Selasa, 24 Februari 2026

Anak majelis gereja

 Sore itu aku merasa energi terkuras habis. Anak-anak di Goni 11 12 dengan anak Napan. Mereka talkative walau aku terbilang baru di sana. 

Saat sedang menikmati istrahat sore di sudut ruang depan, tiba-tiba terdengar ketukan di badan pintu sambil berteriak. "Ibu, su sore nih. Kiyong petik selasa air sudah"

Aku terkesiap mengucek mata yang masih bengkak karena jelas jam istrahat masih kurang. Ku intip wajah penuh semangat itu dari celah pintu. Itu pulalah yang menggerakkan kita memotong jam tidur siang. 

"Aee, ibu baru aja istrahat. Kalian cepat sampe" Protesku. "Ibu, su jam 4,kitong jalan sudah. Selada air ada di kebun pantai sana e" Ucap Sandra tidak sabaran. 

Aku yang merasa masih lemas kembali menjawab seadanya. "Banyakkah tidak e? Ibu suka itu sayur juga jadi"

Dengan cepat Yefta membalas "Ibu, selasa air bayak sampe. Ibu petik sampe petik. A tra tipu Ibu, percaya. A pu Bapa majelis jadi"

Kalimat terakhir cukup membuatku mengembangkan senyum simpul. Dalih anak majelis nih modal meyakinkan Ibu guru. Tapi kulihat raut wajah Yefta seyakin itu, aku menangkapnya. 

Benar saja, di kebun pantai selasa air terlalu banyak. Ini adalah pengalaman pertamaku karna setauku tumbuhan ini tumbuh di tanah kering berlumpur. Nyatanya di Goni, tersebar di seluruh rawa-rawa dekat akar bakau. 

Ah, si anak Majelis itu memang tidak tipu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya