Saat aku menulis tulisan ini, kupastikan aku sudah 3 kali menikmati papeda dan ketiganya dengan latar yg sama, sebuah kampung kecil di Kab Nabire, Napan Yaur namanya.
Dikibas angin sepoi-sepoi dan disambut panorama pantainya yang indah, papeda semakin nikmat. Nah, disini ada yang unik, Ok akan ku ceritakan.
Jika pada umumnya makan papeda menggunakan supit khusus (orang Napan menyebutnya gata), lain halnya denganku. Jangankan menggunakan gata untuk melahap ke mulut, memutar papeda saja belum bisa. Beruntung Mama mengerti dan dengan terampil menggulung papeda itu, menatanya di piringku yang sudah berisi ikan kuah kuning.
Suasana yang sangat sederhana namun kutahu suatu saat aku akan merindu.
Hmm,,,papeda menyudahi dendang di perutku siang itu, terimakasih untuk sang pemberi berkat. Papeda memang bukan kwetiaw walau garpu menjadi senjata andalanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar