Rabu, 12 November 2025

Rumah untuk Ibu Guru

Menggambar adalah kegemaran anak-anak, khususnya anak SD. Bukan karena gambaran realis yang mereka torehkan di kertas polutih, tetapi imajinasi yang terkadang membuat kita sebagai guru sampai geleng-geleng kepala. 
Hari itu jadwal feeding. Seharusnya kelas selesai lebih cepat. Berbeda kali ini, anak-anak kelas tinggi dengan kompak meminta agar sebelum feeding mereka menggambar. Kali ini mereka juga menawarkan judul "rumah untuk ibu guru". Seriusan, angin apa yang membuat mereka kepikiran dengan judul itu? Ah entahlah. 
Setelah membagikan HVS, pensil, penghapus, penggaris dan pensil warna, anak-anak mulai menunjukkan skil menggambarnya. Bukan dengan teknik profesional, namun dengan imajinasi liar mereka. 
Tidak mau duduk diam, aku berjalan sambil mengikuti proses gambar anak didikku. Sesuai judul, tentulah harus ada rumah. 11 anak dengan 17 karakter dan warna imajinasi. Ada yang mengambar rumah di daerah pegunungan, jelas terlihat dari bukuit yang menjulang dikelilingi hutan dan terlihat beberapa burung camar menari di atasnya. Tiba giliran Yance. Ku perhatikan lamat-lamat gambarannya, dia menggambar sebuah rumah sederhana di samping gereja. Aku mendekat dan tanya apa cerita dari gambaran itu. "Ibu, nanti ibu pu rumah dekat dengan gereja. Biar ibu kalau mau sembahyang tidak lambat. Minta maaf ibu, ibu pu rumah kecil sa. Karna Tuhan pu rumah harus lebih besar Ibu." Aku tersenyum mendengar penuturan muridku dengan rambut talingkar ini. Penjelasannya sederhana namun terkesan dewasa. Dia mau gurunya tidak lupa Tuhan dan menyadari bahwa Tuhan harus lebih besar. Ya, memang harusnya demikian. "Yance, Ibu mau kamu kasih ibu pu cat rumah warna biru e." Dia dengan cepat membalas "oke ibu, ibu pu mau sa toh". Yance tengil memang. 
Aku melanjutkan ke Yuni, gadis centil penghuni kelas tinggi dengan bando hijau kesayangannya. " Yuni, tolong jelasin ke Ibu cerita gambar kamu". Dia menatapku seperti malu-malu. "Ibu, belum selesai. Sa gambar ibu pu rumah dekat pantai. Biar ibu tidak minta-minta ikan ke orang-orang. Keluar rumah, pancing satu kali. Ibu suka pantai ju toh, biar mandi air garam setiap hari sampai ibu puas" tuturnya dengan nada centil khasnya. "Aee, kamu ini. Bisa sa. Eh, ini pohon apa, ada duri-duri? ". Yuni menarik napas pendek lalu melanjutkan kalimatnya " Mawar ibu, bunga mawar. Ibu jang marah kami cabut mawar sekolah, ibu tanam satu kali di ibu pu halaman.". Detail sekali anak ini. Dia bahkan mengerti kalau gurunya suka mawar dan akan marah jika ada yang mencabut mawar sembarangan, walau bukan miliknya. 
Aku kembali berkeliling, dan terhenti di Alestio. Nampak sederhana, tidak ada yang menimbulkan tanya kecuali satu hal. "Ales, ibu pu rumah kenapa miring-miring? " Dia sempat menutup gambarnya, tapi percuma aku bisa melihat jelas goresan pensil karya tanggannya itu. "Ibu, ini ibu pu rumah. Tanah tra bae, kena gempa jadi ibu pu rumah miring" dengan nada khasnya yang kalimatnya seperti dipenggal-penggal berusaha meyakinkanku. "Di dekat sekolah lai? ". " Iya Ibu, ibu, ibu guru harus rumah dekat deng sekolah"jawabnya seperti ada nada menekan. 
Wah, anak-anak kita hebat. Mereka bisa menciptakan cerita dari apa yang mereka kenal dari seorang guru sepertiku. 
Aku suka biru, baca buku di bawah pohon ketapang, kucing, bernyanyi, mawar, pantai bahkan mereka tahu bahwa guru seharusnya dekat dengan sekolah dan gereja. Anak-anak ini selalu punya cara membuatku sadar bahwa di hidup mereka aku bukan sekadar guru, tetapi juga hal seseorang yang dipelajari selama bersama mereka.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya