Selasa, 24 Februari 2026

Diagnosa ngasal

 Hello readers. 

Aku mau mengingat kembali kisah lucu dari anak-anak Goni. 

Saat itu jam istrahat, aku duduk sendiri di kelas kala anak muridku memilih pulang ke rumah. Biasanya mereka memang memanfaatkan jam istrahat untuk makan di rumah. Bukan sekadar karna lapar, tapi pagi tidak sempat sarapan di rumah. Saat kutanya alasan tdk sarapan, mereka akan menuturkan kalau Mama tidak memasak. Kalau jam 10, ya harap-harap sudah ada makanan di dapur. Setidaknya satu porna ataupun pisang bakar untuk tahan alas (pengganjal perut) 

Di tengah hening, tiba-tiba Rachel dan Yanke menghampiriku seperti terengah-engah. 

Rachel seperti tidak sabar untuk bercerita. 

Mataku menangkap semangat di balik sikap lugu mereka. 

Yanke memulai pembicaraan "Ibu, di sini ada barang apa?" tanya Yanke sembari menunjuk bagian dada bawahnya. Kalau secara anatomi, Yanke seolah memastikan organ dekat rusuk itu. 

"Di sana ada paru-paru, jantung, dan agak bawah sedikit ada hati" tuturku

"Ibu, sa pu paru-paru bergetar" tambahnya

"Ehhh, maksud? " 

"Ibu, sa lari sampe paru-paru dagdigdug" jawabnya ngasal

"Oh, itu bukan paru-paru. Itu jantung yg memompah darah. Nah, pas kamu lari, jantung memompa darah lebih cepat. Makanya kamu rasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Itu tidak apa-apa kok" kelasku pelan. 

Rachel yang sedari tadi berusaha mengatur napas, meminta perhatianku saat akan berbicara. 

"Ibu, sa ingat. Yanke pernah sakit di bagian dada. De bilang itu hati picah"

Kalimat itu terasa menggelikan. Gimana? Hati picah? Diagnosa macam apa itu? 

Aku terkekeh, sangat jelas. 

"Ehh? Hati picah" kuulang untuk memastikan tidak salah dengar

"Iya Ibu. Yanke pu hati picah" tegas Rachel

Aku dan Yanke sempat saling pandang sebelum kembali melepas gelak.

Bisa-bisanya anak ini mendiagnosa diri sendiri. Pung seram lai. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya