Hai... Saya ingin flashback sedikit dari potongan cerita hidupku. Beberapa tahun lalu Saya pernah merantau di Malaysia, benar sebagai TKI (sekarang menggunakan istilah PMI). Kontrak kerja yang seharusnya 2 tahun, kupotong jadi 1,5 tahun karena cita-cita.
Diakhir masa-masa kerja di Malaysia, kalau tidak salah sekitar 3-4 bulan sebelum kepulangan, Saya bertanya kepada orangtua melalui WA, apa yang mereka inginkan saat aku pulang? Mungkin ekspektasi Saya saat itu saat dangkal teman-teman. Saya berpikir orangtua Saya akan menginginkan barang yang mahal atau yang hanya bisa dicari di Malaysia. Tapi ternyata salah. Saya tidak sedang menggambarkan gajiku yang mampu mengabulkan nominal yang dibutuhkan, tidak. Tetapi Saya hanyalah anak yang ingin melihat orangtua bahagia, apalagi karena Saya akan mengakhiri petualangan di negeri Upin Ipin ini. Kalian tahu mereka menginginkan apa? Bapak ingin Jas dan Mamak ingin sanggul. Sesederhana itu.
Saya jelas heran, kenapa bukan tas dan sepatu bagus atau setidaknya barang bermerklah? Saya tanya dong kenapa Bapak dan Mamak malah meminta Jas dan Sanggul. Jawaban mereka membuatku merelakan bening mengalir dari pelupuk mata malam itu.
Bapak: Boru (sebutan untuk anak perempuan di suku Batak) Bapak cuma pengen Jas, pasti Bapak akan terlihat lebih ganteng setelah memakainya.
Saya berusaha menebak arah perkataan Bapak. Ya secara Jas bukanlah pakaian sehari-hari, hanya momen spesial yang mengharuskan seseorang memakai Jas. Tetapi kemudia timbul dibenakku, mungkin saja Bapak hanya ingin karena tidak memiliki jas sebelumnya. Di momen seperti babtisan kami saja dulu dia meminjam jas tetangga, ini kudapat dari cerita Mamak dulu. Saya tidak banyak tanya, hanya meng-iyakan saja.
Beralih ke Mamak. Diluar dugaan, Mamak ingin sanggul. Jelas bukan sanggul biasa ya guys, karna Saya tahu betul, kalau hanya untuk pesta adat, Mamak punya banyak. Tetapi kenapa harus minta sanggul lagi? Saya sebenarnya agak curiga. Tapi ya Saya tidak mau mendebat atau bertanya terlalu dalam, yang penting Saya tahu keinginan orangtua Saya saat pulang merantau nanti.
Sesuai janji, Saya memberikan sejumlah uang ke Mamak, kebetulan Saya ikut arisan, jadi cukuplah untuk membeli apa yang mereka inginkan, bahkan untuk biaya kuliah 2 semesterku masih bisa. Saya percayakan semua ke Mamak untuk mengelolahnya.
Singkat cerita, Saya telah melewati perkuliahan 4 tahun dengan segala lika-likunya. Saya lulus dan akan diwisuda. Seperti biasa, semua orangtua akan sangat bahagia nenghadiri salah satu momentum penting dalam hidup anaknya, apalagi Saya Sarjana pertama di keluarga. Saya memilih Biru langit sebagai dress code Wisudaku. Untuk kebaya itu dihandle oleh Saya sendiri, namun kemeja Bapak dan adik-adikku diurus oleh Mamak. Saya bersyukur mendapat gelar "CUMLAUDE" bahkan menjadi mahasiswa terbaik di prodiku, tentunya orangtua Saya adalah yang paling bangga. Mereka akan jadi undangan VIP dan duduk di barisan paling depan.
Seminggu sebelum wisuda Saya pulang ke rumah Orangtua di Sergai. Setelah bincang-bincang mengenai persiapanku, tiba-tiba Mamak membuka pembicaraan.
Mamak: Inang, makasih karena kamu sudah membelikan Mamak sanggul hari itu, nanti Mamak pakai sanggul itu di acara wisudamu. Mamak pasti sangat cantik. (Percakapan asli menggunakan bahasa Batak Toba ya guys).
Saya hanya tersenyum sembari memikirkan sesuatu. Setelah itu Bapak nyeletuk
Bapak: Boru, Jas yang pernah kamu belikan ini akan menjadi Jas kesayangan Bapak, karena pertama kali memakainya untuk acara Wisuda Boru Bapak, kamu akan jadi sarjana.
Saya tersentuh, baper malam itu, saya berusaha memudarkan ekspresi haru yang mendalam. Saya kembali mengingat momen dimana kedua orangtua saya menginginkan Jas dan Sanggul. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk dipakai di acara wisuda saya. Setelah 4 tahun benda itu ada, saya baru mengerti artinya. Indah sekali jalannya Tuhan. Hanya sesederhana Jas Bapak dan Sanggul Mamak, tapi saya bangga. Saya bangga pada mereka karena telah mengantarkan saya mencapai gelar Sarjana.
Jas dan Sanggul untuk Mamak adalah salah satu part terbaik dalam cerita anak petani. Terimakasih Bapak, Mamak.
#LVS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar