Senin, 10 Juni 2024

Dari Sumatera ke Papua

Hai, berkabar lagi dengan kisah perjalananku. Aku selalu percaya kemana Tuhan membawaku bukanlah satu kebetulan semata. Ada rencana baik yang sudah Tuhan siapkan. Ini kisahku, tulisan yang sewaktu-waktu akan ku edit (bertambah) seperti penyertaan Tuhan yang akan selalu dihidupku.

Ada banyak rencana yang sudah kususun dibenakku setelah aku menamatkan perkuliahan. Entah itu printilan kecil ataupun planing besar dengan segala estimasi linimasanya. Ada yang selesai sesuai rencana, namun banyak juga yang gagal. Ya, Tuhan memberantakkan dengan satu maksud, untuk kebaikanku. 

Pulau Sumatera yang didalamnya aku sangat betah berlama-lama ternyata menggelisakan hatiku. Merantau lagi? Awalnya aku ragu, berharap ini hanya bualan anganku untuk mencari pengalaman. But now, i'm Here. Di Papua. Penempatan yang jauh, sangat jauh. Lantas, apa aku marah atau kecewa? Tentu tidak. Malah aku sangat-sangat bersyukur terlebih hari-hari ini orang-orang memastikan aku adalah salah satu orang yang beruntung terdampar di salah satu pulau terbesar di Indonesia ini. Mereka juga pengen, tapi kesempatan tidak menjawab inginnya.

Aku berangkat ditengah sesak meninggalkan kenangan kehidupan training di asrama yang sangat nyaman. Teman-teman yang sudah ku anggap saudara, makan dan istrahat teratur dan lumayan cair dengan seluruh aturan yang ada. Seharusnya aku tidak bawa pikir terlalu, bukankah kita juga awalnya tidak kenal dan sedekat itu? Bukan mustahil aku bisa mengulangnya, walau keadaan membuat agak sedkit sulit.

Perbedaan waktu. Ya, aku agak sulit menerima kenyataan bahwa sudah berada di wilayah Indonesia timur, dimana akan terpapar sinar fajar lebih dulu lalu ditinggalnya benamnya matahari lebih awal. Belum lagi perbedaan waktu, 2 jam lebih cepat dari WIB, seperti nyata membuat badanku terasa lebih berat. 

Percayalah teman, ini hanya sebuah pengantar, masih bagian kulit saja. Aku akan berpetualang di Pulau cantik ini tepatnya di Desa Napan Yaur, Nabire. Aku akan terbiasa dengan pantai dan segala kondimennya. Berperang dengan nyamuk/agas, mengelus dada setiap kali mendengar harga barang yang terkesan diluar nalar. Ah, aku kehilangan selera untuk membeli inginku di kota ini. Tapi aku akan lebih hemat, bagus dong. 

Ohh Papua. Aku tidak pernah membayangkan akan berlabuh untuk beberapa waktu disini. Bahkan sejak SD pun. Tapi aku ada disini, dan aku tahu, ini bukan kebetulan. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya