"Aku adalah aku". Satu kalimat yang terkesan menunjukkan ego. Ya, itu memang ukuran manusia, jelas.
Aku manusia yang punya banyak mimpi, banyak angan khayalan. Ingin berkelana, berpetualang, belajar hal baru menaklukkan tantangan.
Aku dengan cuitan dalam buku harian yang mulai berdebu. Ya, aku suka menuliskannya dulu, tinta biru dengan aksen masa remaja yang penuh huru hara.
Sekarang? Masih, tapi sepertinya sudah lebih banyak memendam. Kata mereka umur segini ya begitu, ingin privat but need someone to talk. Lucu ya, mengeluh sepi namun betah sendiri. Hei, aku katakan, coba ingat-ingat lagi tentang resonansi. Dua benda tidak akan bergetar jika frekuensi mereka tidak sama. Itu teorinya. Benar, mungkin aku belum menemukan orang yang sefrekuensi. Yang serius tidak dianggap bercanda ataupun sebaliknya. Lower my standard? Hah? Sudah pernah coba, nyatanya tidak worth it. Raise your standard girls. Kalaupun tidak menjadi, tapi value dirimu meningkat.
Dari aku untuk aku. Aku ya aku, dengan segala imajinasiku, berharap semua berakhir indah seperti cerita dongeng yang sering ku baca ketika anak anak dulu. Ternyata idealis tidak mudah. Semangat aku.
#LVS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar