Sabtu, 22 Februari 2025

Rantai makanan

Diary guru pedalaman
#LVS

Pembelajaran akan bermakna apabila didasarkan pada pengalaman anak didik/kontekstual.
Namun, siapa sangka bahwa pengalaman yang sangat random untuk ukuran anak-anak di pedalaman bisa membuat ibu guru sampai geleng-geleng kepala. 
Materi "rantai makanan" tentunya adalah pelajaran yang sangat asyik, karena sejatinya sangat dekat dengan kehidupan. Kita berada di satu ekosistem dan dapat mengamati ekosistem lainnya. 
Rantau makanan adalah proses makan, memakan dan dimakan pada suatu ekosistem tertentu. Misalkan di ekosistem sawah:
Padi->tikus->ular->elang->pengurai
Contoh ekosistem kebun:
Rumput->belalalang->ayam->elang->pengurai
Dsb

Nah, proses makan dan dimakan itu tentunya akan menimbulkan hubungan sebab akibat. Seyogianya, jika produsen semakin sedikit, konsumen 1 (pemakannya) akan semakin sedikit pula, demikian seterusnya untuk konsumen 2,3,4 dst
Jadi intinya, jika pemangsa sedikit, yang dimangsa akan banyak dan yang memangsa pemangsa itu akan sedikit pula. 

Suasana kelas memang tidak selalu sesuai skenario guru. Meski sudah kita jelaskan mengenai hubungan sebab akibat itu, ada aja respon lucu dan nyeleneh dari anak-anak. 

Rantai makanan pada ekosistem sawah
Padi->ulat->burung cuit->ular->elang->pengurai.

Saat ibu guru bertanya, "seandainya nih burung cuit semakin sedikit, siapakah yang akan untung dan siapakah yang akan rugi? 

Yg diharapkan oleh ibu guru tentunya mereka akan kompak menjawab yg untung adalah ulat karena pemangsanya akan semakin sedikit, sebaliknya ular akan rugi/semakin sedikit karena makanannya semakin sedikit. Tapi nyatanya dengan tidak mau kalah, anak-anak kompak menjawab "ibu yang rugi sa, yang rugi ktong ibu" Sedikit mengernyitkan dahi ibu guru bertanya seakan tidak percaya "bagaimana nak? Kenapa kamu yg rugi? ". Iyo toh Bu " Kalau burung ciut semakin sedikit, tong tra bisa tangkap dong lagi, rugi toh? ".
Ibu guru hanya bisa terdiam sejenak, kalau kata orang sini, tanganga. Hhaha

Begitu sudah e



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepenuhnya percaya