Mood di pagi hari adalah salah satu indikator yang bisa menggambarkan apakah hari itu menyenangkan atau tidak. Hari yang cerah dinilai bisa membangkitkan semangat, diiringi dengan lagu beat yang menggema di setiap sudut ruangan. Ya, musik selalu datang dengan nuansanya sendiri. Saranku, jika memulai hari putarlah lagu yang membangkitkan semangat, bukan lagu pop galau yang sekarang ini Banyak digandrugi anak-anak muda, khususnya gen Z.
Tapi kali ini matahari malu-malu menampakkan sinarnya. Hanya ada rintik hujan dan suara kodok yang berhahutan seakan membuat raga terlena untuk berlama-lama di kamar tidur. Setelahnya akan dapat dipastikan rasa malas dan kantuk akan datang seperti kejar-kejaran. Belum lagi cuaca dingin yang menusuk tulang membuat perut juga lebih sering bergetar dan lapar. Sungguh cobaan yang berat dalam memulai hari.
Aku pernah melihat salah satu fyp tiktok yang dalam Tubnail nya ada kalimat "mau malas sekolah, tapi aku gurunya". Ternyata bukan sekadar konten, tapi itulah kenyataannya. Guru juga manusia yang bisa merasa malas, lemas dan ingin bersantai tanpa dihujani teriakan anak didik yang memaksanaya setiap hari menarik napas panjang. Tapi keadaan tidak selalu bisa kita manage, kadang hanya perlu Keikhlasan agar air muka tidak berubah menjadi tidak menyenangkan.
Ku langkahkan kakiku gontai ke kelas. Anak-anak sudah menunggu di kelas dengan mengalunkan nada-nada yang menggema sampai di telingaku. Ya, mereka membaca buku cerita bak beradu kata tidak mau mengalah.
"Selamat pagi semuanya" sapaku ramah. "Pagi Ibu guru" jawab anak-anak kompak. Aku duduk lagu menginas-ngibaskan pakaianku yang sedikit basah menggunakan buku tulis kecil yang selalu jadi kertas buramku.
"Ibu, kitong belajar apa?" suara melengking Valentina seperti biasa terasa memekakakan telinga. Aku mengambil langkah apersepsi dengan meminta anak-anak memperhatikan cuaca di luar. "Ibu hari ini hujan, dingin sampe"ucap Yafet yang mengencangkan Hoodienya. "Hari ini kita mau belajar tentang HUJAN". Aku sengaja memenggal kalimat itu untuk menarik perhatian anak-anak.
" Coba kalian perhatikan, apa yang berbeda dari penampakan jalanan, pepohonan dari hari kemarin?" pancingku dengan pertanyaan. Kelas kembali riuh dengan berbagai jawaban. Anak-anak seperti tidak mau kalah.
"Semua jawaban kalian benar. Cuaca panas dengan hujan akan sangat berbeda. Nah, sekarang kamu pakai jaket, baju tebal. Coba kalau panas, pasti gerah toh? ujuarku. " Iyo Ibu. A tra tau pakai pakian ini kalau panas. Tra bae sampe"omel Yunus.
Aku tiba-tiba teringat sesuatu, seperti ini cerita.
"Ibu suka hujan lho anak-anak. Senang aja gitu kalau hujan. Tenang, teduh dan nyaman". Mungkin aku merasa seperti bestie, jadi cerita rasa curhat. Hhaha
Suasana lagi tenang, tiba-tiba Gabi mengangkat tangan tanda protes. " Ibu tra suka hujan. Nanti Ibu guru bilang 'aduh, hujan lagi. Ibu pu pakian basah sampe. Ibu tipu". Gabi menirukan gaya bicaraku sampai semua temannya tertawa.
"Aduh Gabi, itu beda cerita toh" kataku seperti membela diri. Tapi dari dahinya yang mengerjit, ku tahu dia bertekak dengan isi pikirannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar