Aku sudah sangat biasa mendengar omelan Mamak-mamak Batak dengan kecepatan yang katanya hendak mengimbangi kecepatan cahaya (meski jelas tidak mungkin), tapi yang ini hampir membuatku menyerah.
Benar, setiap proses orang tidaklah sama, ada yang cepat, ada pula yang lambat. Sialnya, kali ini prosesku akan sangat lambat, ini hanya opini tidak populerku, maaf.
Aku sudah memasuki minggu kedua setelah menapakkan kaki di Nabire, khususnya Desa Napan Yaur. Namun, kali ini aku bergumul. Kalian tahu apa pergumulanku? Yap, bahasa dan komunikasi.
Aku tidak menyesali bahasa yang terkesan kaku dan baku dalam keseharian. Namun, jika menyangkut komunikasi dua arah yang akan rutin kuhadapi, ini sangat menggelisahkan hatiku. Aku sering ngelag saat anak-anak membawaku dalam percakapan serius ataupun canda. Risikonya aku kehilangan momen lucu dan disalahmengerti saat berada dalam keadaan serius. Aduh Nak e, ko pu omong cepat sampe cepat, Ibu Guru trada paham. [Coba bicara pelan-pelan karena ibu tidak mengerti]. Aku selalu meminta mereka mengulang perkataannya, 2-3 kali. Berasa ujian listening TOEFL. Apalagi banyak kosakata baru yang kudapati pertama kali seumur hidup. Sungguh, aku harus bekerja keras dengan kelima inderaku. Beruntungnya anak-anak didikku mengerti dan mau membantu.
Ah, sepertinya aku buku catatan khusus untuk mencatat perbedaharaan kata ini. Kadangpun terbersit dipikiranku, apa cara cepat mengerti mereka? Akupun ingin menikmati canda dan berargumen dalam pembicaraan serius dengan mereka. Aku masih di tahap mengamati, semoga aku bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar