Aku tidak tahu apakah setiap guru mengalami atau menyadarinya. Bisa dikatakan indra keenam karena tidak semua orang bisa.
Mata. Mata adalah salah satu alat indra yang paling vital. Mata bisa menyisir sudut pandang, menjangkau ruangan dan batas.
Flasback ke masa sekolah, dulu aku ingat temanku sering menyontek saat ujian. Berbagai macam strategi mereka buat. Entah itu membuat catatan di kertas yang hanya bisa dibaca olehnya saja, menulisi meja, memincingkan mata ke lembar jawaban teman sampai yang paling berani, membuka buku pelajaran dari laci meja. Picik teramat picik. Kadang aku merasa mengapa mereka seberani itu.
Pernah suatu ketika ada yang melapor secara terang-terangan. "Ibu, si A mengopek (menyontek). Bisa dibayangkan bagaimana suasana kelas yang hening tiba-tiba pecah karena kaget. Guru kaget, siswa yang ujian juga kaget, tetapi oknum pelaku jauh lebih kaget. Sudah dipastikan dia menyiapkan pembelaan dan dalih untuk melindungi diri. Aku yang saat itu memang sudah mengamati gerak -geriknya namunbungkam mendadak melongo tudak percaya. Wah, panjang nih urusannya.
Berbicara mengenai guru pengawas ujian, semua datang dengan karakter yang berbeda dan biasanya akan dihubungkan dengan mapel yang diampu guru tersebut.
Guru sains dan matematika biasanya tidak bisa kompromi dengan hal-hal begituan. Jika ketahuan, mereka tidak segan merobek lembar jawaban, lalu menuliskan klarifikasi di sana. "Ketahuan menyontek saat ujian". Wah, berapa malunya saat kalimat maut itu terpampang nyata di lembar ujian.
Kalau guru bahasa biasanya lebih kompromi, apalagi guru penjaskes. Sepertinya ini sudah valid. Guru penjas tuh selalu punya prinsip " Tidak apa-apa, asal jangan berisik". Kalimat itu penenang tapi juga membuat gusar. Guru lho, guru. Namanya juga guru olahraga, barangkali menyontek dengan tenang juga bagian dari olahraga. Just jokes.
Kembali ke Mata, eakkk.
Menurutmu, apakah guru pengawas tidak menyadari aktivitas menyontek itu di ruang ujian? Apakah duduk mereka kamu pikir tidak bisa menjangkau sudut laci kelas? Oh, itulah kekeliruan banyak orang, khususnya para pelaku. Di meja guru semua terpampang nyata, bak transparan. Guru yang duduk sambil mengisi formulir dan presensi dengan serius sekkaipun bisa mengetahui apa yang terjadi fi ruangan ujian saat itu. Kadang mereka hanya diam, Diam-diam dan akhirnya bergerak pelan. Ini jauh lebih mengerikan.
Aku kembali ingat dengan kejadian sore itu. Anak-anak dengan semangatnya bermain bola. Mungkin karna kehausan, mereka membeli es cekek (istilah di Medan untuk minuman yang diseduh dengan sedikit es batu dan dan serbuk rasa dalam plastik). Aku sempat khawatir anak-anak akan membuang sampah sembarangan, jadi dari awal memang kuingatkan agar jangan buang sampah sembarangan.
Satu kali mataku tertuju pada Ruben yang dengan gragas menyeruput minumannya rasa stroberi. Dia memang tidak meminum tepat di depan mataku. Tapi ekor mataku merekam semua gerak-geriknya.
Mungkin saja dia tidak sadar bahwa aku mengawasi semua anak-anak yang bermain saat itu, tidak terkecuali dirinya sehingga dia benar-benar lengah dan membuang sampah minumannya di got lapangan.
"Eh, Ruben. Ambil sampahnya sekarang! " Aku menegurnya dengan Mata masih memandangi permainan bola di lapangan.. Dari ekor mataku, kulihat dia seperti bingung tidak percaya bercampur kaget. Mungkin dia berpikirIbu guru tidak mungkin melihat upaya curangnya. Akhirnya dia mundur ke belakang dan menjatuhkan sampah minuman tadi di rentetan bunga kertas di samping sekolah.
Jujur aku kesal, kenapa dia tidak mengindahkan teguranmu yang pertama malah kembali mengulang. "Ruben, ambil sampahnya ya. Buang di tempat sampah! " Kali ini nada suara lebih keras. Karena merasa diamati, Ruben menyahut "Ibu lihat? " Dengan sigap aku menatapnya "iyo toh. Ibu lihat kamu. Ayo, buang di tempat sampah e, di sana tuh" Ucapku sambil menunjuk tong sampah di sudut sekolah.
Tiba-tiba dia nyeletuk kesal "Ibu pu mata tajam sampe".
Itulah indra keenam guru. Sepasang mata ini mampu menjangkau lakukan, jadi Berhati-hatilah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar