awalnya aku ragu, berharap ini hanya bualan anganku untuk mencari pengalaman. But now, i'm Here. Di Papua. Penempatan yang jauh, sangat jauh. Lantas, apa aku marah atau kecewa? Tentu tidak. Malah aku sangat-sangat bersyukur terlebih hari-hari ini orang-orang memastikan aku adalah salah satu orang yang beruntung terdampar di salah satu pulau terbesar di Indonesia ini. Mereka juga pengen, tapi kesempatan tidak menjawab inginnya.
Aku berangkat ditengah sesak meninggalkan kenangan kehidupan training di asrama yang sangat nyaman. Teman-teman yang sudah ku anggap saudara, makan dan istrahat teratur dan lumayan cair dengan seluruh aturan yang ada. Seharusnya aku tidak bawa pikir terlalu, bukankah kita juga awalnya tidak kenal dan sedekat itu? Bukan mustahil aku bisa mengulangnya, walau keadaan membuat agak sedkit sulit.
Perbedaan waktu. Ya, aku agak sulit menerima kenyataan bahwa sudah berada di wilayah Indonesia timur, dimana akan terpapar sinar fajar lebih dulu lalu ditinggalnya benamnya matahari lebih awal. Belum lagi perbedaan waktu, 2 jam lebih cepat dari WIB, seperti nyata membuat badanku terasa lebih berat.
Percayalah teman, ini hanya sebuah pengantar, masih bagian kulit saja. Aku akan berpetualang di Pulau cantik ini tepatnya di Desa Napan Yaur, Nabire. Aku akan terbiasa dengan pantai dan segala kondimennya. Berperang dengan nyamuk/agas, mengelus dada setiap kali mendengar harga barang yang terkesan diluar nalar. Ah, aku kehilangan selera untuk membeli inginku di kota ini. Tapi aku akan lebih hemat, bagus dong.
Ohh Papua. Aku tidak pernah membayangkan akan berlabuh untuk beberapa waktu disini. Bahkan sejak SD pun. Tapi aku ada disini, dan aku tahu, ini bukan kebetulan.
Senin, 03 Juni 2024
Jangan Khawatir, Tuhan besertamu.
-
Ku datang dihadiratMu Membawa segnap hidup Ku ingini dekat denganMu Rasakan ketenangan Kau arahkan pandangMu Menilik jauh ke dalam Lubuk hat...
-
Saat ku ingini pelangi Kau turunkan hujan Saat kuingini melati Kau beriku taman. Lebih dari yang kuingini Kau berikan Lebih dari yang kupik...
-
Tentang cita-cita, semua orang pasti pernah mendamba 1 masa depan yang indah yang didalamnya dia nyaman dan hidup. Apalagi jika kita menany...