Rabu, 24 Juli 2024

Anjing makan PAPEDA. Si Karnivora yang turun harga diri

 Selalu ada tingkah polos dari anak-anak. Mereka kerap belajar dari apa yang terlihat di matanya dan dengan sudut pandang mereka. Itu sebabnya mencekoki dengan teori tanpa bukti kontekstual akan percuma.

Saat itu aku mengagendakan akan mengajarkan anak-anakku penggolongan hewan berdasarkan makanannya, yaitu karnivora si pemakan daging, herbivora si pemakan tumbuhan dan omnivora si pemakan segala. 

Tibalah aku bertanya kepada mereka seputar hewan di sekitar beserta makanannya. "Ayam termasuk hewan pemakan apa, anak-anak?" Serempak mereka menjawab "rica (cabai) ibu". Terdengar aneh buatku yang notabenenya adalah amber guru baru di kampung ini. Dengan sedikit mengerjitkan dahi aku mengangguk sembari berpikir, apa iya ayam memakan cabai? Memang ayam termasuk omnivora, tapi memakan cabai aku baru tau.

Oke, ku lanjut dengan pertanyaan kedua. "Anjing makan apa?" Dengan kompak pula mereka nenjawab "Papeda ibu".

Aku semakin bingung dan menunjukkan ekspresi tidak percaya. Bener-bener, hewan disini pun beradaptasi seperti manusia. Tidak ada rotan, akarpun jadi. Tidak ada tulang, papedapun jadi. Bersyukur tanda tanyaku terjawab karena keesokan harinya aku melihat sendiri bahwa ayam memakan cabai, dan anjing memakan papeda. Wowwww...hewan garang itu harus menurunkan egonya, hahahha. Anak-anakku belajar kontekstual, dan mereka telh mengajariku.

Ibu guru, SARANGHEO🫰

 Aku ingin bercerita tentang siswaku di Kampung Goni, Papua Tengah. Aku memang tidak tugas disana, hanya saja 4 hari dari waktu liburku ku habiskan di kampung ini. 

Aku menyoroti satu kebiasaan anak-anak di Papua yang sangat fasih melabeli diriku"Ibu Guru". Memang, aku adalah guru, tapi entah mengapa sapaan-sapaan ini masih mampu sembuatku salah tingkah. Seperti berbunga-bunga padahal di Sumut khususnya di Toba aku mengajar dan sesekali nendapati nama sebagai Ibu guru, tetapi ya biasa saja. Aku pikir ini faktor Bahasa, hahhaha. Lagi-lagi tentang Batak.

Ada satu kejadian saat aku dan rekan guru bermain di pantai bersama anak-anak, sekalian kami minta diajari berenang. Dari segerombolan anak, sayup-sayup terdengar "Ibu guru, SARANGHE0". Aku mencari dan memastikan sumber suara itu. Namun yang terlihat dari kejauhan hanya jari yang membentuk 🫰sedangkan si empunya jari membenamkan tubuhnya di laut. Posisinya saat itu, aku belum hapal betul nama-nama mereka. Sampai saat ini aku masih penasaran siapa pemilik suara itu. Jelas itu bukan murid yang ku ajari. Karena suaranya terdengar asing walau sempat mencurigai satu anak, tetapi aku enggan membuktikan.

Mitos: Siapa yang duduk di kursi guru saat masih menjadi murid, akan bodoh

 Holaa. Kali ini aku mau bahas satu mitos yang mungkin sampai saat ini masih ada. Fyi aku SD-Kuliah di Sumatera Utara. Aku tidak bisa pestikan mitos ini ada atau tidak di Provinsi lain. 

Waktu SD, orang-orang percaya mitos "duduk di kursi guru akan membuah orang yang mendudukinya bodoh". Bagaimana denganku? Oh, tentu aku tidak meyakini hal itu. Sederhananya pikiranku saat itu, bagaimana mungkin seorang menjadi bodoh hanya karena menduduki kursi [singgasana] guru yang notabenenya saat itu adalah pengajar, pendidik yang juga menjadi sumber pengetahuan khususnya untuk anak didiknya.

Aku tidak pernah kepikiran untuk mencoba membuktikan hal itu dengan serta merta sengaja mengambil posisi duduk seolah menjadi guru dihadapan anak didikku. Ya, karena saat itu pun adalah seorang murid. Tetapi tidak sengaja pastinya sering. Mungkin aku yang sekarang adalah pembuktian nyata mitos itu tidak ada. 

Lantas, apakah aku menyebut diriku pintar? Big no. Aku tidak pintar (ukuran pintar relatif ygy) namun aku juga tidak bodoh (bodoh disini mutlak). Aku suka belajar dan itu sedari duduk di bangku sekolah dasar. Malah aku sangat senang duduk di kursi guru dulu. Walau tidak pernah terbersit di pikiran akan menjadi seorang guru ketika dewasa, tetapi Tuhan mengizinkanku menjadi GURU bukan sekadar pernah duduk di kursi GURU.

Oh ya, maksudku duduk bukan berarti kursi itu bak kenyaman yang menetap. Karena nyatanya menjadi guru apalagi di zaman sekarang malah tidak ada waktu untuk duduk karena memang itulah yang tergambar pada hakekatnya seperti kata Bapak Pendidikan kita. Ing ngarso sung tulada. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani. Artinya apa? Guru di kelas sangat dinamis. Bukan hanya duduk di kursi lalu mendikte atau memerintah peserta didik untuk meringkas. Tugas guru lebih dari itu (ya mirip pemadam kebakaranlah konsepnya) xixi

Sepenuhnya percaya