"Ah payah mereka, lemah"
Itu komentarku saat Kaka Koordinator wilayah memberi alasan tidak melanjutkan perjalanan ke Kwati****.
Bukan tanpa alasan, hanya saja aku merasa lebih kuat dari mereka yang tidak tahan akan gelombang laut sore Nabire, lebih tepatnya saat melewati tanjung. Konon katanya, tanjung memang memiliki arusnya tersendiri.
Di penghujung Januari aku ditugaskan menggantikan temanku yg mengajar di Goni selama tiga minggu. Perjalanan ke sana cukup membuatku Banyak berdoa sepanjang jalan. Bagaiaman tidak, bahkan dari awal meletakkan kaki sebelah saja di perahu aku hampir ditempat gelombang pantai yang mengamuk. Syukurnya Kakak yg jadi motorace sesigap itu. Dia membantuku menegakkan posisi duduk untuk mengarungi laut Teluk Umar yg bisa dikatakan kurang bersahabat.
Tanganku tidak lepas dari tiang penyangga tenda fiber. Bisa kupastikan genggaman erat itu yang membuatku percaya bahwa aku bisa. Topi yang kukenakan bergoyang ke kanan ke kiri mengikuti angin. Mataku tertutup membayangkan amukan gelombang awal tahun. Mulutku memang tidak mengeluarkan lisan, tapi jelas hatiku berisik. Apakah aku khawatir? Tentu saja. Aku tidak bisa berenang dan ini medannya laut lepas.
Tapi menariknya dari perjalanan yang serius ini aku menarik satu pelajaran bahwa gelombang bisa memukul perahu, tapi keputusan untuk jatuh dan menyerah ada di kita. Yap, seandainya aku bilang stop atau tidak lanjut, motorace akan bertolak kembali dan aku selamat dari uji adrenalin itu. Tapi aku tidak akan merasa berani saat kembali dihadapkan dengan situasi sama, terlebih medan tempat tugasku dibatasi lautan luas.
Kembali ke kalimat pembuka tadi. Pengalaman menantang diri itu membuatku merasa aku bisa dan tidak takut laut. Sadar tidak bisa bisa berenang, tapi aku berani.
Laut Nabire tidak sekadar menguji nyali, tapi juga melatih kita untuk tantangan yang mungkin lebih ganas dari gelombang lautnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar