Minggu, 03 November 2024

Ibu, kasih sa tugas

 Kehidupan sebagai guru memang se random itu. Bukan hanya tentang abjad dan angka, tetapi lebih ke mengenanali karakter anak didik yang beragam. Ada aja tingkah nyeleneh mereka yang bikin geleng-geleng kepala. Ada yang membuat kita stres dan memutar otak pembelajaran kreatif ada pula yang menuntut diberi perhatian dll.

Ceritaku kali ini tentang siwaku, LN kelas IV. Oh ya, sedikit ku jelaskan, aku ada guru pedalaman. Banyak keterbatasan yang kujumpai dilapangan. Salah satunya karena ketiadaan guru, memaksa aku dan partnerku membagi 6 kelas menjadi 2 kelas. Kelas besar dan kelas kecil. Aku mendapat bagian kelas besar,yakni 4, 5 dan 6. Sedangkan partnerku mengajar kelas kecil, yakni 1, 2 dan 3. 

Aku jujur sangat kesulitan, karena anak dengan tingkatan umur, kemampuan awal, dan motivasi belajar yang berbeda disatukan dalam 1 kelas. Ya, sampai sekarang aku masih belajar mengelolah kelas ini walau di saat kuliah dulu sudah mulai dikenalkan konsep berdiferensiasi. Tapi ini jauh lebih berat.

Anak dengan segala perbedaannya, ada yang cepat menangkap ada pula yang lambat. Nah nakku LN ini lumayan cepat menangkap pelajaran. Jadi menghadapi siswa begini memang aku akan memilih fokus ke anak yang lambat dan biasanya anak yang cepat menangkap pelajaran akan ku jadikan tutor sebaya. 

"Ibu, kasih sa tugas, baru sa boleh diam" kalimat yg untuk kesekian kali di lemparkan ke saya. Aduh, oke ini jadi pengayaan, tetapi tidak sesederhana itu. Si anak ini akan cenderung klasak klusuk jika sudah selesai, kan diawal sudah saya jelaskan dia sangat cepat. Dan kejadian itu berulang-ulang. Setiap saya memberi tugas untuknya untuk mengalihkan diri ke siswa yg terlambat, sebentar saja dia langsung muncul lagi membawa hasil pekerjaannya dan kembali meminta tugas.

Walah,jujur aku pusing. Fokus terpecah dan arghhh. Adakah solusi untukku?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya