Senin, 06 Januari 2025

Tong kosong nyaring bunyinya

 Hari yang cerah pembuka bulan baru waktu itu, saya mengajarkan peribahasa kepada anak didik saya. Satu materi yang sangat saya sukai tempo dulu, oleh guru kelas saya, Ibu Sitorus.

Masih segar diingatan saya, untuk peribahasa ataupun sari kata sangat mudah saya temui. Karena kalimat indah sarat arti tersebut akan tergantung bak tirai di hampir setiap sudut plafon teras sekolah. 

Tapi tolong jangan membayangkan tatanan sekolah seperti itu akan didapati di pedalaman. Fasilitas dan sarana prasarana tentu sangatlah berbeda. Bahkan buku bacaan dulu bisa saya dapatkan dengan modal menabung, tentunya dalam kegiatan bazar. Kalau disini tidak ada. Guru adalah satu-satunya sumber informasi. Guru bak ensiklopedia yang up to date.

Ilustrasi, penggambaran visual bahkan contoh kontekstual adalah cara belajar yang paling aktif. 

Singkat cerita, ada seorang murid yang tiba-tiba saja mengangkat tangannya untuk bertanya. "Ibu, tong kosong nyaring bunyinya kah dia pun arti apa? "Coba coba maju ke depan, lalu toki kaleng ini" balasku sambil menyodorkan satu kaleng minuman yang sudah habis isinya. Dengan langkah bersemangat murid hebatku ini maju ke depan dengan penuh percaya diri lalu menjentikkan jarinya nan mungil ke kaleng itu. Jelas kaleng mengeluarkan bunyinya. Dia sempat mengulum senyum malu-malu. "Ibu, betul".

Ternyata senyumnya bukan berarti sudah puas dengan penemuannya. Dengan langkah gontai ia kembali menuju bangkunya, duduk lalu tiba-tiba berkata " Ibu, betul. Yopi pun kepala penuh, tra bunyi". Seluruh kelas riuh dengan gelak tawa akibat celetukannya.  Fyi, Yopi memang anak yang bisa dibilang pintar dikelas dan tidak banyak bicara. Tetapi proses belajar murid hebatku itu adalah hal yang menjadi kekaguman tersendiri. Bukan karena dia toki kepala temannya, tetapi karena ia selalu merasa penasaran dan ingin pembuktian dengan caranya. Murid hebat itu adalah Yafet Urbon. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya