Selasa, 26 November 2024

Kaki burung elang untuk berjalan

 Mengajar di pedalaman memang haruslah berdasarkan kenyataan yang bisa mereka lihat, dengar dan rasakan. Jika hanya menuruti teori yang ada di buku rasanya sangat sia-sia apalagi buku ajar hanya ada 1, yang banyak itu buku cerita.

Hari itu kami belajar mengenai adaptasi/cara menyesuaikan diri makhluk hidup terhadap lingkungan. Jadi, makhluk hidup melakukan adaptasi dengan 2 alasan yaitu untuk mendapatkan makanan dan melindungi diri dari musuh.

Beberapa sesi diskusi berjalan alot, anak-anak sangat antusias mengutarakan pendapatnya. Nah, di sesi terakhir salah satu murid bertanya "Ibu, burung elang makan daging to? Dia pu beradaptasi deng apa?" "Deng kaki buat terbang dan paruh toh Ibu?" Timpal temannya cepat. Lalu dia membalas "Tidak, ko dengar kaki itu untuk berjalan bukan terbang" balasnya tidak mau kalah.

Setelah perdebatan panjang akhirnya aku buka suara. "Benar, kaki untuk berjalan anakkku. Tapi kaki elang itu memang disesuaikan untuk mencengkaram mangsa. Kulihat wajahnya tidak puas. Tapi di jam istrahat nanti, aku akan menjelaskan empat mata dengannya. Aku sadar, dia anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. 

Minggu, 03 November 2024

Ibu, kasih sa tugas

 Kehidupan sebagai guru memang se random itu. Bukan hanya tentang abjad dan angka, tetapi lebih ke mengenanali karakter anak didik yang beragam. Ada aja tingkah nyeleneh mereka yang bikin geleng-geleng kepala. Ada yang membuat kita stres dan memutar otak pembelajaran kreatif ada pula yang menuntut diberi perhatian dll.

Ceritaku kali ini tentang siwaku, LN kelas IV. Oh ya, sedikit ku jelaskan, aku ada guru pedalaman. Banyak keterbatasan yang kujumpai dilapangan. Salah satunya karena ketiadaan guru, memaksa aku dan partnerku membagi 6 kelas menjadi 2 kelas. Kelas besar dan kelas kecil. Aku mendapat bagian kelas besar,yakni 4, 5 dan 6. Sedangkan partnerku mengajar kelas kecil, yakni 1, 2 dan 3. 

Aku jujur sangat kesulitan, karena anak dengan tingkatan umur, kemampuan awal, dan motivasi belajar yang berbeda disatukan dalam 1 kelas. Ya, sampai sekarang aku masih belajar mengelolah kelas ini walau di saat kuliah dulu sudah mulai dikenalkan konsep berdiferensiasi. Tapi ini jauh lebih berat.

Anak dengan segala perbedaannya, ada yang cepat menangkap ada pula yang lambat. Nah nakku LN ini lumayan cepat menangkap pelajaran. Jadi menghadapi siswa begini memang aku akan memilih fokus ke anak yang lambat dan biasanya anak yang cepat menangkap pelajaran akan ku jadikan tutor sebaya. 

"Ibu, kasih sa tugas, baru sa boleh diam" kalimat yg untuk kesekian kali di lemparkan ke saya. Aduh, oke ini jadi pengayaan, tetapi tidak sesederhana itu. Si anak ini akan cenderung klasak klusuk jika sudah selesai, kan diawal sudah saya jelaskan dia sangat cepat. Dan kejadian itu berulang-ulang. Setiap saya memberi tugas untuknya untuk mengalihkan diri ke siswa yg terlambat, sebentar saja dia langsung muncul lagi membawa hasil pekerjaannya dan kembali meminta tugas.

Walah,jujur aku pusing. Fokus terpecah dan arghhh. Adakah solusi untukku?



Orang China adalah pahlawan?

 Tanggal 10 November merupakan momentum memperingati hari pahlawan. Sebagai seorang guru, wajar bagi saya untuk menceritakan bagaimana perjuangan para pahlawan untuk bangsa ini. Saat itu aku dan beberapa muridku sedang berbincang-bincang di halaman sekolah, kebetulan sudah sore dan cuaca nampak teduh. Tentu saja mereka jelas sangat antusias mendengar cerita dari Ibu Gurunya.

Sampai di bagian akhir cerita heroik itu, saya memunculkan satu pernyaan yang diikuti pertanyaan.

"Anak-anak, jadi pahlawan bukan hanya orang-orang yang berperang mati-matian untuk negara ini, di masa sekarang ada pahlawan-pahlawan yang juga berjuang untuk kita, yaitu orang tua kamu. Mereka mengusahakan hidup yang lebih baik untuk masa depanmu nanti."

Tiba-tiba salah satu anak nyeletuk "Ibu, jadi pahlawan itu adalah orang yang berjasa dalam hidup kita ya Bu?" "Iya, sayang". Tiba-tiba saya anak dissbelahnya datang memelukku "Terimakasih Ibu Guru, berarti Ibu adalah pahlawan". Jujur, mataku berkaca-kaca membalas pelukan anak didikku ini. 

Ditengah rasa haru itu tiba-tiba muridku yang duduk tepat di sampingku berkata "Ibu, orang Cina berarti pahlawan juga". Sontak kami kaget. "Kenapa kamu bisa bilang begitu Listra?" Timpalku. "Ibu, sa pu handuk ada tulisan buatan Cina". Lalu dia bergeser mendekatiku dan meraih sendal jepit yang ku gunakan. "Ibu, di Ibu pu sendal jepit ada tulisan Made in China", Ibu betul. Cina adalah pahlawan. Kal dong tra ada, ktong tra pu handuk kah sendal jepit". Dalam hatiku "Iya juga, tapi......."

Kami terdiam terdiam sesaat dan saling berpandangan. HAHAHAHAHHAHAHA.....

Tawa kami pun pecah. Benar-benar polos anak-anakku ini.


Pantun; tentang mentimun

 Jangan suka makan mentimun,

Mentimun itu banyak getahnya.

Jangan suka duduk melamun,

Melamun itu tidak ada gunanya.


Itulah satu pantun yang kami temui saat latihan soal Ujian Sekolah di kala sore. Aku pun tidak bisa membentuk pikiran anak didikku yang random itu. Wajar sih, mereka masih ingin tahu.

Aku menjelaskan di dalam pantun ada 2 bagian, baris 1 dan 2 itu sampiran lalu baris 3 dan 4 itu isi. Sampiran biasanya tidak berhubungan lanhsung dengan isi, memang random asal membentuk rima a-b-a-b. Inti dari pantun berada di isinya.

" Ibu, kenapa kita tra boleh makan mentimun? Mentimun enaΔ·, Ibu. Kalo ada getah, dibuang toh, bukan larang-larang ktong makan".

Hahahha random banget. Padahal dari awal sudah ku katakan Sampiran itu bebas, bukannya fokus ke maksud pantun di bagian ini, malah mikirin sampiran nyeleneh tentang mentimun.

Untungnya teman sebangkunya memberi pengertian "Magdal, ko paham pantun kah tidak?"πŸ˜†πŸ˜†(Valentina Niwari)

Fabel: Cerita tentang binatang

Cerita ada bermacam-macam. Sage, mitos, cerita rakyat, dongeng, fabel dll.

Kebetulan sore itu kami mendapati soal tentang fabel, dimana ada 2 tokoh penting di dalamnya, ular dan landak. Kedua hewan ini digambarkan sebagai tokoh protagonis. Namun, anak-anak tentu masih memiliki bayangan bahwa ular adalah hewan cerdik nan jahat.

Di dalam cerita, jelas bahwa seorang landak meminta izin kepada sang ular untuk tinggal bersama-sama di kandang ular. Tetapi duri landak melukai anak-anak ular. Ular meminta dengan sopan agar landak keluar dari sarangnya karna duri landak melukai anak ular. 

Lalu muncullah celetukan polos muridku, VN

"Tidak mungkin Ibu, tidak mungkin Ular berbicara dengan sopan, ular jahat Ibu"

Aku hanya tersenyum simpul san sedikit menahan gelak. Tiba-tiba, MS yg juga anak didikku dengan tegas setengah jengkel mengatakan "Ehhh Valen, kamu mengerti fabel kah tidak? Ini hanya cerita"

Setelah terdiam beberapa detik, kami bertigapun tertawa. 😁 Polosnya muridku.

Sepenuhnya percaya