Membangun hubungan yang erat antara guru dan murid tidaklah instan. Setiap harinya berbagai jenis pendekatan dilakukan bahkan memahami karakter setiap anak adalah bagian yang tersulit. Ada anak yang dengan lugas bisa mengungkapkan perasaannya, ada pula yang malu-malu bahkan memendam.
Jam istrahat kali itu berbeda. Biasanya Valen adalah satu-satunya anak yang memilih tidak keluar kelas demi menuntaskan tanya dan ingin tahunya, kali ini Sokrates juga ada. Ya, kedua anak ini lumayan bergumul dengan pelajaran matematika hari ini. Mungkin itulah yang membuat mereka tidak setenang itu meninggalkan kelas untuk makan atau bermain di jam istrahat.
"Ibu, ibu bantu sa" dengan suaranya yang khas, Sokrates membawa buku dan alat tulisnya ke mejaku. "Mari nak, di bagian mana kamu kurang paham? " Dia menunjuk ke soal no 3 dengan tatapan penuh harap.
"Oke, ibu jelasin lagi ya". Kulihat Sokrates yang sudah merasa lebih paham untuk mengulang soal berikutnya. Tetapi dia tidak kembali ke meja belajaranya. Barangkali ada kenyamanan tersendiri saat belajar di meja guru dan didampingi langsung.
Tidak lama kemudian, Valen pun memboyong bukunya. "Ibu, ibu bantu sa no 2, ibu sa kurang mengerti". Hal yang sama ku berikan pada Valen. Tapi karena nampaknya Valen kurang fokus mengerjakan di buku latihannya, aku memintanya mengerjakan langsung di papan tulis. Puji Tuhan, dengan beberapa arahan, Valen akhirnya bisa. Bahkan dia juga mengerjakan 2 soal berikutnya sendiri.
Saat aku berbalik ke kursi, aku tidak lagi melihat Sokrates. Ke mana anak itu pergi?
"Valen, Sokrates di? " Valen geleng-geleng kepala. "Ibu, sa tra tau". Ku sisir setiap sudut ruangan, tapi nihil. Sampai tiba-tiba, Eci, adik dari Sokrates datang melapor.
" Ibu, Kakak Soki (nama panggilan Sokrates) ada sedih. Dia duduk di samping sekolah ibu" Aku jelas kaget. Aku merasa tidak memarahi atau membuat dia sakit hati. "Valen, kamu kerjain dulu ya, Ibu mau cek Soki.
Kulihat Soki duduk dengan perasaan sedih sembari mencoret di kertas buramnya. Aku mendekati dan duduk di sampingnya hingga dia dengan cepat menyeka air mata yang bergulir menuruni pipi tirusnya. " Soki, kamu kenapa? Ibu minta maaf kalau ibu buat kamu sedih". Dengan ragu dan terbata dia menjawab "Tidak Ibu, sa pikir ibu tra mau bantu sa. Ibu bicara deng Valen, baru sa panggil ibu tra menjawab". Aiiihh. Aku kaget mendengar pengakuannya. Aku bahkan tidak mendengar kalau Soki memanggilku di kelas tadi. " Benaran, ibu tidak dengar anak. Minta maaf e. Ibu bukan tidak peduli, mungkin tadi ibu fokus deng Valen jadi kamu merasa ibu kas tinggal." Ku belai kepala Soki dan ku seka air matanya.
Menyadari kejadian barusan, aku hampir tidak menyadari kalau sebutir bening lolos dari pelupuk mataku. Selemah inikah perasaanku? Aku bahkan sangat mudah tersentuh saat melihat anak didikku menitikkan air mata. Tapi, apakah menagis adalah lambang lemah? Atau malah tanda bahwa kita kuat?
Soki dengan kelembutan perasaanya mampu meluluhkan hatiku. Aku memang tidak selalu bisa memegang tangan anak didikku setiap saat. Tetapi aku sadar, saat aku memberi diri mereka proses dan kesulitan mereka, aku sedang menulis memori di hatinya. Soki anak hebat. Ibu guru sayang Soki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar