Jam istrahat adalah salah satu momen yang dinantikan gutu. Bukan karna menyukainya, namun mereka butuh itu untuk merecharge energi setelah ± bertempur dengan bocil-bocil random yang ada saja kelakuannya.
Ada satu peraturan kelas yang wajib dipatuhi, yaitu tidak diperkenankan berasa di ruang kelas ketika jam istrahat kecuali karena membaca. Alasan membaca cukup kuat karena kegiatan ini butuh fokus dan suasana tenang. Yang yang tinggal di dalam kelas hari ini adalah Valentina, si anak kutu buku yang jadi berstie baca ibu guru .
Dia melanjutkan bacaan buku ensiklopedia "1001 fakta Alkitab". Buku yang lumayan berat untuk anak seusianya, tapi Valen menyukainya. Selalu ada alasan memulai pembicaraan tentang isi buku, dan kali ini dia melakukannya lagi.
Setelah suasana hening, ku lihat bibirnya yang masih komat kamit membaca rentetan tulisan di buku bersampul tebal itu, Tiba-tiba hening terpecah karena dia sontak berteriak dan mengangkat tangan. Yap, dia ingin bertanya. Seperti biasa, aku yang adalah gurunya akan mejelma menjadi manusia serba tahu bahkan dari buku yang belum pernah ku baca.
"Ibu-ibu. Betulkah ibu kitong beda-beda bahasa karena kejadian di Babel?" Dia bahkan menyebut kata 'Babel' seakan sudah biasa dengan nama tempat itu, sangat santai.
Aku mengerjitkan dahi mencoba mencerta kata-kata itu. "Eh, maksud?" Aku mau Valen mengelaborasi bacaannya. "Ibu bisa bahasa Batak, sa bisa bahasa Papua, Bule dorang pake bahasa Inggris itu karna Tuhan kas kacau menara Bebel. Sa baca di sini Ibu" dibawanya buku itu ke hadapannku sambil jari telunjuknya menunjuk rujukan bacaan.
"Jadi dulu kitong pu bahasa sama Ibu. Tapi karna orang-orang mau bangun menara besar e, dong songong dan tidak ingat Tuhan jadi Tuhan kas hancur itu barang" Tuturnya dengan antusias. "Betul anak,. Sekarang sudah banyak bahasa, mungkin semua bermula dari kejadian menara Babel. Tapi nilai yang bisa kita ambil adalah, walaupun kita berbeda bahasa, Tuhan sudah menyediakan alat agar kita bisa komunikasi toh. Ibu ngerti Valen bicara apa, Valen juga paham Ibu bicara apa. Kan Ibu tidak akan pakai bahasa Batak juga, nanti kami tidak paham." Kelasku pelan-pelan. Ku harap dia mengerti, karena raut wajahnya seperti masih ingin berdiskusi lebih. Setelah terdiam beberapa detik, Valen membalas "Ibu, sa su bisa bahasa Batak. Ibu dengar e. Sada, dua, toku, opat, lima" Valen menyebutkan angka 1-5 dalam bahasa Batak sampai membuatku terkekeh.
Valen adalah bibit anak-anak kritis. Aku berharap dia bisa terus menggali ilmu dari bacaan apapun. Mungkin saja saat dia bertanya hal random, aku tidak selalu bisa memuaskan hatinya dengan jawaban yang pas. Tapi saat itu aku sadar, bahwa dia membuatku belajar dan bertumbuh. Memang seharusnya begitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar