Senin, 31 Maret 2025

Doa dan semangat

 Jika ada yang bertanya, apa imbalan terbesar yang bisa kau beri untuk anak-anak yang setia menolongmu? 

Entah itu melalui seikat sayur gedi, segenggam Rica atau seekor ikan siku dan kecil. 

Untuk menjawabnya, hal yang akan terlintas dipikiranku adalah membayangkan ekspresi bahagia mereka saat bisa membawakan hadiah itu untuk Ibu gurunya. 

Sederhana tapi yang pasti akan selalu membekas. 

Jika biasanya anak-anak akan mengharapkan gula-gula atau biskuit, kali ini berbeda. 

Yap, ini tentang Korina. Muridku yang duduk di bangku kelas satu. 

Sore itu dia menenteng loyang (bokor) berisi sayur gedi juga Rica yang dililit menggunakan daun keladi. Dengan semangat dan wajah cerianya, dia melangkah gontai menyusuri lorong belakang sekolah yang terhubung langsung dengan dapur Ibu guru. 

Sangat jelas diingatanku wajah ceria nona kecil ini. 

"Selamat sore Ibu guru. Ibu pu sayur deng rica ada nih" Dengan nada bicaranya yang centil dan khas, Korina memberikan loyang itu padaku. Wah, benar-benar berkat Tuhan pikirku. 

Setelah berucap terimakasih, aku berjalan ke ruang tengah mencari barangkali masih ada sisa gula-gula di stoples. Ah, ternyata stok gula-gulaku sudah habis. Aku bingung mau memberi apa untuk Korina. 


Mungkin saja dia melihat air wajahku yang sedikit murung. Lalu dia berkata "Ibu, tra usah repot Ibu. Ibu ajar sa deng semangat dan doa Sa su cukup Ibu"


Wah, seorang anak kecil mampu berkata begitu. Aku benar-benar tersentuh. 

Aku langsung memeluknya. "Terimakasih nona, Ibu selalu mendoakan kamu juga teman-temanmu yang lain. Terimakasih lagi"

Pelukan itu dibalasnya dengan pelukan yg tak kala hangat. "Terimakasih Ibu guru"

Tidak sadar, sebening air mata jatuh di pipiku. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya