Sabtu, 25 Januari 2025
Papeda bukan kwetiaw
Senin, 06 Januari 2025
Di tengah badai Tuhan jaga, disetiap langkah Tuhan pelihara.
Pengalaman tak terlupakan di tanggal 5 Januari 2025. Minggu pertama di tahun 2025.
Diary guru pedalaman.
Pembuka tahun yang cukup membuat khawatir juga trauma. Libur sekolah telah usai, ± 2 minggu di kota, waktunya kembali. Mungkin jika dijadikan lagu "libur tlah usai, libur tlah usai, pulang, bekerja lagi".
Menjadi guru pedalaman membuatku sering membagikan momen bahagia. Jelas karena bayangan orang, kata "pedalaman" adalah ketertinggalan. Padahal untuk tempat tugas sendiri, kampung kecil Japan Yang adalah tempat ternyaman yang pernah ku tinggali. Bahagia yang sederhana dengan tawa lepas tanpa takut akan komentar nyelekit.
Namun di ceritaku kali ini, bukan tentang bagaimana suasana pedalaman itu. Namun bagaimana perjalanan kesana.
Aku adalah seorang pecinta biru, biru lautan juga hamparan langit.
Tetapi biru yang kusukai juga membuatku takut. Ya, langit yg kulewati saat terbang dari Sumatera ke Papua, dan kini laut yang kusuka membuatku bergidik ngeri kala itu.
Berangkat dari Kota Nabire seusai pulang ibadah, ditambah persiapannya mengulur waktu yang menurutku sangat boros. Siang menjelang sore yang cukup memaksa untuk kembali. Kali itu kami menggunakan 2 jalur, darat dan laut.
Perjalanan darat ditempuh 4 jam, menurutku ini sangat membosankan. Mobil yang kami tumpangi sempat mengalami kerusakan di jalan, beruntungnya bukan kerusakan yang harus ditangani bengkel, tapi tetap saja membuang waktu. Sesampainya di Lokpong, perjalana dilanjutkan dengan perahu motor seperti biasanya. Oh ya, aku lupa ngejelasin, biasanya kami memang menggunakan jalur laut sepenuhnya. Tetapi berhubung Desember-Januari Laut Papua bergelora dengan ombaknya, jadi kami ambil jalan tengah, hanya itu satu²nya cara agar bisa sampai ke kota maupun kembali.
Perjalanan ke center pertama, aman walaupun sampainya sudah gelap dan badan terasa kurang nyaman. Ternyata pegal duduk di mobil tadi berimbas ke perjalanan berikutnya. Aku bahkan tidak menikmati laut yang kusuka.
Aku masih ingat, pelita sudah dinyalakan saat kamu tiba di center pertama, kampung Yang namanya. Tetapi yg namanya perjalanan harus berlanjut. Kami akan lanjut ke Kampung Napan. Yes, itu center penugasanku.
Disinilah puncak ketakutanku pada laut yang kupuja. Cuaca tidak bersahabat, badai mengamuk disertai hujan dan angin yang membuat perahu kami terombang ambil. Bohong kalau aku tidak khawatir, aku sangat khawatir saat itu. Apalagi salah satu teman kami, Pak Guru sedang sakit. Penderitaan di tengah laut ini membuatnya meriang dan semaput. Aku kasihan kepadanya, juga pada diriku. Apa jadinya jika aku harus terjatuh? Aku tidak bisa berenang.
Kelam malam yang sangat mengecam membuatku bergidik ngeri. Berkali-kali ku bisikkan ke teman guru bahwa aku takut, sangat takut. Tapi, kemanakah ketakutan akan pergi jika semua orang berteriak hal yang sama, mampus...
Air masuk ke dalam perahu melalui hempaskan ombak dari sisi dan sudut perahu. Kami basah se badan-badan. Kedinginan, badan terasa lengket karena air garam, lapar juga lelah. Semua panik kecuali Bapa motorist.
Aku salut dengan Bapa yang menjadi driver perahu. Beliau tenang di tengah pilihan hidup-mati. Kok bisa mengulum seutas senyum disaat air mukaku saja sudah mengerut mengernyitkan dahi berkali-kali. Entah kalimat apa yg sudah kuucapkan, mungkin seperti wasiat seandainya aku dan tim tidak selamat.
Tapi Tuhan baik. Jika melihat logika dari kehectickan suasana malam itu, aku memang sudah menyerah. Ombak memecah kesunyian malam dan menarik ulur ekor perahu adalah kesalahpahaman terbesarku terhadap ketenangan lautku. Lautku mengamuk, sampai temariku yg terlipat tidak bisa terlepas, aku berdoa. Aku cuma mau sampai dengan selamat menepi di Pantai Napan.
Ketenangan motorist patut diacungi jempol. Beliau bak nahkoda yang sangat piawai bahkan menghadapi teriakan dan dengusan napas tak beraturan di dalam perahu yang memburu saking khawatir.
Seandainya aku bisa lebih tenang mungkin aku tak akan melabeli kejadian ini satu trauma menjadi guru pedalaman. Bersyukur aku dan tim selamat sehingga cerita ini bisa ku bagikan.
Tuhan Yesus luar biasa.
Bapa motorist ibarat Tuhan kita. Dia memegang kunci pergerakan perahu, kita hanya penumpang dengan segala kepentingannya. Saat dera badai ataupun pergumulan datang, lantas dengan cepat kita meraung tidak terima. Mungkin juga sempat meragukan keterampilan Sang pemegang kendali, kita merintih, menggerutu dan bersungut-sungut. Kita seperti orang yang tidak mengenal motorist bahkan tidak memercayainya, padahal Ia pun tidak mungkin membiarkan situasi sulit membuat kita ketakutan dan kalah dengan keadaan.
Kisahku ini adalah satu dari banyak mujizat yang Tuhan kerjakan. Semoga pembaca terberkati. Ingat selalu, jika Tuhan yg menjadi motorist kita, jangan takut sekencang apapun badai, seganas apa gelombang kehidupan, jika kita percaya maka kita selamat sampai ke tujuan.
Amin.
#LVS
#gurupedalamanPapua
Kado Natal Terindah
Draft Desember 2024
Puisi karya Bu Guru Vera Simbolon
Kado Natal Terindah
Lonceng natal terdengar lagi
Disambut kicau burung bernyanyi
Disana sini lagu natal bergema
Menambah riuh Desember nan mega
Merah hijau kemilau
Warna warni nan silau
Namun ini bukan tentang warna apa, bau apa?
Namun tentang sang juruslamat
Berbungkus lampin berbaring di palungan
Dipeluk hangat Ayah Bunda
Bukan di istana, bukan pula rumah mewah
Hanya kandang domba sederhana
Bayi kudus lahir di Betlehem
Disaksikan malaikat Tihan
Disaksikan kaum gembala dan orang majus
Kini disaksikan olehku, disaksikan dunia
Tuhan Yesus telah lahir
Lahir di hatiku
Tuhan Yesus telah lahir
Lahir di hidupku
Tidak ada pakaian mewah
Tidak pula harta berlimpah
Namun Yesus lahir di hatiku
Sebagai KADO NATAL TERINDAH
Thank you😇
Tong kosong nyaring bunyinya
Hari yang cerah pembuka bulan baru waktu itu, saya mengajarkan peribahasa kepada anak didik saya. Satu materi yang sangat saya sukai tempo dulu, oleh guru kelas saya, Ibu Sitorus.
Masih segar diingatan saya, untuk peribahasa ataupun sari kata sangat mudah saya temui. Karena kalimat indah sarat arti tersebut akan tergantung bak tirai di hampir setiap sudut plafon teras sekolah.
Tapi tolong jangan membayangkan tatanan sekolah seperti itu akan didapati di pedalaman. Fasilitas dan sarana prasarana tentu sangatlah berbeda. Bahkan buku bacaan dulu bisa saya dapatkan dengan modal menabung, tentunya dalam kegiatan bazar. Kalau disini tidak ada. Guru adalah satu-satunya sumber informasi. Guru bak ensiklopedia yang up to date.
Ilustrasi, penggambaran visual bahkan contoh kontekstual adalah cara belajar yang paling aktif.
Singkat cerita, ada seorang murid yang tiba-tiba saja mengangkat tangannya untuk bertanya. "Ibu, tong kosong nyaring bunyinya kah dia pun arti apa? "Coba coba maju ke depan, lalu toki kaleng ini" balasku sambil menyodorkan satu kaleng minuman yang sudah habis isinya. Dengan langkah bersemangat murid hebatku ini maju ke depan dengan penuh percaya diri lalu menjentikkan jarinya nan mungil ke kaleng itu. Jelas kaleng mengeluarkan bunyinya. Dia sempat mengulum senyum malu-malu. "Ibu, betul".
Ternyata senyumnya bukan berarti sudah puas dengan penemuannya. Dengan langkah gontai ia kembali menuju bangkunya, duduk lalu tiba-tiba berkata " Ibu, betul. Yopi pun kepala penuh, tra bunyi". Seluruh kelas riuh dengan gelak tawa akibat celetukannya. Fyi, Yopi memang anak yang bisa dibilang pintar dikelas dan tidak banyak bicara. Tetapi proses belajar murid hebatku itu adalah hal yang menjadi kekaguman tersendiri. Bukan karena dia toki kepala temannya, tetapi karena ia selalu merasa penasaran dan ingin pembuktian dengan caranya. Murid hebat itu adalah Yafet Urbon.
-
Ku datang dihadiratMu Membawa segnap hidup Ku ingini dekat denganMu Rasakan ketenangan Kau arahkan pandangMu Menilik jauh ke dalam Lubuk hat...
-
Saat ku ingini pelangi Kau turunkan hujan Saat kuingini melati Kau beriku taman. Lebih dari yang kuingini Kau berikan Lebih dari yang kupik...
-
Tentang cita-cita, semua orang pasti pernah mendamba 1 masa depan yang indah yang didalamnya dia nyaman dan hidup. Apalagi jika kita menany...