Bulan Desember sudah dekat, tidak terasa sebentar lagi akan Natal. Bahkan lagu dan pernak-pernik nya sudah menjamur di kota.
Di desa bagaimana? Apakah eforia itu tidak ada? Oh, anak desa juga ingin memeriahkan walau tidak seriuh di kota barangkali.
"Anak-anak, Ibu ada rencana mau buat fragmen profesi untuk Natal kita nanti. Jadi ada bermacam-macam profesi."
"Ibu, a mau jadi polisi" teriak Yafet cepat dari sudut kelas. Tidak mau kalah, anak-anak yang lain juga mau menyuarakan keinginan profesi yang akan dipraktekkannya.
Ibu guru berusaha menengahi kelas yang semakin riweh. "Oke, anak. Ibu sudah persiapkan profesi juga pemerannya, dan ini cukup adil dan pas."
Anak-anak yang penasaran mendesak Ibu guru agar membacakan nama-nama pemeran fragmen.
"Ibu bacain ya. Yance: petani, Hofni Besar: nelayan, Kasih: pedagang, Listra: dokter, Valen: guru, Azaria: polisi, Yunus: kepala desa, Sokrates: siswa, Beni: tukang, Hofni Kecil: tentara, Alestio: Orang kaya dan Yafet:pendeta"
"Yesss, a jadi dokter "ucap Listra dengan wajah gembiranya. Begitupun dengan anak-anak yang lain. Mereka cukup puas dengan pembagian peran yang sudah dibuat Ibu guru.
Namun tiba-tiba Alestio angkat tangan. " Ibu, a tra mau jadi orang kaya.A mau jadi orang biasa sa" Ucap Alestio dengan nada yang tidak terima.
"Lho, kenapa Ales? Ini hanya fragmen moh. Semua peran sudah Ibu sesuaikan. Ibu pikir kamu cocok memerankan orang kaya. Untuk dialognya,tenang sa, Ibu yang siapin"balas Ibu guru berusaha meyakinkan Alestio.
" Ibu, a tetap tra mau. Orang kaya itu sombong Ibu. A tra mau jadi orang sombong, nanti Tete manis marah. " tegasnya tidak mau kalah.
"Ales, ini hanya fragmen lho". Ibu guru sudah tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum simpul dengan alasan anak didiknya yang satu ini. Bisa-bisanya kepikiran sampai kesana.
" Ales, ko jadi orang kaya su. Orang kaya tuh tidak semua sombong. Ko jadi orang kaya yang bae. Iyo toh Ibu?" Yafet memberi pendapat.
Alestio mulai berpikir.
"Eh, Ales. A jadi pendeta. Jadi tong baku teman. Ko kasih derma lebih to, orang kaya jadi"
Seisi kelas tertawa mendengar percakapan mereka. Sepolos itu.
"Iyo sudah Ibu. Ibu kasih peran tambah e. Orang kaya yang baik hati. A tra suka jadi orang kaya sombong ibu." Alestio mulai menawar.
"Iya nakku" balas ibu guru seraya menahan gelak.
Kejadian hari ini mengingatkanku dengan firmanNya dalam Matius 19:23
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar