Sabtu, 08 November 2025

Gaya gesek

 Hari ini aku akan membawakan pelajaran ttg gaya gesek. Satu dari lima jenis gaya yang sudah kukenalkan pada mereka dia Hari lalu. Yang pasti bukan gaya-gayaan seperti peace atau buncis. 

Nah, untuk mengelaborasi pikiran anak-anak,aku memberikan percotohan yaitu perbandingan dua sendal: sendal Yunus dan Adunias. 

Deskripsinya begini:

Kedua sendal memiliki alas yg berbeda. Manakah yg lebih duluan jatuh seandainya mereka berdua berjalan di atas lantai yg licin? 

Anak-anak mulai mengkonstruksi pikirannya. Ada yang membuka catatan, ada yang sengaja menggesekkan sepatunya bak demonstasi, ada pula yang menatap ke langit-langit berharap pencerahan datang. 

Kuulangi pertanyaannya. "Kira-kira Yunus atau Adunias ya yang duluan terjatuh?"

Ada yg menjawab Yunus, ada yg menjawab Adunias. Wah, suasana kelas langsung seperti pasar ikan. Anak-anak memang selalu begitu, mungkin mereka berpikir bahwa dengan nada suara yang besar akan mengklaim jawaban yang benar. 

Di tengah keriuhan itu, tiba-tiba Sokrates menjawab "Ibu, tergantung toh. Tong blom tau kalau belum lihat. Adunias kah, Yunus kah, kas dorang jalan di lantai licin dolo" 

Pernyataan itu terdengar seperti sebuah tantangan. Aku tidak marah, malah sangat mengapresiasi jiwa sains Soki. Kan memang seharusnya sains adalah praktik yang diteorikan, bukan teori yang dipraktekkan. 

Untuk menjawab keresahan hati Sokrates aku berniat melakukan demontrasi oleh anak-anak. Ya, merekalah subjek dan objek yang utama dalam belajar. Sehingga, apa yang ditemukan melalui demi nanti, tidak selalu sama tetapi tidak juga salah. Semua akan mengamati dengan mata yang berbeda. Itulah sains. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya