Selasa, 24 Februari 2026

Namamu abadi di soal cerita matematika

 Aku pernah lihat salah satu reels di instagram beberapa hari lalu. 

Kira-kira begini kalimatnya

"Aku bisa menulis, aku hobby menggambar juga jago menyanyi. Sekarang kamu maunya abadi di mana? Tulisan, gambar atau laguku? "

Aku suka kalimat itu. Seperti menanyakan di mana kita akan menyimpan satu nama istimewa. Ku tanya diriku, dimana aku menulis namanya? 


Oke, lagi-lagi dengan latar tempat yaitu sekolah. Saat itu aku membawakan mata pelajaran matematika. Eits, tunggu dulu. Lupakan sejenak tentang angka. Memang matematika tdk akan lepas dari nominal, tapi kali ini bukan itu poinnya. 

Matematika dalam istilah kontekstual adalah bagian dari bidang sosial juga. Yap, soal cerita. Yang namanya cerita pastilah ada tokoh/pelaku. Nah, biasanya aku akan menyebut mereka dalam nama orang yg jd subjek. 

Mulailah ku tuliskan soal cerita itu di papan tulis persegi panjang. Awalnya tidak ada komentar apapun, kelas hening dan serius sampai seorang anak bernama Valentina mengacungkan tangan untuk berbicara. 


"Ibu guru permisi. No 1 nama I****el, no 2 I****el, no 3 juga ada I****el. Ibu guru tidak bisa pakai  nama lain kah? Kitong pu nama tara bae jadi" Valentina protes. 

Suri menimpali lagi "Itu su. Ibu ingat I****el terus. Dia su SMP ibu. Sekarang ibu pu murid kitong ada Banyak lagi"

Ku perhatikan lagi contoh soal yang sudah menuju no 4 itu. Ternyata benar. 

Aku seperti kagok, wajahku jelas tersipu karena nama itu sangat dekat terasa. 

Karena sudah merasa canggung, ku ubah nama di nomor 2 dan 3 menggunakan nama anak didikku yg lain, Yafet dan Alestio". Lanju soal ke empat kugunakan nama Suri dan Valen

Penggantian nama itu seakan mengatakan "Valen, sudah toh? "

Perkara nama saja moh. 


Meminjam makna quotes ig di awal

"Namamu abadi di soal cerita matematikaku"

Lucu ya, begitulah rules hidup ibu guru. Bersyukur su hahhaha

Setidaknya murid-murid ku tahu bahwa nama itu gak memiliki tempat istimewa di hatiku walau mereka mengira dia adalah muridku yg sudah berada di bangku SMP. Tidak apa, bae ju. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya