Pagi yang cerah dibumbui senyum semangat anak-anak. Aku seperti mendapat dopamin hanya dengan menyaksikan anak-anak didikku antusias belajar.
Disambut mentari hangat dan riuhnya teriakan burung Yakop di hutan belakang sekolah, hari ini aku mau membagikan sesuatu untuk anak didikku.
Dengan langkah gontai, aku menenteng totebag cokelat keyanganku, tidak lupa tumbler kebanggaan yang akan menahan dahaga kalau harus kehabisan energi di sela jam mengajar.
"Ibu hari kitong belajar apa?" sambut Valen saat aku baru menapak satu langkah dari bibir pintu.
"Selamat pagi semua" Sapaku menggema di seluruh sudut kelas. "Selamat pagi Ibu" balas anak-anak dengan kompak.
Sengaja aku tidak menjawab pertanyaan Valen.
Ku pikir dia akan melupakan pertanyaan itu, nyatanya dia kembali bertanya hal yang sama.
"Ibu, hari ini kitong mau belajar apa? "
Melihat antusiasnya, aku pun tidak sabar.
"Oke, anak-anak. Hari ini kita akan belajar mengenai surat". Ku lihat ekspresi mereka yang semakin tidak sabaran. " Surat, goeee". Seketika kelas riuh.
"Ibu, kitong mau kirim surat kah?. A mau kirim surat untuk Presiden" ucap Yance dengan sadarnya. "A mau kirim surat untuk Bupati." timpal Yafet tidak mau kalah.
"Ibu, baru kitong mau kirim surat pake apa?" tanya Gabi memecah riuh kelas.
"Capung merah kah apa e" Jawab Ibu guru ngasal setengah bercanda.
Sialnya anak-anak anggap gurauan itu serius.
"Oke, siap Ibu" balas mereka cepat.
Nampaknya antusiasme anak-anak sedang pada puncaknya. Ibu guru meminta anak-anak menulis surat di origami warna-warni dengan amplopnya. Ya, persis seperti surat pada umumnya, namun ini sedikit lebih menggemaskan.
Bel jam istrahat berdering, anak-anak mengumpulkan surat mereka dengan penuh semangat.
Aku pikir jam istrahat kali itu membuat bisa menarik napas agak dalam mengingat kelas yang lumayan riuh. Di saat yang tidak disangka, Yafet dan Gabi lari ke arahku sembari membawa satu hewan kecil di tangannya.
"Yafet, itu barang apa?" Tanyaku tidak sabaran.
"Ibu, ini capung merah pengantar surat toh"timpalnya percaya diri.
" Antar surat?" aku geleng-geleng tidak percaya. "Iyo toh Ibu. Ibu yang bilang baru. A kami tangkap satu kali biar antar kitong pu surat-surat Ibu"Lagi-lagi dengan raut wajah yang polos dan ceria.
Astaga. Kok malah begini?
" Kalian seriusan ini? "
Aku terpaku memandangi air wajah mereka. Anak-anak ini memang tidak bisa diajak bercanda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar