Pagi ini aku memang berencana membagikan kisi-kisi ujian semester ganjil. Pikiran nya agar anak-anak juga persiapan dan belajar di rumah. Kisi-kisi yg kumaksudkan adalah garis besar atau topik pembelajaran, dan semuanya sudah dipelajari..
Dimulai dari dari mata pelajaran IPA. Ada satu topik yang menurutku sudah sangat jelas karena materi ini kesinambungan dari semester sebelumnya, yaitu adaptasi makhluk hidup.
Salah satu contoh dari perilaku unik mahkluk hidup yang beradaptasi terhadap lingkungan maupun serangan musuh yaitu cecak. Yap, sudah tidak asing lagi, cerita si cecak ini dari zaman Soeharto juga seperti sudah dicekoki dalam buku teks pelajaran.
Tetapi ternyata, teori yang dibaca dalam buku tidak selalu harus diterima bulat-bulat. Ya, namanya juga sains, perlu dibuktikan walaupun tidak semua orang sekurangkerjaan itu.
Kali ini, cerita unik muncul dari salah satu anak didikku, Yunus. Barangkali dia mampu dengan percaya dirinya menyatakan suatu kesaksian karena sudah membuktikan. Saat anak-anak lainnya hanya menyalin dan mengiyakan satu teori, Yunus malah lebih tertantang membuktikan teori itu.
Satu kali aku membuat soal, sangat sadar bahwa ranah yang disentuh oleh soal itu barulah mengingat. Sekadar memori.
Bagaimana cara cecak melindungi diri dari musuh?
99% akan menjawab 'dengan memutuskan ekornya (autotomi). Tidak salah, malah poin 100.
Tiba-tiba disenyapnya kelas, Yunus mengangkat tangan. "Ibu, cecak kas putus dia pu ekor tapi kami sudah tau dia pu tipu-tipu. Tetap kami kejar dia". Entah apa yang di pikirkan anak ini, tapi aku tahu dia sedang memberi kesaksian.
Pun dia menambahi " Tetap kalau Cecak dorang ada, sa panah dia sampeeeee.... step. Sa kejar kas tinggal dia pu ekor giyang-goyang"
Aeee, kalimat yang terkesan psikopat.
Tapi itulah Yunus. Dia mengatakan apa yang dikerjakannya. Rasa rada ngeri sebenarnya, tapi saya senang saat dia mau melakukan eksperimen walaupun terkesan menyiksa. Barangkali dunia sains memaklumi itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar