Kamis, 01 Januari 2026

Supaya cepat besar dan jadi anak pintar

 Pagi itu aku sudah mengagendakan untuk membuat kue. Yap, kue akar kelapa atau biasa orang Napan menyebutnya kue teripang teka. 

Karena hari ini aku akan mengerjakannya sendiri, aku mau menghindari bosan juga mengantuk. Ku ambil HP dan mengetik pencarian di aplikasi YouTube dengan kata kunci "lagu Natal terbaru 2025". Search. Muncullah sekian Banyak hasil pencarian. 

Mataku tertuju ke Tubnail yang di sana ada gambar Santa Claus. Benar sekali, lagu Natal dengan vibes RnB dan remix yang asik. 

" Selamat pagi ibu guru" Sapaan itu menggema dari tangga dapur. Ternyata itu Yosef, anak didikku yang masih duduk di kursi PAUD. "Selamat pagi anak, bagaimana? "


"Ibu, ada buat?" Yosef mulai membuka pembicaraan. "Ibu lagi buat kue. Kamu mau teman Ibu?" Dengan wajah berbinar Yosef menanggapi "Ibu, a mau".

Kedatangan Yosef cukup mencairkan suasana, karena anak ini lumayan cerewet. Dia aktif bertanya tentang adonan yang sedang ku racik sampai hal-hal random khas anak kecil. Tiba-tiba, Yosef berjalan ke arah HP ku. " Ibu, ini lagu teteh manis kah" Tangannya dengan wanah polos. "Betul anak, Tete manis pu lagu".


Ku lihat raut wajah Yosef seperti menyimpan banyak tanya, lalu dia tiba-tiba menyeletuk. " Ibu, kalo kiting dengar tete manis pu lagu, kitong bisa pintar dan cepat besar kah Ibu? " Itu memang pertanyaan imajinasi, tapi membuatku hampir mengatupkan mulut.. 

"Ibu, Mama putar tete manis pu lagu hari-hari e, itu makanya a cepat besar dan pintar." Tutur Yosef percaya diri. "Iya anak, tete manis pung lagu memang buat kitong makin pintar karna Tuhan yang kasih. Tapi, Ocef harus rajin belajar dan sembahyang juga e"

"Ibu, ibu tenang. Mama su ajar a sembahyang. Biar a cepat besar dan jadi pilot. A nanti mau bawa pesawat ke Ibu pu kampung. Ibu pu kampung NTT toh?" Celoteh Yosef

"Ocef, Ibu orang Medan". Yosef tidak percaya " Kah Ibu? A kira ibu orang NTT. A pi Medan Sa Ibu biar kitong bisa baku ketem di Ibu pu kampung. Toh Ibu"

"Iya anak, bisa sa" 

Berdoa dikira mengantuk

 Mundur sedikit ke belakang, saat perayaan malam Natal 2025 di Napan Yaur. Aku memilih kursi paling depan, menurutku posisi tersebut sangat strategis untuk bisa menyaksikan penampilan persembahan lagu, dance, puisi atau bahkan menghalau kantuk yang mungkin datang berkunjung. 

Di sampingmu ada dua anak kembar, yang satu bernama Upi sedangkan yang lainnya bernama Umi. Kedua anak ini kembar identik yang bahkan untuk mengenalinya butuh waktu setahun lebih. 

Sudah jadi kebiasaanku berdoa sesudah memasuki gereja pun saat ibadah selesai. 

Namun, satu kejadian lucu terekam diingatanku saat Upi notice tentang doa sesudah ibadah yg kulakukan. Aku kurang tahu sejak akapan dia memperhatikaan gerak-gerikku. Yang pasti, malam itu dia seperti tidak bisa menahan lisan. 

"Ibu, Ibu guru mengantuk kah?" Aku kaget bukan main. Syukurnya sudah selesai doa. Jika tidak, akan bagaimana konsentrasiku. Jika saja Upi membisikkan kalimat itu, tidak masalah buatku. Namun, Upi berbicara dengan polosnya bak berteriak kaget. 

Apa yang terjadi? Tentu saja aku jadi pusat perhatian. 

Semua pasang mata di gereja sontak memandang ke arahku, persis di samping anak kecil yang barusan menyeletuk. Bisa dibayangkan, gimana merahnya pipiku dan seperti kelabakan bukan karena aku memang mengantuk, hanya saja seperti tertuduh. Dituduh seorang anak kecil lho. Pastilah semua orang mempercayai kepolosannya. 

Dalam hati"ampun dah, mati aku"

Ku ambil waktu bertenang, lalu ku bisikkan sesuatu kepada anak didikku yang lugu ini. "Ibu tdk mengantuk, Ibu sembahyang nak". 

" Iyalah Ibu? A minta maaf, pikir ibu guru mengantuk jadi"

Sepenuhnya percaya