Hari itu kami belajar tentang alat indra. Yap, biasa disebut panca indra karna jumlahnya ada lima. Anak-anak sangat senang menyanyi, oleh sebab itu aku selalu mendemonstrasikan pelajaran dalam bentuk nyanyian untuk membantu mereka mengingat juga menaikkan mood.
Aku pernah menonton salah satu reels yang juga menggunakan metode lagu dalam proses KBM. Bisa dibilang ini salah satu strategi ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Dan aku mengakui sebagai seorang guru, ini sangat membantu.
Lagu mengenai panca indra ini serupa nadanya dengan lagu anak-anak berjudul "becak". Nah, mengapa menggunakan nada lagu anak? Sudah pasti anak-anak akan familiar dengan nadanya, jadi tidak perlu menciptakan nada baru lagi.
Adapun lirik lagu panca indra dalam nada lagu " Becak" sebagai berikut:
Aku punya panca indra
Semua berjumlah lima
Amat banyak manfaatnya
Akan selalu kujaga
Mata melihat
Telinga mendengar
Hidung tuk mencium
Kulit untuk meraba
Lidah merasa
Itulah fungsinya.
Dari lagu saja sudah jelas bahwa indra yang pertama akan dibahas adalah mata, si indra penglihatan.
Pelajaran sains tidaklah cukup jika hanya ceramah saja. Minimal demontrasi atau praktikum.
Untuk pengenalan bagian-bagian mata, aku membuat media dari styrofoam membentuk mata bagian luar dan dalam. So, gambar dia dimensi di buku pegangan, menjelma jadi alat demi tiga dimensi. Ya walaupun jauh dari kata sempurna, aku sungguh menyadari aku tidak terlalu berbakat seni rupa.
Sempat pula aku meminta Karsina dan Yemima maju ke depan untuk mengamati secara kasat mata bagian-bagian mata. Aku sempat mengekeh, karna mereka lumayan lucu dan polos. Saat aku tanya ke Yemima, apa yang kamu perhatikan dari mata Karsina, dia menjawab "Ibu, ada sa". Tidak salah sebenarnya, hanya saja aku mengekspektasi jawaban berbeda. Aku beepikit, dia akan fokus ke pupil, bukan malah ke bayangan temannya.
Tapi tidak apa, namanya juga belajar dan tidak seharusnya aku berharap jawaban seperti isi kepalaku untuk anak-anak polos itu.
Nah, tiba saatnya untuk demo mengenai penyakit atau kelainan pada mata. Yang paling banyak dijumpai tentulah miopi atau rabun jauh, biasa orang bilang mata minus. Kali itu aku meminta muridku Yunus maju ke depan membantuku.
"Yunus, perhatikan Ibu ya. Nah, Ibu bisa lihat nih tulisannya dengan jelas karna posisi Ibu ke tulisan tidak jauh. Nah, sekarang Ibu mundur pelan-pelan nih. Eh, tiba-tiba tulisannya buram. Kira-kira kenapa ya? "
Yunus yang sedari tadi fokus ke kertas yang dipegangnya, spontan seperti kaget
"Yeskon, Ibu guru rabun kah? Ibu tra bisa lihat?" Kemudian dia memposisikan dua jari lambang peace "Ibu, ini berapa? "
"Dua toh." Jawabku enteng.
"Ibu, tra rabun rabun baru" katanya merasa seperti ditipu.
Aku merasa anak ini sudah salah paham. "Yunus, Ibu guru tadi hanya buat seandainya. Bukan ibu rabun betulan"
"Oh, Ibu bilang toh ini main tipu-tipu"
Astaga, kok bisa mukanya sedatar itu padahal Ibu guru menahan gelak tawa.
Yunus, Yunus. Serius kali hidupmu. Ini namanya pengandaian, bukan tipu-tipu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar