Kamis, 27 November 2025

Natal = baju baru?

Sore itu aku memilih untuk berolahraga. Hari ini rasanya cukup melelahkan, tetapi aku tidak mau ademnya lantai rumah merayumu untuk kembali berbaring dan malas-malasan. 
Sepasang raket yang ku beli bersama partner persis 5 bulan yang lalu menjadi alasan kuat untuk bergerak. Sudah keluar uang lho, yakali dianggurin. 

Pemanasan sudah, saatnya menunjukkan skill pas-pasan ini. Tapi aku pikir baik aku maupun partnerku mampu mengimbangi permainan, sehingga sulit membuat cock jatuh dan memberi poin. Cukup alot, sampai anak-anak yang menonton tidak sabaran. 
Anak-anak memang selalu bisa mendengar derap langkah, seperti tanah yg dipijak memberi sinyal bahwa ibu guru sedang bermain bulu tangkis. Ada yang menjelma jadi wasit, penonton, bahkan manusia serba tahu. 
Drrttttt.... 
HP ku berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Mama, video call. 
"Shalom Boru Laban" sapaku membuka percakapan. Dengan senyum khas dan nada bicara yang jelas sangat excited,aku tau Mama pasti mau sharing banyak.
Singkat cerita, Mama bilang kalau adikku yg paling bungsu belum mengiyakan mengambil peran dalam Natal Naposo Bulung nanti. Naposo bulung adalah sebuatan untuk pemuda, ya walaupun adikku masih lebih pantas masuk jajaran remaja. 
Alasannya sederhana saja, karna belum ada baju baru. Yap, baju baru untuk dipakai natalan. 
Kebetulan saat itu, seorang anak bernama Faldi mendengar pembicaraan kami. Lantas dengan nada yang jelas penasaran, dia bertanya "Ibu, Natal harus baju barukah? Ibu pu adik tidak mau pakai baju lama? ".
 Pertanyaan itu rasanya seperti cambuk. Aku harus jawab apa? 
Natal memang tidak berarti harus baju baru, tetapi lebih ke hati yang baru. Ya, hati yang baik untuk menyambut kelahiran sang juruslamat. 
Pun dia menambahi " Ibu, sa juga belum ada baju baru. Tapi sa ikut natal." Dengan mata yang berkaca-kata mulutku serasa terbungkam. 
"Faldi, natal itu ada di hatimu ya. Bukan pada pakaian baru atau pernak-pernik yang berkilau-kilau. Bisa mengerti nak? Kalau memang dapat baju baru, bersyukur. Kalau tdk dapat ju bersyukur sa. Ok anak? " Faldi dengan tegas menjawab "iya Ibu, sa mengerti".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya