Mundur sedikit ke belakang, saat perayaan malam Natal 2025 di Napan Yaur. Aku memilih kursi paling depan, menurutku posisi tersebut sangat strategis untuk bisa menyaksikan penampilan persembahan lagu, dance, puisi atau bahkan menghalau kantuk yang mungkin datang berkunjung.
Di sampingmu ada dua anak kembar, yang satu bernama Upi sedangkan yang lainnya bernama Umi. Kedua anak ini kembar identik yang bahkan untuk mengenalinya butuh waktu setahun lebih.
Sudah jadi kebiasaanku berdoa sesudah memasuki gereja pun saat ibadah selesai.
Namun, satu kejadian lucu terekam diingatanku saat Upi notice tentang doa sesudah ibadah yg kulakukan. Aku kurang tahu sejak akapan dia memperhatikaan gerak-gerikku. Yang pasti, malam itu dia seperti tidak bisa menahan lisan.
"Ibu, Ibu guru mengantuk kah?" Aku kaget bukan main. Syukurnya sudah selesai doa. Jika tidak, akan bagaimana konsentrasiku. Jika saja Upi membisikkan kalimat itu, tidak masalah buatku. Namun, Upi berbicara dengan polosnya bak berteriak kaget.
Apa yang terjadi? Tentu saja aku jadi pusat perhatian.
Semua pasang mata di gereja sontak memandang ke arahku, persis di samping anak kecil yang barusan menyeletuk. Bisa dibayangkan, gimana merahnya pipiku dan seperti kelabakan bukan karena aku memang mengantuk, hanya saja seperti tertuduh. Dituduh seorang anak kecil lho. Pastilah semua orang mempercayai kepolosannya.
Dalam hati"ampun dah, mati aku"
Ku ambil waktu bertenang, lalu ku bisikkan sesuatu kepada anak didikku yang lugu ini. "Ibu tdk mengantuk, Ibu sembahyang nak".
" Iyalah Ibu? A minta maaf, pikir ibu guru mengantuk jadi"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar