Sabtu, 08 November 2025

Cara tikus makan roti

 Sore itu halaman depan pastori dipadati masyarakat. Tidak lain ini semua karnaacara syukuran pelayanan gereja. Mulai dari babtis, sidi, pengukuhan majelis sampai nikah kudus. 

Bisa dibayangkan bagaimana jamuan yang tersedia. Banyak sampai banyak. Karena setiap oknum pelayanan berusaha memberikan yang terbaik atas berkat Tuhan. 

Aku juga ikut membantu menyiapkan hidangan fellowship sore itu. Entah kenapa, menu makanan berat membuatku enggan untuk menyentuhnya, padahal meni cukup menarik dan menggugah selerah. 

Ku putuskan untuk mengambil sepotong donat dari dalam stoples. Yap, donat dengan topping messe seres kesukaanku. 

Saat tengah menikmati, aku sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengamatiku. Siapa dia? Dia adalah Sadrakh, muridku kelas IV. 

"Ibu makan seperti tikus" tukasnya singkat. "Eh, maksud?" Tanyaku memastikan. Aku seperi tidak mengerti kenapa harus dibandingkan dengan tikus. 

"Ibu, ibu pu cara makan cuil-cuil macam tikus pu cara makan sampe. Ibu tra bisa gigit satu kali jadi". Dia menjelaskan opininya dengan nada tidak sabaran. 

Jelas aku tidak setuju dibandingkan dengan seekor tikus. Tapi, aku mau memperjelas, jangan sampe aku yang misunderstanding. 

"Memangnya kamu pernah lihat tikus pu cara makan bagaimana" tanyaku tidak terima.

"Iyo toh Ibu. Dong tarin-tarik roti Kecil-kevil baru makan pelan. Seperti Ibu pu cara makan nih". "Hah, beneran? Kamu lihat dimana anak? " Di kami pu rumah Ibu, a tara tipu" Ucapnya sambil menegangkan dua jari pertanda dia yakin. 

Eh, kalau dipikir-pikir bisa jadi sih. Kek Jerry makan roti di Serial Tom and Jerry. Tapikan ini nyata dan Sadrakh nmbandingin tikus ke Ibu guru lho. Yang benarlah. 

Cara makan tidak penting sebenarnya. Yang penting bagaimana makan itu dicerna. 

Aduh Sadrakh, membuat Ibu overthinking sa 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya