Kamis, 31 Oktober 2024

Berseteru seperti anak kecil

Ceritaku kali ini tentang dua orang anak didikku, kelas 1 SD, sebut saja R dan V. Kedua anak ini sering berbeda pendapat entah untuk hal sederhanapun, ya namanya juga anak kecil. Tetapi kuakui, sependek pemahamanku dengan dunia mereka yang tidak akan jauh dari kata bermain, mereka adalah dua anak yang cukup kritis, sering bertanya pun serius.
Pada satu waktu mereka kembali bersitegang entah karena apa, akupun tidak begitu yakin. Yang pasti si R menangis, pun si V. Menurut pengakuan mereka Kakak si V membela adiknya (V) lantas membuat tangis si R pecah, sepertinya memang ada sedikit sentuhan fisik. Aku berusaha menenangkan kedua muridku tersebut, tetapi bukannya mereda malah tangis mereka berdua semakin kencang bersahutan. Akupun sebagai guru tentunya butuh waktu untuk berpikir. Ku tinggalkan mereka dengan sisa rengekannya. 
Aku kembali ke kelas, kebetulan barang bawaanku lumayan banyak. Saat keluar dari pintu, mereka menatapku sekilas, sempat beradu pandang lalu dengan sigap menolongku membawakan barang-barang. Aku kaget pastinya walaupun sudah biasa akan pertongan anak-anak didikku.
Ku biarkan mereka menentukan aksinya. Aku berada dibelakang mereka,kesempatan besar untuk mengamati.
Satu hal yang membuatku terharu dan tertegun, saat kedua anakku tersebut saling tolong saat akan menaiki tangga dapur, bahkan dengan tulus memberi dan menerima pertongan yang mengharuskan mereka saling berjabat. 
Derap langkahku ku pelankan saat mendekati anak tangga. Ku dengar kalimat ajaib itu "terimakasih-sama-sama"dengan malu malu mereka bersalaman saling bermaafan. Saat mereka melihatku, lumayan kaku karna merasa ketahuan hahahha. Setelah itu aku menggoda mereka. "Oh sudah baikan? Baik su" kataku sambil tersenyum. Meteka membalas dengan tawa dan baku rangkul. 
Aku senang melihat pemandangan itu. Terimakasih anak-anakku. Pelajaran berharga untuk Ibu. BERSETERU SEPERTI ANAK KECIL. Ya, luapkan emosimu, setelah itu berdamai dan kembali berteman. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya