Selasa, 25 Juni 2024

Nak, bisakah bicaramu lebih lambat atau ibu akan memintamu mengulanginya n kali?

Aku sudah sangat biasa mendengar omelan Mamak-mamak Batak dengan kecepatan yang katanya hendak mengimbangi kecepatan cahaya (meski jelas tidak mungkin), tapi yang ini hampir membuatku menyerah. 
Benar, setiap proses orang tidaklah sama, ada yang cepat, ada pula yang lambat. Sialnya, kali ini prosesku akan sangat lambat, ini hanya opini tidak populerku, maaf.
Aku sudah memasuki minggu kedua setelah menapakkan kaki di Nabire, khususnya Desa Napan Yaur. Namun, kali ini aku bergumul. Kalian tahu apa pergumulanku? Yap, bahasa dan komunikasi. 
Aku tidak menyesali bahasa yang terkesan kaku dan baku dalam keseharian. Namun, jika menyangkut komunikasi dua arah yang akan rutin kuhadapi, ini sangat menggelisahkan hatiku. Aku sering ngelag saat anak-anak membawaku dalam percakapan serius ataupun canda. Risikonya aku kehilangan momen lucu dan disalahmengerti saat berada dalam keadaan serius. Aduh Nak e, ko pu omong cepat sampe cepat, Ibu Guru trada paham. [Coba bicara pelan-pelan karena ibu tidak mengerti]. Aku selalu meminta mereka mengulang perkataannya, 2-3 kali. Berasa ujian listening TOEFL. Apalagi banyak kosakata baru yang kudapati pertama kali seumur hidup. Sungguh, aku harus bekerja keras dengan kelima inderaku. Beruntungnya anak-anak didikku mengerti dan mau membantu. 
Ah, sepertinya aku buku catatan khusus untuk mencatat perbedaharaan kata ini. Kadangpun terbersit dipikiranku, apa cara cepat mengerti mereka? Akupun ingin menikmati canda dan berargumen dalam pembicaraan serius dengan mereka. Aku masih di tahap mengamati, semoga aku bisa. 

Rabu, 12 Juni 2024

Jas untuk Bapak dan Sanggul untuk Mamak

Hai... Saya ingin flashback sedikit dari potongan cerita hidupku. Beberapa tahun lalu Saya pernah merantau di Malaysia, benar sebagai TKI (sekarang menggunakan istilah PMI). Kontrak kerja yang seharusnya 2 tahun, kupotong jadi 1,5 tahun karena cita-cita. 

Diakhir masa-masa kerja di Malaysia, kalau tidak salah sekitar 3-4 bulan sebelum kepulangan, Saya bertanya kepada orangtua melalui WA, apa yang mereka inginkan saat aku pulang? Mungkin ekspektasi Saya saat itu saat dangkal teman-teman. Saya berpikir orangtua Saya akan menginginkan barang yang mahal atau yang hanya bisa dicari di Malaysia. Tapi ternyata salah. Saya tidak sedang menggambarkan gajiku yang mampu mengabulkan nominal yang dibutuhkan, tidak. Tetapi Saya hanyalah anak yang ingin melihat orangtua bahagia, apalagi karena Saya akan mengakhiri petualangan di negeri Upin Ipin ini. Kalian tahu mereka menginginkan apa? Bapak ingin Jas dan Mamak ingin sanggul. Sesederhana itu.

Saya jelas heran, kenapa bukan tas dan sepatu bagus atau setidaknya barang bermerklah? Saya tanya dong kenapa Bapak dan Mamak malah meminta Jas dan Sanggul. Jawaban mereka membuatku merelakan bening mengalir dari pelupuk mata malam itu. 

Bapak: Boru (sebutan untuk anak perempuan di suku Batak) Bapak cuma pengen Jas, pasti Bapak akan terlihat lebih ganteng setelah memakainya. 

Saya berusaha menebak arah perkataan Bapak. Ya secara Jas bukanlah pakaian sehari-hari, hanya momen spesial yang mengharuskan seseorang memakai Jas. Tetapi kemudia timbul dibenakku, mungkin saja Bapak hanya ingin karena tidak memiliki jas sebelumnya. Di momen seperti babtisan kami saja dulu dia meminjam jas tetangga, ini kudapat dari cerita Mamak dulu. Saya tidak banyak tanya, hanya meng-iyakan saja. 

Beralih ke Mamak. Diluar dugaan, Mamak ingin sanggul. Jelas bukan sanggul biasa ya guys, karna Saya tahu betul, kalau hanya untuk pesta adat, Mamak punya banyak. Tetapi kenapa harus minta sanggul lagi? Saya sebenarnya agak curiga. Tapi ya Saya tidak mau mendebat atau bertanya terlalu dalam, yang penting Saya tahu keinginan orangtua Saya saat pulang merantau nanti. 

Sesuai janji, Saya memberikan sejumlah uang ke Mamak, kebetulan Saya ikut arisan, jadi cukuplah untuk membeli apa yang mereka inginkan, bahkan untuk biaya kuliah 2 semesterku masih bisa. Saya percayakan semua ke Mamak untuk mengelolahnya. 

Singkat cerita, Saya telah melewati perkuliahan 4 tahun dengan segala lika-likunya. Saya lulus dan akan diwisuda. Seperti biasa, semua orangtua akan sangat bahagia nenghadiri salah satu momentum penting dalam hidup anaknya, apalagi Saya Sarjana pertama di keluarga. Saya memilih Biru langit sebagai dress code Wisudaku. Untuk kebaya itu dihandle oleh Saya sendiri, namun kemeja Bapak dan adik-adikku diurus oleh Mamak. Saya bersyukur mendapat gelar "CUMLAUDE" bahkan menjadi mahasiswa terbaik di prodiku, tentunya orangtua Saya adalah yang paling bangga. Mereka akan jadi undangan VIP dan duduk di barisan paling depan.

Seminggu sebelum wisuda Saya pulang ke rumah Orangtua di Sergai. Setelah bincang-bincang mengenai persiapanku, tiba-tiba Mamak membuka pembicaraan. 

Mamak: Inang, makasih karena kamu sudah membelikan Mamak sanggul hari itu, nanti Mamak pakai sanggul itu di acara wisudamu. Mamak pasti sangat cantik. (Percakapan asli menggunakan bahasa Batak Toba ya guys). 

Saya hanya tersenyum sembari memikirkan sesuatu. Setelah itu Bapak nyeletuk

Bapak: Boru, Jas yang pernah kamu belikan ini akan menjadi Jas kesayangan Bapak, karena pertama kali memakainya untuk acara Wisuda Boru Bapak, kamu akan jadi sarjana. 

Saya tersentuh, baper malam itu, saya berusaha memudarkan ekspresi haru yang mendalam. Saya kembali mengingat momen dimana kedua orangtua saya menginginkan Jas dan Sanggul. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk dipakai di acara wisuda saya. Setelah 4 tahun benda itu ada, saya baru mengerti artinya. Indah sekali jalannya Tuhan. Hanya sesederhana Jas Bapak dan Sanggul Mamak, tapi saya bangga. Saya bangga pada mereka karena telah mengantarkan saya mencapai gelar Sarjana. 

Jas dan Sanggul untuk Mamak adalah salah satu part terbaik dalam cerita anak petani.  Terimakasih Bapak, Mamak. 


#LVS


Senin, 10 Juni 2024

Dari Sumatera ke Papua

Hai, berkabar lagi dengan kisah perjalananku. Aku selalu percaya kemana Tuhan membawaku bukanlah satu kebetulan semata. Ada rencana baik yang sudah Tuhan siapkan. Ini kisahku, tulisan yang sewaktu-waktu akan ku edit (bertambah) seperti penyertaan Tuhan yang akan selalu dihidupku.

Ada banyak rencana yang sudah kususun dibenakku setelah aku menamatkan perkuliahan. Entah itu printilan kecil ataupun planing besar dengan segala estimasi linimasanya. Ada yang selesai sesuai rencana, namun banyak juga yang gagal. Ya, Tuhan memberantakkan dengan satu maksud, untuk kebaikanku. 

Pulau Sumatera yang didalamnya aku sangat betah berlama-lama ternyata menggelisakan hatiku. Merantau lagi? Awalnya aku ragu, berharap ini hanya bualan anganku untuk mencari pengalaman. But now, i'm Here. Di Papua. Penempatan yang jauh, sangat jauh. Lantas, apa aku marah atau kecewa? Tentu tidak. Malah aku sangat-sangat bersyukur terlebih hari-hari ini orang-orang memastikan aku adalah salah satu orang yang beruntung terdampar di salah satu pulau terbesar di Indonesia ini. Mereka juga pengen, tapi kesempatan tidak menjawab inginnya.

Aku berangkat ditengah sesak meninggalkan kenangan kehidupan training di asrama yang sangat nyaman. Teman-teman yang sudah ku anggap saudara, makan dan istrahat teratur dan lumayan cair dengan seluruh aturan yang ada. Seharusnya aku tidak bawa pikir terlalu, bukankah kita juga awalnya tidak kenal dan sedekat itu? Bukan mustahil aku bisa mengulangnya, walau keadaan membuat agak sedkit sulit.

Perbedaan waktu. Ya, aku agak sulit menerima kenyataan bahwa sudah berada di wilayah Indonesia timur, dimana akan terpapar sinar fajar lebih dulu lalu ditinggalnya benamnya matahari lebih awal. Belum lagi perbedaan waktu, 2 jam lebih cepat dari WIB, seperti nyata membuat badanku terasa lebih berat. 

Percayalah teman, ini hanya sebuah pengantar, masih bagian kulit saja. Aku akan berpetualang di Pulau cantik ini tepatnya di Desa Napan Yaur, Nabire. Aku akan terbiasa dengan pantai dan segala kondimennya. Berperang dengan nyamuk/agas, mengelus dada setiap kali mendengar harga barang yang terkesan diluar nalar. Ah, aku kehilangan selera untuk membeli inginku di kota ini. Tapi aku akan lebih hemat, bagus dong. 

Ohh Papua. Aku tidak pernah membayangkan akan berlabuh untuk beberapa waktu disini. Bahkan sejak SD pun. Tapi aku ada disini, dan aku tahu, ini bukan kebetulan. 



Senin, 03 Juni 2024

Jangan Khawatir, Tuhan besertamu.

Mazmur 55:23a
Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! 

Ayat ini aku dapat saat menerima tumbler bertuliskan namaku. Ya, di packagingnya ada selembar ayat emas. Kini 2 minggu hingga akhirnya aku kembali merenungkan pesanNya. Aku sekhawatir itu ternyata. 
Sebagai manusia biasa, sangatlah wajar apabila kita memiliki rasa khawatir. Khawatir akan pekerjaan, khawatir akan keluarga, khawatir tentang TH, khawatir dengan masa depan dst.
Pertanyaannya, apakah kontribusi kekhawatiran itu?

Matius 6:27 
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
(Terjawab bukan?)

Ini kesaksianku.
Aku adalah seseorang yang sangat sulit mengingat jalan, sebaliknya mengingat nama orang aku sangat Pro. Satu kali aku pergi ke pasar senen bersama beberapa temanku, seperti biasa aku hanya akan mengekor kemana mereka pergi. Satu ketika aku tertinggal bersama salah satu teman, aku memanggilnya Kakak Sesil, sempat pikirku tertinggal berdua tidaklah terlalu buruk. Kakak Sesil fokus memilih barang Trift, aku yang tidak menemukan apa yang kucari menunggu beliau sembari ikut mengacak-acak barang, kali aja ada yang sor. Fyi, aku seorang pembosan. Kuputuskan beranjak melihat-lihat ke toko lain. 3 kali aku keliling dengan rute Lurus belok kanan dari titik awal, nyatanya Kak Sesil belum selesai memilah milih barang. Akupun menambah jarak kebosananku sampai titik dimana aku tidak ingat jalan pulang sama sekali. Benar, aku tersesat. Sebagai pribadi yang panikan, aku berusaha tenang sambil memberi kabar dan menanyakan posisi Kak Sesil. Ternyata beliau sudah turun bahkan mendekati pintu keluar. Aku diarahkan menuju pintu keluar di Pintu Barat. Apakah aku khawatir setelah itu? Jujur teman-teman, aku jauh lebih tenang, bahkan masih sempat menikmati riuh keramaian Pasar Senen dengan semerbak Triftnya. Yang awalnya aku takut, khawatir, bahkan bingung, bisa sampai dan berkumpul dengan rombongan kembali. Kenapa? Yes, karena aku menaru percaya kepada mereka. Aku yakin, teman-temanku tidak akan tega membiarkanku sendiri dengan rasa tegang dan panik disana. Mereka menunggu, menuntun dan menyambutku saat kembali. Kisahku adalah gambaran. Jika teman-temanku saja bisa sebaik itu, apalagi Tuhan sang pemilik hidup. Dia memelihara, dia menjaga, menolong dan menuntun ke jalannya. Kuncinya percaya pada Tuhan, jangan khawatir. Jika Tuhan menjadi nahkoda hidup kita, percayalah semua akan baik walau skenario hidup kadang tidak bisa ditebak. 
Terimakasih telah membaca tulisanku ini, semoga menjadi berkat.

#LVS



 

Sepenuhnya percaya