Huahhh
Oke, pelan-pelan sambil menarik napas panjang. Saya bukanlah orang Medan asli, kalau saja bukan karena perjalanan hidup yang keras, mungkin tak akan menginjakkan kaki di kota metropolitan ke 3 ini. Sejak 2017 saya menapaki kota yang penuh riuh sesak ini, berselang hampir 2 tahun vakum karena harus merantau ke negeri jiran. 2019 kembali lagi dengan sejuta impian. Hahah, tidak heran, aku ( baca:saya) memang sudah menyusun daftar perjalanan untuk 2019 dan tahun-tahun kedepannya.
2019 jadi maba setelah 2 tahun gapyear mengumpulkan modal kuliah, eh jalan semester 2, si Corona datang. Alhasil 5 semester harus mengiklaskan diri kuliah daring yang benar-benar menyakiti mental walau pada akhirnya terbiasa. 5 semester itu aku banyak belajar, banyak juga yang tidak sengaja kupelajari. Ya, ikut webinar (gratisan), lomba, kompetisi, volunteer, duta, organisasi kampus yang lumayan menutupi ketidakpuasanku dengan status mahasiswa online. Menambah pengetahuan dan tentunya meraup sedikit demi sedikit cuan (baca:tabungan). Jujur, selama kuliah online banyak ilmu yang terlewat karena kantuk dan jaringan yang tidak stabil. Mood berantakan karena aku berpikir aku adalah ambis, gagal bagiku jika ada hal yang berlalu dari pendengaran apalagi kuliah. Nilaiku memang stabil, namun ada rasa penasaran dalam diriku, aku rindu berlama-lama di perpustakaan, diskusi dengan teman dan menyusun rencana studi. Bukan sekadar tangkap layar hp, benar-benar membosankan.
Semester 6 aku pertama kalinya mengikuti program kampus merdeka, yakni MSIB, PT Maribelajar Indonesia Cerdas >< Microsoft Indonesia. Benefit? Oh banyak. Aku mendapat kesempatan belajar dari expert menjadi guru/educator modern, mendapat relasi dan teman baru mahasiswa Indonesia, nilai konversi 24 SKS, uang pengganti kuota dan sertifikasi Guru Microsoft.
Semester 7 adalah kesempatan kembali ke kampus dengan sistem tatap muka terbatas, namun rencana Tuhan lebih luar biasa, saya menjadi 1/300+ orang mahasiswa yang mendapat kesempatan mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka2 dan lolos di Undip. Sempat berpikir untuk menolak karena jujur aku masih berharap lolos dalam program Kampus Mengajar, passionku. Sampai terbersit pikiran, kapan lagi kuliah sambil jalan-jalan dibiayai pemerintah, akhirnya kesempatan ini kupetik kembali. Curture Shock ngeri-ngeri sedap hahaha. Untung saja ketutup Berat Badan naik selama pendidikan, walau tiap bulan dihujani laporan ini itu, tugas dan mata kuliah baru yang benar-benar fisika murni, maklumlah aku dari fakultas pendidikan harus berbaur dengan mahasiswa fisika murni yang teoris dan bisa ditebak pasti jenius ala Einstein wkwkwk. Tapi nilai akhirku bagus kok, ku kira bakal terpental dari mahasiswa Indip asli. Btw, terimakasih Semarang, aku selalu merindukanmu dan semua orang baik yang kutemui disana.
Semester 7 memang sangatlah menguras tenaga. Sepulang dari Semarang aku dan tim KKN yang sudah terbentuk sebelumnya harus memutar otak, memikirkan program KKN di masa transisi sebelum skripsi. Akhirnya tujuan kami berlabuh di Kabupaten Toba. Mengajar dengan fokus Literasi dan Numerasi, jangan lupa laporan dan artikel ilmiahnya.
Semester 8 yang seharusnya fokus skripsi namun tetap harus mengikuti 1 mata kuliah wajib non konversi. Ya, mata kuliah Seminar Pendidikan. Sebenarnya aku enjoy, namun overthinking kadang merusak. Apalagi melihat teman yang bisa lulus 3,5 tahun. Aku merasa tertinggal. Aku gabut disela skripsi dengan mengikuti KNIPA untuk kesekian kalinya. Ingat, Nommensen selalu memberi penghargaan waktu dan keinginan belajar mahasiswanya. Betul, selain dapat ilmu dari pembahasan soal, aku dkk juga dapat uang, ya lumayanlah membantu biaya print ini itu.
Semester 8 berat, ya memang iya. Namanya juga skripsian, kita akan temui mahasiswa dengan kelopak mata dan lingkar mata hitam di hampir setiap titik koridor kampus, menanti ACC juga yang sibuk mencari waktu temu dengan doping. Puji Tuhan doping dan dosen pengujiku adalah dosen yang dekat denganku, ditambah dosen wali yang selalu support. Semua terlewati dengan baik. Walau sempat hampair gagal sidang karena administrasi, tapi Tuhan kasih jalan sampai Gelar UO S.Pd tersemat di belakang namaku. Aku juga menjadi mahasiswa terbaik di prodiku, aku senang, bahagia dan bangga terutama melihat kedua orang tuaku menjadi saksi bagaimana kuat keinginan anak petani mengejar asa. Orang tuaku hebat, dan aku bisa melihat gurat bahagia mereka saat aku menerima tropi penghargaan itu, dan mereka menjadi undangan VIP duduk di barisan terdepan bersanding denganku, putrinya. Mereka menepis omongan orang-orang yang mengatakan anak petani tidak mungkin bisa kuliah.
Apakah sudah selesai? Oh, tidak. Saatnya mengucap salam, selamat datang pengangguran. Namun jangan biarkan berlama-lama, takutnya malah nyaman. Puji Tuhan, walau terkesan serabutan, setelah tamat aku bekerja. Benar kata orang, nasib baik saat tamat bukan kita yang mencari kerja, tetapi pekerjaan yang mencari kita, dan hal itu nyata ku alami lewat DM perusahaan, bimbel dan sekolah. Tetapi inilah hati kerasku, jika aku tidak suka apalagi bukan passion, akan ku tolak. Termasuk menjadi Bankir. Orang tua sangat berharap, namun aku menjelaskan dengan baik. Aku tidak mau berpura² menyukai suatu pekerjaan yang menekankanku.
Pertengahan Desember 2023, aku mendaftar menjadi guru pedalaman YTP, dengan banyaknya proses seleksi, puji Tuhan aku lolos, dan Mei 2024 aku akan mengikuti training di JKT. Mak, Pak, ini inginku, semoga ada jalan di depan sana untuk putrimu si keras kepala ini. Mungkin setahun ini aku harus melupakan PPG Prajab, walau teman berkali-kali memberi pandangan. Seperti biasa, dia akan selangkah lebih dulu di depanku, tapi aku akan menyusul, tahun depan. Amin.
Semoga anganku tercapai
(Lamtiur Verawaty Simbolon, S.Pd., Gr)
#LVS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar