Senin, 13 April 2026

Suanggi takut anak sekolah (Film Denias)

 Suanggi adalah gambaran makhluk halus yang rumornya bisa menyerupai manusia dengan tujuan menyamar. Itu cerita yang tersebar dengan lembut memaksa generasi demi generasi, secara khusus di Papua. 

Anak-anak kerap menceritakan ketakutannya terhadap makhluk itu. Entah benar ada admtau tidak aku juga tidak tahu. Yang pasti mereka meyakininya. 


Aku ingat betul momen perayaan hari guru 2025 lalu. Aku dan rekan kerja ngide ngajak anak-anak nobar di pantai. Bukan pakai layar lebar atau semacamnya. Hanya bermodalkan tripod, HP juga speaker besar di pinggiran pantai. Teduh dan rindangnya suasana terasa lebih nyaman dibandingkan duduk di bangku VIP bioskop kota-kota besar. 


Oh ya, film yang kami putar waktu itu adalah film Denias. Kisah anak Papua dengan sekerat cita-cita ingin bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik. Drama yang cukup menguras emosi tergambar dari ekspresi spontan anak didik kami sepanjang film diputar. 


Ada satu scene yang menarik perhatianku saat anak-anak di film Denias berbicara tentang suanggi. "Suanggi takut anak sekolah". Itu adalah penegasan dari anak sekolah saat mendapati teman mereka ketakutan terhadap makhluk gaib itu. Satu scene itu cukup memberi pengaruh untuk anak didik kami. 


" Ibu, jadi betul Suanggi takut anak sekolah? " Tanya Papol (Paulus) dengan nada polosnya. Aku senyum tipis lalu menjawab merespon kepolosan anak didikku ini. 

"Betul anak. Kamu lihat toh. Di film Denias anak sekolah tra takut deng suanggi. Malah Suanggi yang takut deng anak sekolah.". Kalimat itu seakan menjadi pemenang karena Paulus setakut itu dengan rumor suanggi. 


Di lain situasi pernah satu waktu aku sendirian di aula. Waktu itu sudah sore menjelang malam. Kegiatan di kampung Kapan perlahan menyepi. Barangkali anak-anak juga orangtua sibuk membersihkan diri. 

Aku yg duduk menikmati rona petang perlahan menghilang di balik gunung disamperin sekelompok anak. 

Ada Paulus, Elimelekh juga Agustina. 

"Selamat sore Ibu" Sapa mereka hampir bersamaan. "Selamat sore anak" Jawabku. 

Agustina yang terkenal cerewet langsung berbisik. "Ibu, su gelap. Ibu guru pulang sudah. Nanti ada suanggi. Ibu guru tra bisa jalan sendiri-sendiri". 

Hehhh? Suanggi langi, suanggi lagi. 

" Anak, Ibu tidak takut itu barang. Ibu percaya Tuhan, baru". Elimelekh tidak sabaran langsung menyambar omongan. "Ibu guru, di film Denias, suanggi takut anak sekolah bukan ibu guru". " Iyo ibu, betul. "Papol menimpali. 

" Kalau begitu, anak sekolah ibu nemanin ibu disini. Bagaimana?? "

"Siap Ibu. Kitong berteman ibu sudah" Papol seakan memimpin pasukan. 

Sore itupun ku nikmati bersama 3 orang penjaga hebat. Anak didikku yang hebat, tidak takut suanggi dan sayang dengan ibu gurunya. 

Makasih anak-anak ibu guru. 


Minggu, 12 April 2026

Lagu ala Ibu Vera

 Flashback ke acara Paskah Camp 2026

Saat itu Kakak Vikaris membawakan sebuah ilustrasi tentang anak yg senang berdoa tetapi juga bekerja. Yap, seperti kata pepatah Batak "tangiang satonga ni ulaon" Artinya doa itu setengah dari kerja, masih 50%. Supaya penuh haruslah dilengkapi 50%nya lagi dgn bekerja. 

Aku ikut mengamati kegiatan di kursi paling belakang. Sampai tiba-tiba di sesi tanya jawab, satu anak didikku berkata lebih tepatnya menyanyi

"Ora et labora, ora et labora. Berdoa dan bekerja, bekerja dan berdoa, berjalan dalam terang, berjalan di dalam trang Tuhan" 

Anak-anak setimnya berusaha mengingat sepertinya lagu itu tidak asing. 

Hening sehenak, tiba-tiba seorang anak berteriak "a tau itu lagu ibu Vera punya"

Yg lain menimpali "ito, betul. Ibu Vera yg ajar kitong"

Kakak Vikaris hanya menanggapi lalu senyum dan meminta anak-anak menyanyikan kembali. Dengan semangat mereka memadu suara memenuhi ruangan gereja. 

Aku yg mengambil jarak sedari tadi mulai mendekati mereka. "Ayok, nyanyi sama-sama".

Namaku melekat di lagu sederhana yg kuajarkan ke mereka. Ekspresiku mungkin datar, tapi hati kecilku tidak berhenti terharu. 

Mungkin suatu saat mereka akan mengingaku karena aku hidup dalam setiap lagu yg kuajarkan. 

Kakak pengasuh dipanggil Ibu

Roti Papua dan roti Amber

 Sagu adalah makanan pokok di sebagian besar wilayah Papua. Olahannya seperti Sagu bakar pernah, Sagu kelapa, papeda juga olahan lain. 

Aku sendiri paling suka dengan papeda, seperti kwetiau, makanan favoritku sedari di Medan. 


Sore itu saat break time, anak-anak mendapat camilan. Yap, ada dua jenis kudapan yg disediakan. Sagu bakar pernah dan roti tawar beragi. 

Aku duduk tepat di teras gereja mengamati sekeliling, lebih tepatnya mengawasi anak-anak. Sampai di saat beberapa anak datang ke arah ku. Sepertinya mereka ingin menikmati semilir angin pantai sembari berbincang. 

Dangan langkah tergopoh, seorang anak menghampiriku. Namanya Valentina Niwari. Dia membawa piring berisi dua roti berbeda tadi. Lalu menyodorkan ke arahku. 

Aku tersenyum dan berucap terimakasih. Belum sempat kuambil, jariku seakan beku dan kepalaku berpikir. Valen yang menyadari itu tiba-tiba berkata "Ibu, ambil su. Ini roti papua (tangannya menunjuk Sagu porna) yg satunya lagi roti amber (roti tawar beragi). 

"Hehh? Roti amber? Bagaimana Valen?"

"Ibu, Sagu porna nih orang Papua punya. Kalau roti ini, Ibu dong punya karna ibu Amber. Kulit terang sedikit toh?" balas Valen santai

Amber adalah sebutan untuk warga pendatang yg bukan orang Papua. 

"Jadi Ibu boleh ambil keduanya? "Tanyaku sedikit menggodanya. 

" Ibu ambil dari toh. A tebak ibu ambil roti Amber karna Ibu Amber. Tapi sa pu saran, Ibu harus Banyak makan roti Papua. Kan Ibu su tinggal di Papua " Balasnya dengan nada centil


"Lah, tadi katanya bebas, kok sekarang... "

Kalimatmu terputus. Valen membalas dengan senyum puas, nyatanya dia mengerjain ibu gurunya. 😁


Aku mengarahkan kamera HP ke dua roti berbeda itu. Satu pemandangan memerable suatu hari nanti. 

Kambing merah jambu Yunus

Sepenuhnya percaya