Mengambar adalah satu dari sekian banyak aktivitas yang disenangi anak-anak diluar kegiatan bermain. Menggambar menjadi cara mereka menumpahkan emosi dan perasaan. Kali ini, kami akan mengambar burung. Hewan yang sudah sangat dekat dengan kehidupan, apalagi di daerah yang dikelilingi Hutan seperti kampung Kapan Yaur. Aku idak membatasi kreativitas anak-anak didikku. Mereka bebas menggambar burung jenis apa, apakah cendrawasih, cuit (pipit), nuri dsb.
Seperti biasa aku akan berkeliling memperhatikan pekerjaan anak-anak didikku. Aku tertentu di meja Gabi. Ku pandangi gambarannya, nampak tidak ada yang perlu dikomentarin. Semua aman sampai sesaat, Listra ikutan melihat gambaran Gabi.
"Gabi, ko pu burung tra ada kaki" Protesnya. Aku jelas kaget, karna sedari tadi aku mereasa gambaran Gabi aman-aman saja. Ternyata Listra sedetail itu, dia tahu bahwa ada yang tidak beres dari Gabi pu gambaran.
"Sa gambar buru yang terbang" jawab Gabi seperti acuh tak acuh. "Baru, mana dia pu kaki? Burung tra ada kaki? ".
" Listra, burung kalau terbang, tra ada kaki. Eh, kaki tra ketara." balas Gabi tidak mau kalah. Koi tidak percaya, neh lihat burung itu kaki tra nampak." Gabi menarik tangan listra sambil menunjuk ke arah burung camar yang kebetulan melintas dari langit Napan. Listra pun mengalah.
Bukan tentang ada tidaknya kaki burung, ternyata anak-anak ini mengajarkan kita tentang sudut pandang. Gabi melihat burung saat terbang tidak ada kaki, dan Listra kekeuh dengan pernyataannya bahwa semua burung punya kaki. Sisi yang kita perhatikan juga keadaan saat kita mengamati tidak akan sama untuk mata yang berbeda. Sangat relate denagan kehidupan kalau tidak semua yang kita lihat, sama keadaannya di mata orang. Ini tentang sudut pandang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar